
Siluet semakin mendekat dan sosok Lily pun terlihat jelas. Melihat kondisi Rion yang agak 'menyedihkan' dia mengambil napas sejenak sebelum tersenyum, sebuah rencana bagus terbesit di kepalanya.
"Boleh aku membantumu?"
Tanpa tahu maksud lain dari Lily, Rion menganggukkan kepalanya. "Lakukanlah apa yang kau mau."
Lily mengangguk ringan, puas dengan yang jawaban Rion. Meletakkan tangannya di kening Phantom Wolf, dia dapat merasakan kesadaran baru mulai tumbuh dalam diri monster itu. Mendongak ke arah Rion, dia berucap, "Rion kau turunlah."
Menunggu cukup lama tapi belum mendapat jawaban Rion, mungkin khawatir bahwa Phantom Wolf ini akan segera lepas setelah dia turun. Lily pun memberi penjelasan singkat. "Ini untuk langlah yang ingin aku ambil."
"Apa itu?" Kecurigaan Rion mulai tumbuh.
"Lihat saja, tapi ... kau harus menuruti perintah yang aku berikan nanti ya?"
"Iya, iya. Selama itu tidak membahayakan diriku."
Lily tersenyum kecil, tepukan ringan dia lakukan pada kepada Phantom Wolf. Mata Phantom Wolf mulai terbuka, mungkin terbangun olehnya tapi monster itu tidak segera bertindak.
Mata Lily menunjukkan kilaunya. Dalam semburat merah keemasan yang mulai hadir, matanya dan mata Phantom Wolf itu bertemu.
Dalam diam, segala jenis 'pekerjaan' telah Lily lakukan. Semua itu berlangsung sesaat, tanpa menghasilkan sebuah perubahan apa pun, hanya dia yang tahu apa yang telah terjadi.
Mengembuskan napas panjang, Lily mengalihkan pandangan kepada Rion, mengulurkan tangannya pada pemula itu.
"Apa?" ucap Rion bodoh.
Ekspresi Lily berubah sedikit cemberut. "Tangan, ulurkan tanganmu!"
Belum sempat Rion mengulurkan tangannya, tangan kanannya telah terlebih dahulu ditarik. membuatnya sedikit terseret oleh Lily.
Kaki depan Phantom Wolf pun terangkat, seolah mengikuti apa yang Lily inginkan.
"Tenangkan pikiranmu, terima saja apa yang nanti kau rasakan. Jangan melawannya, paham?"
Rion tanpa sadar mengangguk, merasa perkataan Lily membawa suatu keharusan.
Lily mengambil napas dalam kemudian mengembuskannya panjang. Dia memejamkan matanya, kedua tangannya menggenggam erat tangan mereka berdua yang menyatu, dia mulai merapalkan mantra aneh secara lirih.
Rion memperhatikan Lily, dan dia dapat melihat secara nyata bahwa mana di sekitarnya telah terhisap ke arah tangan mereka disatukan. Seperti lubang hitam yang tak akan puas dengan apa pun, mana di sekitar mereka terus terkuras ke tumpuan tangan mereka.
Cahaya merah keemasan mulai menyelubungi mereka, mana di sekitar pun seolah memaksa mananya keluar lalu mana lain masuk ke dalam dirinya. Tanpa sadar Rion ingin melawan tapi mengingat perkataan Lily sebelumnya, dia berangsur-angsur tenang dan menerimanya.
Lily membuka matanya, sedikit semburat berwarna emas dapat dilihat pada sudut matanya. Merasakan bahwa Rion mengikuti keinginannya, dia tersenyum diam.
__ADS_1
Lily menatap Phantom Wolf, kemudian dilanjuti anggukan kecil monster itu seolah menjawabnya. Dengan demikian, dia memejamkan matanya kembali.
Rion merasakan sedikit rasa panas pada telapak tangannya, seolah sesuatu telah terjadi. Panas yang dia rasakan semakin membakar tapi segera hilang, digantikan sengatan tajam dengan hawa dingin yang menembus tulang.
