A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 56 : Tak Terhindarkan - 2


__ADS_3

BOOOMMM!


Ledakan menggelegar, menggetarkan bangunan ini seperti dapat roboh kapan saja. Api menyala terang, membesar saat dia kian mengamuk karena dilepaskan pada tempat yang tak cukup luas untuk dapat menampung dayanya.


Lantai bangunan di atas Rion runtuh. Tentu hal ini tak luput dari mata dan telinga penduduk sekitar, membuat perhatian terpusat pada gedung ini.


“Uhuk uhuk uhuk,” Pirlo terbatuk, meski dia berusaha menghindar tapi luka memang tak terelakkan. Namun, kondisinya jelas lebih beruntung karena dia masih bertahan hidup meski telah menguras seluruh mana di tubuhnya.


“Tolong! Wakil Pirlo tolong aku!”


“Kakiku! Kakiku!”


“Argh! Sakit! Sihir penyembuhan, siapa saja beri aku sihir penyembuhan?!”


Rintihan memenuhi telinga Pirlo, bangunan telah roboh menimpa orang-orang di dalamnya. Dengan api yang masih membakar menyisakan hawa panas, membuat sebuah pemandangan mengerikan seperti yang digambarkan neraka selama ini.


Akan tetapi, sosok pemuda di depannya masih dingin seolah tak tersentuh sedikit pun. Pirlo gemetar, dia menatap Rion saat sebuah gumaman keluar. “Jadi ... ini yang dimaksud Heran ... dia ... iblis.”


Rion berjalan menuju Pirlo, tanpa terganggu dengan sekitarnya dia berjongkok. Masih dengan mata sedingin es, dia bertanya, “Jadi ... di mana Bossmu?”


Tawa ketidak berdayaan keluar. “Dia di lantai bawah tanah. Namun, dia tak ada di sini.”


“Begitukah? Terima kasih,” Mendengar ini Pirlo telah terlebih dahulu memejamkan matanya, menanti serangan yang akan datang tapi serangan itu sendiri tak pernah datang.


Rion telah pergi. Dengan cepat meninggalkan tempat yang terdapat kehancuran ini.


Tawa lemah berisi semua emosinya saat ini kembali Pirlo keluarkan. Penyesalan, ketidak berdayaan, keputusasaan.


‘Ketua ... apa pun yang telah kau singgung itu ... bukan apa yang seharusnya dapat kau tangani.’


***


Heran berlari segera setelah berita seorang penyusup terdengar di telinganya. Tanpa pertimbangan panjang, dia langsung menuju ke sebuah mansion pribadi yang disewa oleh Overflow untuk sementara waktu.


Jelas, bahwa tujuannya adalah memberi tahu kakaknya bahwa iblis yang dia maksud telah kembali. Namun, saat bangunan itu kini menyala merah terang, Heran mempercepat langkah firasat yang dia rasakan semakin buruk.


Namun, dia tak menyadari bahwa Rion mengekor di belakangnya dengan kecepatan tinggi.


Mempersempit jarak dengan orang yang dia beri [Magic: Trace] hingga masuk dalam jarak pandangnya, Rion mulai melambat saat melihatnya terus berlari hingga jauh dari pusat kota.


Rion terus mengikuti, dia sangat berhati-hati agar tak diketahui. Melihat sebuah mansion yang Heran masuki dijaga oleh beberapa dengan ketat oleh orang-orang berkekuatan di tingkat gold level, dia semakin berhati-hati.


“Jadi di sinikah tempat Lech atau siapa pun itu berada?”

__ADS_1


Rion turun dari ketinggian, membunuh orang-orang yang menghalangi jalannya dengan [Magic: Bullet] ataupun [Magic: Wind Cutter] Tepat di titik vital mereka, sia terus berusaha masuk lebih dalam tanpa disadari siapa pun.


Dengan kecepatan geraknya saat ini, memang sulit untuk melihat Rion dengan mata telanjang. Walaupun saat ini dia tidak bisa memanfaatkan sepenuhnya, mengingat saat ini dia tak memiliki senjata di tangan. Namun, memanfaatkan sihir yang tak banyak menimbulkan kebisingan kecepatan pembunuhannya sangat mengerikan.


Tanpa menyadari apa yang tengah di terjadi di kediamannya, Lech sedang duduk di ranjang salah satu kamar dengan bertelanjang dada bergumam, “Tak lama lagi dia akan menjadi milikku!”


Lech tersenyum saat membayangkan sosok gadis berambut perak nan menawan itu, menatap gadis telanjang yang tak sadarkan diri di samping, wajahnya memburuk. Jika dibandingkan dengan sosok Lily maka gadis ini akan menjadi seekor ****.


Meninggalkan ranjang yang dia ditempati sebelumnya, Lech duduk di sofa dekat. Sembari menghisap sebatang cerutu dia Lech mengatur pikirannya.


“Jadi ... apakah sudah ada informasi yang kuterima untuk dapat mengatasi pemuda yang akan merepotkan itu?”


Lech terdiam, dia tenggelam memikirkan cara membunuh pemuda berambut hitam yang dimaksud Heran.


Akan tetapi, saat dia semakin tenggelam suara seseorang yang membuka pintu ruangan dengan paksa terdengar.


Brak!


“Kakak—“


“Apa yang terjadi!” tanya Lech mendengar seseorang memanggil. Namun, dia terlambat.


Zrat


“K-kau!” ucap Lech dengan menunjuk kepala yang Rion bawa.


