
Di markas kelompok Overflow, sang ketua kelompok Lech, serta wakil ketua yang lain kembali berkumpul setelah Lech membagikan berita yang cukup membuat orang-orang ini tertarik.
Kembali ke tempat ini mereka pun duduk di tempatnya masing-masing, wajah yang sudah saling mengenal kembali dikumpulkan. Melihat bahwa semuanya telah hadir, Lech melirik Gadi untuk membagikan informasi secara lebih rinci.
Tanpa banyak kata Gadi membagikan sebuah dokumen yang telah di susunnya dengan rapi, hingga orang terbodoh akan dapat memahami ini dengan segera. Mata orang-orang itu menyapu isi dokumen dengan teliti, meski ini hanya isu tetapi bukti konkret telah disematkan untuk menambah keyakinan.
Lech menghembuskan napasnya begitu selesai memahami isi dokumen, melihat Gadi yang di sisinya dia mengajukan pertanyaan.
“Jadi Gadi, bagaimana kau bisa mengumpulkan informasi seperti ini dengan bukti yang cukup meyakinkan?”
Bagaimanapun, baru lima hari sejak pertemuan sebelumnya dan Lech yakin orang dengan kekuatan seperti yang diceritakan Heran tak akan menunjukkan dirinya dengan mudah jika sudah tak ingin terlihat oleh orang lain.
Wajah Gadi agak ragu sejenak, sebagian besar informasi ini pastilah berasal dari David. Namun, dia tak dapat menceritakan dengan dada membusung mengingat bagaimana bawahannya itu dapat menyentuh hal semacam ini.
Meski keraguan memenuhi dirinya, Gadi menceritakan semua dengan jujur. “Sejujurnya aku mendapat laporan dari David, tapi karena dia telah membuat keonaran yang tak perlu dan berlawanan dengan perintah terakhir kali aku tak banyak menggubrisnya. Namun, setelah aku mengecek ulang dan mendapat informasi mengenai orang yang mirip dengan yang diceritakan Heran, maka beberapa regu intelijen kuturunkan untuk memata-matai orang yang dimaksud.”
Mendapati reaksi tak senang dari yang lainnya membuat Gadi menahan napas sejenak. Menenangkan dirinya, dia melanjutkan, “Tapi seperti yang kalian telah lihat, mereka tidak terlalu sering keluar dari penginapan, dan karena Itu kami tidak mendapatkan informasi mengenai jati diri mereka yang sebenarnya. Begitu pula dengan sketsa wajah telah kami selesaikan **** tingkat kesamaannya keidentikan yang rendah, hanya sekitar 50-60%.”
Melihat kembali ilustrasi yang telah sangat baik menurutnya, Lech mengerutkan kening. “Kenapa tingkat kesamaannya dengan yang asli sangat rendah?”
Keringat dingin mengalir di wajah Gadi atas pertanyaan Lech, bahkan jika dia mengatakan hal yang sebenarnya dia yakin hal itu masih sulit dipercaya.
Tidak memiliki cara lain, dia tersenyum pahit saat menjawab lemah. “Baik itu si pemuda maupun gadis yang dimaksud, keelokan mereka benar-benar telah membuatku berpikir bahwa mereka bukanlah manusia.”
“Apa kau sedang melawak?!” teriak Sona yang sudah tidak tahan dengan perkataan Gadi yang lebih seperti omong kosong baginya. “Jika kau tidak kompeten katakan saja yang sebenarnya, jangan mencari alasan yang tidak jelas semacam itu!”
“Aku juga tidak mengada-ada! Jika tidak percaya kau bisa lihat langsung!” balas Gadi geram, tak kalah lantang dari lawan bicaranya.
“Ha! Alasan,” bantah Sona.
Mendengar ini Gadi ingin membalas lebih jauh, hingga membuat mereka berdua mulai terlibat dalam pertengkaran sengit.
“Sudah cukup! Lebih baik kita lihat saja secara langsung orang itu,” lerai Pirlo yang sudah tak tahan dengan pertunjukan anak-anak yang dua orang itu tunjukkan.
__ADS_1
“Hmph! Baik biar aku lihat seperti apa mereka.”
Dengan alasan ketidakpercayaan informasi rapat itu dibubarkan. Keenam orang itu mulai bergerak menuju penginapan, berbaur dengan sekitar dengan membeli beberapa makanan dari pedagang di pinggir jalan atau hanya menjadi pejalan kaki. Meski mereka tak serta merta menghindari perhatian orang lain karena wajah dan nama mereka telah dikenal khalayak luas, tapi tak ada yang berani mengusik mereka kecuali itu adalah orang idiot.
Sembari menahan teriknya matahari di Benua Zestia yang melebihi panas di Benua Sylius, Sona menghampiri Kold yang berada tidak jauh dari posisinya.