Tubuh Phantom Wolf mulai ditutupi kabut biru kehitaman pucat. Ukuran Phantom Wolf mulai menyusut, menjadi lebih dan lebih kecil lagi dari ukuran awalnya. Ukuran tubuh Phantom Wolf semakin kecil hingga kaki depannya kini harus terangkat cukup tinggi untuk dapat tetap berada di posisinya saat ini.
Saat kabut menghilang, kaki depan Phantom Wolf kini menjadi bentuk tangan normal humanoid dengan lima jari jemari mungil. Kaki belakangnya pun menjadi kaki humanoid normal, tidak menyisakan bentuk dari kaki serigala.
Bulu biru kehitamannya kini menghilang, digantikan dengan kulit putih mulus tanpa cela. Wajah menyeramkan Phantom Wolf pun menghilang, digantikan wajah imut kekanak-kanakan dengan warna mata biru dan rambut hitamnya. Hanya bagian telinga dan ekornya saja yang masih menyisakan karakteristik sebelumnya.
Sosok sangar Phantom Wolf yang gagah perkasa kini telah menjadi seorang lo ... anak kecil yang terlihat berumur 6 tahun. Namun, dia kini telanjang tanpa sehelai kain pun.
Melihat perubahan pada Phantom Wolf, Lily mengangguk dan melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Rion dan Phantom Wolf.
"Lily ... apa yang kamu lakukan?" tanya Rion dengan nada gemetar, tidak dapat mengendalikan keterkejutannya.
"Singkatnya aku membuat perjanjian antara kamu dan dia."
"Perjanjian? Apa yang kau maksud dengan perjanjian itu?" Rion penasaran, dia sama sekali tidak mengetahui tentang apa yang telah Lily lakukan.
"Perjanjian itu bernama Covenant of the Seed, mudahnya semacam bentuk kontrak," Mengambil jeda, Lily melanjutkan, "Rion jika kau memfokuskan perhatianmu, kau akan dapat merasakan ada hubungan yang telah terbangun antara kau dan dia."
Mendengar ini, Rion menajamkan matanya, memperhatikan dan merasakan aliran mana di sekitar dengan cermat. Segera, semacam garis benang tipis terlihat, menghubungkan antara dirinya dan sosok Phantom Wolf humanoid itu.
"Jadi, siapa namanya?" Pertanyaan yang tiba-tiba Lily lontarkan membuat Rion keluar dari perhatiannya.
"Untukku ... jelas untuk dia lah. Kalau bukan untuk siapa lagi?" jawab Lily.
"Tunggu, tunggu! Sebelum itu, apa itu Covenant of the Seed?"
"Itu salah satu jenis kemampuanku, membuat satu makhluk terikat dengan makhluk lain, dan menjadikan salah satunya sebagai orang yang lebih berkuasa. Setelahnya orang yang menuruti tidak akan dapat melakukan sesuatu yang merugikan pihak lain dalam bentuk apa pun, tapi itu pun harus diiringi dengan persetujuan kedua belah pihak tanpa paksaan serta jumlah mana sebagai pembanding dasar."
"Begitu? Apakah itu sudah semuanya, Lily?" tanya Rion curiga, dirinya merasa ada hal lebih lanjut yang Lily sembunyikan.
"Ya! Itu sudah semuanya," tepis Lily pada kecurigaan Rion. Selain menyembunyikan 'pekerjaan' yang dilakukannya sebelumnya, dia juga enggan menjelaskan secara rinci bentuk sebenarnya dari [Covenant of the Seed] ini.
Perjanjian ini selain mengikat makhluk lain untuk tunduk pada makhluk lainnya dengan syarat persetujuan, juga mengubah fisik yang lebih rendah mengikuti estetika pihak lain.
Seperti Phantom Wolf yang menjadi bentuk humanoid dari bentuk serigalanya. Hanya meninggalkan sisa bentuk asal —telinga dan ekor— yang menurut estetika Rion tidak mengganggu. Meski sebenarnya ini mungkin ada hubungannya dengan Lily, selain itu Phantom Wolf juga dapat kembali menjadi bentuk aslinya.
