A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 94 : Segera Beranjak - 3


__ADS_3

Lanskap hancur, baik itu pepohonan yang pernah berdiri maupun rumah penduduk di sekitar telah tata dengan tanah. Tanah berwarna hitam, saat api terus melalap, tanah itu sendiri telah kehilangan bentuknya, dia telah tercongkel dan tenggelam dengan sendirinya.


Semua karena tanah tempat berpijak itu telah tak mampu menahan beban dari pertarungan yang tengah terjadi.


Wess mengamuk, aura merah darah nan gelap yang bocor darinya seolah merupakan presentasi dari amarahnya. Dengan postur rendah, dia menggeram sebelum menghilang dari tempatnya berada bersama energi mematikan yang terbawa.


“Tinggikan penjagaan kalian! Jangan sampai makhluk itu berbuat seenaknya!” Bersama teriakan Tenor yang menggema, raut wajah para prajurit itu menjadi tegas, siap menerima langkah Wess.


“Metal Strike!” Energi kuat menyapu, membuat apa yang dilewatinya hancur.


Bulu Wess tumbuh kian tajam, bagi siapa pun yang melihatnya dia lebih mirip dengan monster daripada seorang Beast-kin. Namun, orang yang dimaksud tak peduli dan segera menyerang kembali.


Bayangan demi bayangan melintas, menciptakan garis lintasan demi lintasan yang kian menghancurkan. Perisai dinaikkan, berusaha membuat bayangan itu tertahan dan berhenti, tapi itu amatlah sulit.


Kecepatan bayangan itu telah melampaui akal, bahkan dengan cara menekan menggunakan keunggulan kualitatif tak banyak bekerja. Bagaimanapun, Wess dalam kondisinya sekarang amatlah kuat. Tak hanya fisiknya tapi pikiran serta mentalnya telah mantap.


Bahkan sulit bagi orang yang memiliki kekuatan Platinum level asli untuk menunjukkan kekuatan yang dia tunjukkan.


Tang!


Dentangan menggema, membuat orang yang menahan laju Wess terpukul jauh. Dengan kekuatannya yang berada di tingkat gold level 5, sulit untuk dapat menahan serangan itu tanpa terluka.


Serangan Wess berlanjut, bahkan jika para penyerang itu ingin mengganti strategi dengan menyerang Yuzu terlebih dahulu itu tak bisa. Laju Wess mencengangkan, membuatnya dapat menahan serangan demi serangan yang datang.


“Kau tak apa Yuzu?”


“Karenamu Wess, tapi kondisimu?”


Namun, Wess hanya mengalihkan pandangan dan segera menghilang. Tidak menjawab Yuzu secara langsung.


Angin seolah telah memberkati Wess, menyambut tekad yang dia miliki. Dengan kekuatannya saat ini, dia terus menekan para penyerang itu.


Rico semakin murka, pedang besar di tangannya berayun tinggi. Tanpa banyak berpikir serangan kuat dilepaskan, berkeinginan agar serangan itu mencapai Wess tapi rasanya sulit. Namun, itu jika dia sendirian.


Setelah beradaptasi dengan kekuatan Wess, para penyerang yang masih bertahan menjadi jauh lebih berhati-hati. Bagaimanapun, dengan pengalaman yang mereka miliki mereka sadar bahwa lonjakan kekuatan tiba-tiba seperti ini tak akan bertahan lama.


Berhenti mengejar, Wess membalikkan arah tujuannya, dia menuju arah para penyihir dan pemanah yang bersembunyi. Sontak, Tenor dan yang lainnya berbalik arah, mencoba melindungi rekannya yang lain.

__ADS_1


“Flame Magic: Booming!”


Tak lama kemudian ledakan keras terjadi di sekitar Wess setelah matra selesai dirapalkan. Menyebabkan awan debu naik ke atas, menutupi pandangan Wess sejenak.


Memanfaatkan ini, Tue bersama penyihir lain segera pergi dari tempatnya semula. Tapi nahas bagi seorang penyihir yang tertangkap oleh sihir air Yuzu, dan Wess segera menuju ke arahnya, memberinya serangan yang mematikan.


Dengan ketahanan tubuhnya maka hasil akhirnya sudah terlihat jelas ... pihak Reutania Kingdom telah kehilangan satu orang lagi.


Wess membalikkan badan. “Wild Fang!”


Dengan itu sebuah gerakan buas nan ganas Wess jalankan, dia menyerang dengan brutal orang yang sekarang berada cukup dekat dengannya.


TANG!


Tenor, yang berada tak jauh dari posisi Wess menahan serangan Wess dengan tombaknya. Tombak di tangannya berayun dengan indah, berhasil menahan serangan demi serangan ganas yang dilepaskan Wess dengan tekniknya.


Tenor merapatkan giginya, bahkan dengan kemampuan terbaiknya, dia tidak mampu menghadapi Wess dalam kondisinya saat ini. ‘Sial! Ini lebih sulit daripada apa yang telah aku perkirakan!.’


Serangan demi serangan Wess yang berhasil ditahan oleh Tenor, tapi itu membuatnya terdorong mundur. Sementara luka-luka pada tubuh Wess yang disebabkan oleh pemanah terlihat beregenerasi dengan kecepatan kilat.


“Kau tak sendirian Kapten Tenor!” ucap Huge dengan nada penuh keyakinan.