“Bukankah ini sudah terlalu lama ...?” keluh Sona.
Kold hanya mengangkat bahu, dia telah mendengar orang yang dimaksud sendiri jarang keluar jadi hal seperti ini sudah dalam kondisi yang diperkirakan.
Saat matahari telah condong ke sisi barat, pintu penginapan akhirnya terbuka saat dua orang berjalan bersama layaknya sebuah pasangan. Meski kehadiran mereka sontak telah menarik perhatian orang lain, tapi mereka mengacuhkan perhatian massa yang terarah, seolah ruang di sekitar mereka adalah milik mereka sendiri.
Pandangan Sona kosong, harus dia akui bahwa bentuk mereka akan sulit ditiru. ‘Mungkinkah ini adalah bentuk keindahan surgawi?’ tanyanya pada diri sendiri.
Kold di samping Sona juga sama, tidak dapat membantu karena dia juga membantu tak bergerak dari posisinya. Terlalu indah, mungkin itu kata yang dapat menggambarkan penampilan pasangan itu.
Saat suara dehaman pelan didengar, mereka tersadar dan segera berkumpul dengan yang lain. Sementara wajah yang lain dipenuhi keterkejutan, wajah Heran kini menjadi pucat pasi seolah darah telah mengering darinya.
Dengan suara bergetar, dia berucap lirih, “I-itu, itu adalah kelompok yang kumaksud.”
Pandangan Lech kini terarah pada gadis berambut perak itu, tidak beranjak sedikit pun darinya.
“Jadi ... Lech apa yang akan kau lakukan?”
“Akanku jadikan dia sebagai milikku!”
“Hah?” jawaban bodoh segera keluar dari mulut orang di sekitar Lech, meragukan apakah telinga mereka telah mendengar hal yang salah.
Pandangan semua orang kini mengarah pada Lech, pilihan ini jelas sama sekali tidak tepat. Melawan orang yang bisa menghabisi kelompok beranggotakan dua puluhan orang di tingkat gold level jelas bukanlah pihak yang seharusnya dilawan.
“Apa yang kau maksud Kakak!”
“Tentu saja aku akan menjadikan gadis itu milikku, bahkan jika pemuda itu adalah seorang di tingkat Platinum level lalu apa? Jika aku mengerahkan semua kekuatan kita dia pasti tewas, apalagi dengan penampilannya yang masih begitu muda kekuatan platinum levelnya pasti masih cukup rendah,” ucap Lech jelas dengan meremehkan Rion.
__ADS_1
“Lech, jika kau terlalu nekat aku tidak akan ikut campur ke dalam masalah ini tahu.”
Pada peringatan Pirlo, Lech hanya menyunggingkan bibirnya. “Bahkan jika kalian semua tak setuju aku akan tetap melakukannya.”
Semua orang kini menelan ludah, sepertinya tidak ada yang bisa mengubah keputusan Lech. Bahkan jika itu berarti menghancurkan Overflow itu sendiri.
Namun, di saat mereka masih ribut mengenai hal ini, Rion dan Lily yang tengah berjalan keluar untuk melihat yang akan menjadi bentuk pembukaan dari rencana Lily pun telah saling berbisik.
“Kau merasakannya?”
“Ya, satu, tiga, enam. Aku yakin enam orang tengah mengawasi kita.”
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Tidak ada, tapi jika mereka benar-benar menggangguku seperti apa yang telah mereka bicarakan aku akan bertindak.”
“Ho... Lalu sebenarnya apa yang telah mereka bicarakan hingga kau berkata seperti itu?” tanya Lily penasaran.
Rion mendekati Lily, saat berbisik, “Sedikit hal yang tak terlalu penting.”
“Begitukah?” Namun, meski ini yang Lily katakan tapi pandangannya telah menjadi dingin, dia juga telah menyematkan [Magic: Trace] pada Gadi yang akhir-akhir ini mengintai mereka jadi tentu dia mendengar hal yang ingin Rion sembunyikan darinya. Pada matanya kini telah terlihat gambaran bunga es beku tapi segera menghilang saat matanya kembali memandang Rion. “Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku akan ?”
“....”
Rion diam, dia memilih tidak menanggapi pertanyaan Lily.
“Ayolah, beritahu.”
“Akan aku hancurkan mereka hingga ke akarnya.”
“Kenapa?”
“Kurasa aku tak perlu berbicara lebih, kau pasti sudah tahu alasannya dengan kepribadianku.”
__ADS_1
Melihat Lily yang tersenyum manis tanpa sebab yang jelas menurutnya Rion mengalihkan pandangan, dia telah berpikir bahwa Lily menantikan apa yang akan dilakukannya pada kelompok itu.
Walaupun alasan sebenarnya jauh dari hal itu, tapi tak ada yang dapat meluruskan kesalahpahaman ini.