A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 43 : Keributan Kecil


__ADS_3

Seluruh ruangan senyap, setelah Lily mendekap Rion dalam pelukannya tak ada lagi yang mengeluarkan suara setelah itu.


Pulih dari keheranannya akan tingkah Lily, Rion membalas lirih, “Ya, setidaknya sebagai hal yang menarik untuk diamati.”


Suasana kini menjadi canggung setelah Rion mengatakan demikian, tawa garing Lily menggema saat menghadapi tingkah balasan Rion yang mengena.


“Hahahaha ... ketahuan, ya?”


Rion tidak memperdulikan kejadian ini, bangkit dari posisinya dia mencoba melepaskan diri dan berpindah tempat ke jendela yang terbuka. Mengamati kota dan isinya dari jendela ini, Rion menyadarkan kepalanya. Mengambil secarik kertas, dia mulai menulis hal-hal yang akan dia jalankan dalam rencananya meski hal ini sebenarnya untuk melupakan tingkah Lily sebelumnya.


‘Ya ... bagaimanapun tingkah Lily yang seperti itu adalah wajar ... sepertinya ...,’ pikir Rion menenangkan diri.


“Keluar dari benteng sudah kulakukan, dan sekarang aku dalam perjalanan menuju Benua Sylius. Setelah ini lalu ....”


Menggelengkan kepala dengan ringan, tangan Rion mulai menari menuliskan garis besar rencana yang akan dia lakukan. Meskipun dia tidak akan melupakan hal semacam ini, tapi dia tetap perlu membuat pegangan atas apa yang akan dilakukannya ke depan.


Walau mungkin memang akan ada perubahan. Namun, perubahan itu dapat dia adaptasikan dan pastikan tidak terlalu melenceng jauh dalam rencananya.


Selesai akan rencana yang dia terapkan, kertas itu terbakar tidak meninggalkan jejak sedikit pun. Apa yang ada di dalamnya telah Rion ingat seluruhnya.


Saat malam telah semakin larut, Rion memilih tidur di bangku yang dia duduki sebelumnya.


Mata Lily yang sebelumnya tertutup rapat kini terbuka lebar tanpa menunjukkan sedikit pun rasa kantuk. Merenggangkan tubuhnya, dia mulai melangkah ke arah jendela, berniat keluar dari tempat ini untuk sementara waktu.


Namun, Rion yang terbangun karena mendengar suara langkah pun menatapnya. “Kau ingin keluar?”


Terkejut, Lily menengok ke belakang dan melihat Rion yang bertingkah seperti biasa. Tidak merasa khawatir ataupun cemas dalam ekspresi yang dia tunjukkan di wajahnya.


“Hah ... ya, begitulah,” ucap Lily tanpa daya.


Memalingkan wajah, Rion kembali menutup matanya. “Jika begitu aku akan beristirahat kembali.”

__ADS_1


Bagaimanapun, Rion tahu bahwa apa yang akan Lily lakukan berkaitan dengan hal menarik yang telah dia katakan belum lama ini. Memahami sesuatu, dia mengingatkan, “Jangan lupa kembali sebelum pagi, aku yakin kau juga ingin menghindari kecurigaan dalam bentuk apa pun.”


“Ya, ya, selain itu kamu tidak ingin ikut?” tanya Lily, bagaimanapun jika Rion telah menyadari niatnya. “Ini benar-benar akan menjadi sebuah tontonan menarik selama beberapa hari ke depan,” sambungnya.


Melihat keterbukaan Lily, Rion mencoba memastikan. “Ini tentang hal yang kau sebutkan sebelumnya bukan?”


“Ya,” Angguk Lily ringan.


Rion berpikir sejenak, kondisi tubuhnya sendiri sudah kembali segar bugar. Walau hanya beristirahat selama beberapa jam tapi hal ini sudah lebih dari cukup untuk mengembalikan staminanya, jika dibandingkan dengan kondisi selama di laboratorium hal ini bukanlah masalah berarti.


Namun, Rion menggelengkan kepalanya. Walaupun dia juga sedikit penasaran dengan rencana Lily selama ini, tapi hal itu pasti bukan hal sederhana.


‘Lebih baik aku melihat hal yang ingin Lily lakukan saat persiapan rencana keseluruhannya telah selesai.’


Lily mengangkat bahunya, tak peduli pada tanggapan Rion sebelum meloncat keluar dari jendela penginapan. Walaupun kamar ini berada dilantai toga yang cukup tinggi, tapi tidak membuat sedikit pun rasa tegang padanya.


