
Gemeresik dedaunan terdengar saat seorang berpakaian hitam dari ujung rambut hingga ujung kaki menerobos semak. Memastikan tak ada yang mengikutinya, dia berlari tanpa menimbulkan suara apa pun dan segera menuju kelompok yang telah menunggunya.
Kelompok berjumlah lebih dari dua puluhan orang tengah bersembunyi, tak ada penerangan apa pun baik itu api unggun atau obor di kelompok itu, membiarkan bayangan tabir malam leluasa di tempat itu.
Tidak hanya orang yang baru kembali itu yang mengenakan pakaian hitam seluruh tubuh, tapi semua orang yang ada dalam kelompok itu. Terutama bagian wajah yang hanya memperlihatkan dua mata sebagai indra pengarah, seolah mereka berusaha menyembunyikan jati diri, tak ingin orang lain tahu siapa mereka sebenarnya.
“Semua sudah siap!” lapor orang yang baru kembali itu kepada pria di hadapannya yang memiliki perawakan tubuh besar sangar, kemungkinan besar merupakan pemimpin kelompok ini.
Pria itu mengangguk, melihat seluruh anggota yang telah selesai dengan persiapan ya masing-masing, dia pun memerintahkan, “Semuanya bersiap diposisi!”
“Ya, Bos Kedua!”
Mendengar panggilan ini, si bos kedua —Heran— merasa agak terganggu dengan perkataan bawahannya. Meskipun dirinya memang menyandang posisi wakil ketua pada kelompok besar ini, tapi panggilan kedua meninggalkan rasa tak nyaman pada dirinya.
Heran menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran itu dari dalam dirinya. Jika bukan karena pemimpin kelompok ini adalah kakak laki-lakinya, mungkin dirinya hanya akan menjadi anggota biasa dalam kelompok ini, mengingat dia hanya pada tingkat kekuatan silver level 8.
Bahkan Heran menyadari bahwa dia lebih lemah dari bawahan di sekitarnya yang memiliki tingkat kekuatan berkisar antara tingkat gold level 1-3.
Namun, mereka tak akan berani bertingkat tidak hormat padanya karena posisi dan temperamen kakak laki-lakinya .
__ADS_1
Sesuai dengan perintah yang telah diberikan, kelompok itu mulai bergerak perlahan dan mengendap-endap. Dibantu dengan sihir anti deteksi yang dilepaskan salah seorang anggota, suara-suara sekecil apa pun yang ditimbulkan pergerakan kelompok ini pun diredam tak bersisa.
Anggota yang berjalan paling depan —seorang yang ahli dalam hal deteksi— mengangkat tangannya, memberi sinyal kelompok untuk berhenti. Melihat ini setiap orang dalam kelompok pun mulai bersembunyi di kegelapan malam hutan, bersama dengan pakaian gelap serta minimnya penerangan, kelompok ini berhasil membaurkan diri dengan lingkungan sekitar secara hampir sempurna jika tak diperhatikan lebih jauh atau penerangan yang memadai.
Drap Drap Drap Drap
Suara langkah terdengar berirama terdengar. Salah seorang anggota mencoba menghitung suara langkah itu, memperkirakan jarak antara sosok pemilik suara langkah ini dengan kelompok mereka masih cukup jauh, dia memberi tanda pada Heran untuk bersembunyi mengingat kemampuannya adalah yang paling rendah di sini.
Saat jarak antara mereka dengan pemilik suara langkah itu pun semakin mendekat, tangan para anggota kelompok telah lama melekat pada senjata yang mereka gunakan.
Tak lama kemudian, sesosok pemuda berambut hitam yang merupakan sosok pemilik suara langkah itu menampakkan dirinya. Diiringi cahaya rembulan yang menerobos celah dedaunan rimbun, dia terlihat berjalan lurus ke depan secara alami dan santai, tidak terburu-buru ataupun mengendap-endap. Bahkan dari caranya berjalan telah membawa estetika tertentu seolah tak menyadari keberadaan kelompok ini sama sekali.
Anggota itu tersenyum melihat bahwa pemuda di depannya itu tak bergerak sama sekali, merasa keputusan yang diambilnya sudah tepat.
Namun, belati tersebut tidak akan pernah mencapai leher pemuda tersebut.
“Arrgghh!” jerit anggota itu atas rasa sakit yang kini menjalar, sebuah jeritan yang menembus gelapnya tabir malam.
Tangan anggota itu telah jatuh, terpotong dari tubuhnya tanpa pernah dia sadari. Penyamaran yang dilakukan terungkap, dia kini berguling-guling di tanah memegang salah satu tangannya yang terputus.
__ADS_1
Melirik sejenak ke arah orang yang ingin menyerangnya, mata pemuda itu menatap dengan dingin menembus tulang, seolah telah melihat musuhnya dengan telanjang. Kembali menatap ke depan, pemuda itu berjalan beberapa langkah sebelum berhenti dan menyisir sekitar dengan pandangannya.
“Kalian keluarlah, aku tahu kalian bersembunyi di sini,” ucap pemuda itu tenang dan jernih, membuat pesan tanpa nada atau emosi apa pun di dalamnya Itu tersampaikan di telinga kelompok itu.
Anggota di kelompok menghirup nafas dingin, mereka masih mematung tak berani keluar nyaman dengan tempat persembunyian yang mereka pilih. Alasan sebenarnya tentu saja karena mereka tak ingin memiliki nasib sama dengan anggota malang sebelumnya.
Semua itu karena semua orang di kelompok ini tidak ada yang dapat melihat bagaimana pedang di tangan pemuda tersebut bergerak, tidak ada sedikit angin yang menyertai saat gerakan itu diambil sang pemuda.
Tiap anggota kelompok semakin meringsut, berharap pemuda tersebut hanya menggertak untuk mencari apakah masih ada orang yang ingin menyerangnya selain anggota malang tersebut.
Tak mendengar satu pun jawaban arau gerakan pihak lain yang diinginkannya, pemuda itu mengambil napas sejenak sebelum berucap, “Kalau begitu, jangan salahkan aku karena akan bergerak lebih dulu.”
Menghilang, tepat setelah pemuda itu selesai berkata demikian, dia menghilang bersama dengan belaian lembut angin malam. Kelompok itu hendak mengambil napas lega, tapi sesuatu segera menghentikan kelegaan yang mereka rasakan.
“Arrgghh,” teriakan kembali terdengar, noda cairan merah tumpah ke tanah bersama bau amis yang segera menusuk telinga.
Membalikkan tubuhnya, pemuda itu mengalihkan tatapannya pada anggota kelompok itu yang berada di dekat posisinya berada, membuat anggota itu basah oleh keringat dingin yang mengucur deras.
“Kan sudah kubilang, jangan salahkan aku jika bergerak terlebih dahulu.”
__ADS_1