“Halo,” sapa Rion tanpa emosi.


“Kau! Kau!” Melihat reaksi Lech, Rion melirik kepala yang dibawanya. “Ini yang kau maksud?”


Rion melemparkan kepala tersebut hingga terus menggelinding ke arah Lech. Sebuah kepala dengan muka yang matanya seperti akan keluar, mulutnya terbuka lebar, dan ekspresi tidak percaya terukir.


Raut wajah Lech berubah menyeramkan, mukanya berwarna merah padam terbakar amarah dihatinya. Pemilik kepala itu adalah Heran, adik satu-satunya telah terbunuh di depan matanya.


Perasaan Rion sendiri sekarang hampir mencapai titik terbawahnya. Melihat gadis yang terlentang tak sadarkan diri dengan tubuh telanjang sepenuhnya, dia segera mengetahui apa yang terjadi.


‘Mengesalkan,” pikir Rion sekaligus perasaannya sekarang. Melihat gadis itu dalam keadaan semacam ini membuatnya gambaran kenangan yang paling ingin dia lupakan kembali diputar di depannya.


Rion memandangi sosok Lech dengan dingin, begitu pula Lech yang memandangnya dengan penuh amarah.


“Flame Fist!” Pukulan kuat dilepaskan, Lech lah yang mengambil langkah pertama. Dia tak lagi memikirkan bagaimana Rion bisa sampai di sini, hanya amarahlah yang sedang menguasainya.


Dinding di belakang Rion retak, lantai itu sendiri membentuk garis di mana terdapat bagian yang terbakar dan tidak oleh api yang melapisi pukulan Lech.

__ADS_1


Rion menahannya dengan beberapa perisai sihir yang dilapiskan pada lengannya daripada menghindar, seolah menunjukkan siapa yang lebih berkuasa.


“Kau!” Melihat Rion yang masih baik-baik saja, Lech semakin murka. “Rain Fist!”


Badai energi dilepaskan ke arah Rion, tapi dia sendiri hanya menghindari serangan yang datang padanya dengan cekatan. Dengan kecepatan serta fokusnya dalam pertarungan, hal ini bukan masalah.


“Terima ini pula! Clamp Kick!”


Melihat serangan datang kepadanya dari sudut sulit, Rion mengeluarkan perisai sihir lagi. “Magic: Shields, Magic: Multiplication.”


Perisai sihir berlapis mulai terbentuk, menahan serangan yang Lech lepaskan ke arahnya. “Lepaskan.”


BOOM!


Ledakan terjadi saat [Magic: Booming] dan [Magic: Wind Ball] yang Rion kompresi telah diaktifkan. Dengan [Magic: Delay] membuat serangan jebakan yang tak terduga seperti ini memang sangat mudah, dan seperti yang Rion harap, Lech terkena sedikit luka bakar pada bagian pundak kiri ke bawah.


Lech mendengus kesal, seolah menunjukkan bahwa ini bukan apa-apa, dia menerjang ke arah Rion.


Rion tidak menunjukkan banyak perubahan pada ekspresinya. Namun, dia sedikit terkejut bahwa seseorang yang bukan platinum level dapat menahan serangan semacam itu. Bahkan jika itu si kapten ksatria Marco yang pernah mengejarnya, dia yakin bahwa orang itu akan terluka cukup parah.


Pertarungan terus berlanjut, Rion akhirnya mengetahui bahwa Lech lebih memfokuskan dirinya perwujudan ketahanan. Menyebabkan tubuhnya jauh lebih keras daripada seharusnya.


Namun, jalannya pertarungan tak seperti yang terlihat di mana keduanya berimbang.


Meski tidak menunjukkannya, tapi Lech merasakan sendiri bagaimana rasa sakit dari kekuatan seorang platinum level, apalagi setiap serangan yang Rion lepaskan sebenarnya lebih kuat dari seorang platinum level umum. Semua hal itu karena kualitas mana Rion sendiri.


Kamar ini sudah hancur terkena badai energi pertarungan, berbagai teknik pertarungan tangan kosong terus dilepaskan Lech menuju Rion. Namun pemuda itu mampu menghindari atau menahan serangan itu tanpa kesulitan berarti.


Menjaga jarak dari Lech, cahaya biru muda mulai terbentuk di tangan Rion. “Magic: Lightning Chains.”


Rantai petir terwujud, meluncur menuju Lech dan berusaha mengikatnya dalam siksaan sengatan petir.


Menyadari bahwa dengan kecepatannya mustahil menghindari serangan ini, Lech mendengus. “Unbreakable Body!”


Tubuh Lech mulai mengeras, sebagai seorang pengguna teknik pertarungan tangan kosong yang berfokus pada perwujudan sifat ketahanan dengan seluruh konsentrasinya dia berusaha membuat tubuhnya menjadi sangat kokoh. Namun, itu belum cukup untuk menghilangkan rasa sakit yang segera datang.


“Arrggghhh ...!” Lech menggerakkan giginya berusaha bertahan.


“Crescent Slash!” Dan bantuan pun tiba.


Menghindari serangan tiba-tiba yang datang padanya, Rion mengalihkan pandangan. Terlihat puluhan orang dengan kekuatan gold level 2-3 datang dengan posisi siap bertarung.


Tiga orang berada paling depan dengan peralatan terbaik yang dimiliki kini melekat di tubuh, Kold, Sona, dan Gadi kini bergabung.

__ADS_1


__ADS_2