Di lain hal, [Covenant of the Seed] juga mengikat sepanjang hidup, membatasi hal-hal yang dilakukan, membuat pihak tidak dapat mengeluarkan seluruh kekuatannya saat bertarung melawan pihak yang terikat. Bahkan dapat mengambil hidup salah satu pihak yang lebih rendah jika pihak yang lebih tinggi menghendakinya, dan rincian penuh dari [Covenant of the Seed] lebih daripada itu.
Mengesampingkan semua itu Lily bertanya dengan penuh semangat. "Jadi siapa namanya?"
__ADS_1
"Phantom," ucap Rion pada pertanyaan Lily tanpa pikir panjang.
Wajah Lily kosong. 'Sungguh penamaan yang buruk,' pikirannya.
"Kau serius? Pikirkanlah nama yang lebih baik! Dia itu seorang gadis kau tahu?! Gadis!" teriak Lily atas penamaan sewenang-wenang Rion.
"Hmm ... kalau begitu, Yurei."
"Kurasa itu lebih baik dari sebelumnya."
"A-anu ...," Phantom Wolf, bukan, Yurei angkat bicara dengan nada sedikit kebingungan, membuat Lily dan Rion menatapnya dengan penuh perhatian.
Namun, hal yang keluar dari mulutnya membuat mereka terguncang. "Papa? Mama?"
Lily dan Rion saling memandang, mendekat ke arah Lily, Rion berbisik, "Bagaimana dia bisa seperti ini?"
Setelah berpikir sejenak Lily menghela napas, sepertinya dia melupakan beberapa hal. Setelah menjadi Demon Beast, monster akan mendapatkan akal, yang setara bentuk kelahiran pada makhluk cerdas. Jadi cukup wajar bila sesosok Demon Beast yang baru terbentuk akan kebingungan.
Namun, dalam kasus Yurei, Lily telah melakukan 'pekerjaan' besar pada diri Yurei. Membuat Yurei tak hanya mengalami perubahan ke Demon Beast tapi juga benar-benar membuatnya menjadi individu baru.
Dengan kata lain, wajar jika Yurei menganggap yang baru di temuinya sebagai orang tuanya ....
'Tapi bagaimana dia tahu kosakata itu?'
Lily memandang Rion dengan senyum canggung. "Sepertinya kita harus menyamar menjadi sebuah keluarga mulai sekarang, tapi ini untuk sementara saja, sementara."
Rion memandang Lily dengan tatapan yang seolah berucap, 'Apa maksudmu?'
"K-kau tahulah, ini hanya sementara, sementara saja," tegas Lily sekali lagi. Namun, tingkahnya mengkhianati ucapannya karena dia mengalihkan pandangan dari Rion.
'Lalu kenapa kau harus mengulanginya kata itu dua kali?'
Rion menggelengkan kepalanya sejenak sebelum menunjuk Yurei masih telanjang bulat. "Yah biarlah, tapi pertama kita harus mencari pakaian untuknya dulu bukan?"
"Untuk itu akan segera aku urus."
"Selain itu, Lily. Kau lihat tombak yang aku gunakan untuk menahannya tadi?"
Mereka berdua memandang sekeliling. Dengan penglihatan mereka seharusnya tak sulit menemukan tombak itu, tapi setelah mencari cekup lama mereka tak menemukannya sama sekali.
"Mungkin akhir-akhir ini kau benar-benar sial Rion," Dengan pandangan kasihan, Lily mengatakan ini.
Menghela napas, Rion menunjuk Yurei. "Kita berangkat lagi, dan Lily kau yang akan gendongnya, kan?"
__ADS_1
Namun, Lily mengangguk setuju pada pengaturan ini. "Baiklah, tapi sebelum itu tunggu aku memakaikan dia pakaian!"
Rion mengalihkan pandangan, menjauh dari 'prosesi' yang tengah Lily lakukan.