Sebuah bayangan melompat dari atap satu ke atap lainnya, gelapnya malam sama sekali tidak membuat dia kesulitan. Secepat kilat, Lily terus melesat dan segera dapat keluar dari kota Dee.


Pemandangan yang semula berisikan bangunan tinggi menjulang dan rumah-rumah berjejer kini digantikan pepohonan rindang sepanjang jalan.


Saat fajar datang, Kota Dee mulai terbangun dari tidurnya. Aktivitas harian mulai bergerak kembali sebagai mana biasanya, entah itu pedagang yang menyiapkan tokonya masing-masing ataupun patroli penjaga yang akan berganti shift.


Rion yang tengah kini bersama Lily setelah memakan makanan yang disediakan oleh penginapan. Walaupun Lily pergi keluar semalam, tapi hal itu tidak terlihat dari penampilannya yang masih terlihat segar nan cerah.


Rion sendiri mengetahui jika Lily menghabiskan banyak waktu untuk hal yang dia lakukan, dia bahkan baru kembali pada saat matahari hampir terbit.


Melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, Rion pun menghentikan langkah. Mengamati seluk-beluk sebuah bangunan besar nan ramai orang yang berada di kawasan pusat kota, tempat yang notabene merupakan kumpulan dari unsur-unsur penting bagi kota.


“Itu sebuah gereja,” ucap Lily pada Rion yang tampak kebingungan, walau tidak terlihat dalam tingkahnya tapi mata dia dapat tahu dari sorot mata Rion.


“Tapi tetap saja aku merasa sedikit aneh. Pada buku-buku di perpustakaan sama sekali tidak disebutkan hal apa pun yang bersangkutan dengan gereja atau keyakinan,” balas Rion sambil melanjutkan langkah.

__ADS_1


“Itu karena hal tersebut dianggap tabu,” jawab Lily.


“Seluruh buku-buku mengenai gereja dan kepercayaan disimpan di Gereja Katedral yang berada di Holy Kingdom Celestia. Seharusnya hal ini tidak terlalu mengejutkan, bukan? Mengingat bangsa demi-human sendiri memiliki sebuah kuil pada tiap desanya,” jelasnya.


“Seperti itukah? Yah, tapi aku tidak terlalu ingat. Sejak kecil tanpa sebab yang jelas aku sudah dilarang untuk mendekati kuil itu.”


“Ini agak mengejutkanku ... tapi, kau pasti tahu siapa yang diyakini oleh bangsamu sendiri, kan?”


Rion mengangguk. “Dewi Oriana ... itu pun jika aku tidak salah ingat.”


Mendengar jawaban Rion yang tidak yakin sama sekali, Lily menggelengkan kepalanya. “Kau ini ... anggap saja begitu. Jadi itu sama dengan para manusia itu, nama Dewi yang mereka yakini sendiri kalau tidak salah ... Dewi Carea.”


Rion melirik Lily di sampingnya, saat Lily mengucapkan nama Dewi Carea nadanya sedikit berubah. Tidak, bukan hanya nadanya tapi aura Lily juga berubah, walaupun hanya untuk sesaat tapi itu tidak lolos dari pengamatannya.


“Ada apa Lily?”


“Hmm? Apakah aku terlihat memiliki masalah?”


Namun, sebelum Rion sempat menjawab pertanyaan ini perhatian keduanya teralihkan oleh sebuah keributan yang terjadi di salah satu sudut kota.


Terlihat seorang dengan pakaian yang sedikit compang-camping memohon pada seorang penjaga kota, dan hal ini tentu saja membuat orang-orang di sekitar mereka saling berisik satu sama lain.


Tanpa banyak berpikir, Rion memfokuskan pendengarannya pada percakapan di antara mereka.


“Apa kau tidak salah?”


“Tidak! Sama sekali tidak! Itu bukan para beast-kin tapi bandit!” jawab orang itu histeris.


Melihat bahwa orang ini tidaklah berbohong, penjaga keamanan itu mengangguk. “Boleh ikut sebentar denganku? Aku akan membuat laporan pada atasan dan kau diperlukan sebagai saksi.”


“Ya! Dengan senang hati aku akan membantumu.”

__ADS_1


Petugas tersebut membawa orang itu. Meskipun Rion dapat melihat dari ekspresi penjaga itu yang berpikir bahwa ini bukanlah masalah sepele yang akan selesai segera setelah laporan dibuat.


Rion melirik Lily di sampingnya, sebuah pemikiran datang kepadanya. Namun, dia memilih tidak membahasnya dan terus melanjutkan langkah untuk lebih mengenal kota ini.


__ADS_2