Teriakan Huge telah mengenai titik lemah anggota tim yang lain, membuat semangat juang mereka terbakar.


Di Benua Sylius sendiri, manusia adalah ras yang sangat berkuasa. Mereka menguasai seluruh daratan, menekan ras-ras lain untuk tunduk pada kekuatan mereka, entah itu demi-human seperti Beast-kin, Lizard-man, Snake-man, hingga monster-monster yang terkenal ganas semua berhasil mereka tangani.


Namun, di sini ras manusia masih lemah, dengan fondasi yang masih baru terbentuk. Meski begitu, apa itu semua menyebabkan rasa bangga sebagai ras yang berhasil menguasai Benua Sylius hilang?


Jawabannya adalah tidak! Dengan kebanggaan itu adalah alasan mereka berani menginvasi benua ini.


Mata anggota tim penyerang kini terisi dengan kilau arogansi yang jelas. Mereka memandang yang lainnya dalam diam, seolah saling memahami maksud satu sama lain mereka mengangguk dalam diam.


Ini adalah perasaan yang dimiliki orang-orang yang berada di atas, dan itu tidak akan mudah hilang. Huge tahu ini dari sikap orang-orang yang selalu memandangnya rendah saat masih di daerah kumuh.


Huge, yang seolah tahu ini akan berhasil telah terlebih dahulu bergabung bersama Tenor untuk menekan Wess.


Dengan pemahaman dalam diam antara Huge dan Tenor, setiap gerakan-gerakan yang diambil keduanya tak bertentangan dan saling melengkapi secara harmonis. Mengisi celah yang ditinggalkan yang satu, membuat gerakan mereka cantik nan indah bagai tarian, berbanding terbalik dengan gerakan Wess yang liar.

__ADS_1


Ikatan batin antara keduanya lah yang membuat semua ini mungkin terjadi. Mereka telah kenal lama, bahkan sosok Tenor telah menggantikan posisi orang tua bagi Huge.


Bahkan anggota tim lain termasuk Rico kesulitan menemukan waktu yang tepat untuk mengintervensi ke dalam pertarungan.


Setelah memulihkan sedikit mana miliknya saat perhatian musuh terarah pada Wess, Yuzu melepaskan sihir air. Mencoba mengganggu pergerakan Tenor atau Huge, tapi sihirnya menguap saat bersentuhan dengan sihir api milik Tue.


“Sepertinya kau lawanku,” ucap Tue pada Yuzu dengan senyum sinis. Dengan kondisi Yuzu yang kelelahan baik fisik maupun mental, sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang masih penuh dengan energi.


Dengan semua kondisi yang mendukungnya ini, Tue merasa mustahil Yuzu dapat mengalahkannya, bahkan jika elemen air milik Yuzu adalah musuh alami elemen api yang dikuasainya. Selain itu, elemen miliknya lah yang dapat mengatasi elemen air milik Yuzu, walau dirinya harus mengonsumsi jumlah mana yang lebih banyak untuk dapat menguapkan sihir air Yuzu.


Tue memberikan tanda pada penyihir lain untuk fokus membantu serangan pada Wess. Sementara dia mengatasi Yuzu.


“Kita lihat siapa yang dapat bertahan lebih lama,” ucap Tue yang membuat duel antara penyihir api dan penyihir air pun dimulai.


Mereka saling melancarkan serangan sihir tapi dibatalkan satu sama lain, membuat mereka memasuki kebuntuan.


Dengan suara-suara benturan yang terus terdengar, pertarungan Wess telah mencapai klimaksnya.


Melawan banyak orang sekaligus, ditambah dengan koordinasi mereka yang semakin dan semakin terbentuk, membuatnya dalam keadaan saling mengunci satu sama lain. Namun, Wess sadar dan tahu lebih baik dari siapa pun, keadaan ini tak akan bertahan lama, energi kehidupannya sendiri hampir mencapai batasnya.


Menjaga jarak dari musuh-musuhnya sejenak, Wess mengambil kuda-kuda untuk melepaskan teknik pertempuran.


“Wild Side!”


Wess menerjang cepat ke arah musuhnya berada, tapi tiba-tiba gerakannya terhenti. Wess jatuh tersungkur di tengah-tengah teknik yang dia jalankan.


Para penyerang itu telah menanti saat ini, saat yang tepat untuk memberikan serangan balik yang mematikan.


Melihat penyerang yang tersenyum puas akan penantian yang mereka lakukan, Wess tersenyum kecut. “Aku gagal ya...”


Memalingkan pandangan ke arah Yuzu berada, terlihat Yuzu yang terduduk lemas. Yuzu sendiri telah menggunakan seluruh mana miliknya dalam pertempuran ini.


Memandang langit, Yuzu bergumam, “Sepertinya kita akan berakhir dengan hal yang paling tidak diinginkan olehmu, Kapten....”


Mereka berdua memejamkan matanya, menantikan akhir yang telah berada di depan mata, akhir yang mereka tahu akan terjadi. Tidak ada rasa penyesalan dalam hati keduanya, setidaknya jika ada adalah kondisi Xion dan Zee yang tak mereka tahu.


Entah berapa lama waktu berlalu tapi rasa sakit yang dibayangkan tak pernah datang. Membuka mata, keduanya melihat sesosok bayangan.

__ADS_1


Dengan tangannya, sosok itu menahan semua serangan yang seharusnya mengakhiri hidup keduanya.


__ADS_2