A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 57 : Tak Terhindarkan - 3


__ADS_3

Gema pertarungan terdengar, dentang suara logam terus dibunyikan. Cahaya sihir membentang, menyilaukan mata dengan sebuah kehancuran yang menyertai. Mansion mewah nan megah yang sebelumnya berdiri kini rata dengan tanah, menyisakan bebatuan yang berhamburan.


Orang-orang di sekitar telah lama lari ketakutan, jelas bahwa pertarungan inilah sumber ketakutan mereka. Menuju penjaga terdekat dari posisinya, orang-orang itu melaporkan pertarungan yang sedang berlangsung.


Namun, letak mansion ini yang jauh dari pusat keramaian membuat usaha itu jauh, waktu yang lama harus terkuras lebih dan lebih hingga para penjaga itu sampai di tempat kejadian.


Lech bertarung kian ganas, suntikan bala bantuan yang tiba tepat pada waktunya membuat krisis hidup yang sempat dia alami menghilang. Malah, kini Rion lah pihak yang mulai terdorong mundur.


“Hah! The Crusher on!” Rantai serangan dijalankan Lech, aura yang terkumpul di tangan dan kakinya membuat serangan yang dia jalankan kian ganas.


Akan tetapi, dengan serangan yang berupa rantai pola gerakan tetap Rion dapat menghindarinya. Masalahnya bukan dia saja yang perlu Rion perhatikan.


“Magic: Degrees!”


“Array of Arrows!”


Saat hujan serangan yang dijalankan pemanah dan penyihir di pihak musuh mengarah ke tempat di mana dia akan berpindah. Rion segera mengubah arah.


Namun, puluhan orang di depannya tak akan membiarkan Rion untuk dapat lepas semudah itu. Meski selama ini dia dapat bertahan dari segala macam serangan fisik, sihir, atau kemampuan dengan susah payah dia tidak dalam keadaan yang dapat dikatakan baik.


Walaupun jika berhadapan dengan musuhnya ini satu per satu akan sangat mudah hingga seperti berjalan bagi Rion. Namun, melawan kuantitas yang berjumlah puluhan dan disertai kualitas yang tak dianggap remeh tentu tak semudah itu. Seperti mengumpulkan batang lidi sebagai pemukul yang lebih kuat, serangan mereka juga kian merepotkan.


Menjaga pikirannya tetap dalam keadaan fokus di titik tertinggi, dia mulai memberikan serangan balasan serta pembelaan berupa [Magic: Grounds of Flames] demi menjaga jarak dengan para penyerang jarak dekat. Berusaha membeli waktu sebanyak mungkin, Rion merencanakan serangan macam apa yang akan dia jalankan untuk ke depan.


“Dews of Mist ....”


Kabut mulai muncul, membuat pandangan mereka pada Rion tetap pada posisinya berada sekarang. Melihat bahwa ini adalah sebuah kesempatan, serangan mereka kian ganas, baik pedang, sihir, maupun anak panah dibebankan padanya.


“Hahahaha! Kita menang! Orang itu pasti akan tamat!” teriak David, satu di antara sekian banyak orang yang bertarung.


Saat melihat bahwa Rion terluka parah, seringai yang terbentuk di bibir David kian lebar. Namun, saat tubuh Rion menghilang maka hilang pulalah seringai itu dari wajahnya.


Jelas bahwa bukan hanya David seorang, pandangan kelompok pada sosok tubuh Rion yang terluka parah berubah menjadi kabut membuat seluruh kelompok itu kehilangan senyum.

__ADS_1


Mencari-cari di mana pemuda itu berada, mereka berusaha mencari Rion hingga menemukan bahwa sosoknya telah muncul kembali tidak jauh dari posisi sebelumnya. Namun, kali ini dengan sebuah pedang di tangannya.


Saat semua perhatian padanya teralihkan, Rion menyelinap, membunuh beberapa pengguna teknik pertempuran secara acak dan mengambil senjata di tangan mereka. Jelas bahwa pada pertarungan yang kacau seperti sekarang hal itu tak akan terlalu diperhatikan.


Dengan situasi yang dialaminya kini, Rion memilih senjata yang paling sering dia gunakan. Meski sejujurnya tak terasa cocok dengan dirinya. Namun, dia tidak dapat memilih seenaknya dan menggunakan senjata di mana kemahirannya masih nol besar, dan pilihan alaminya itu jatuh pada pedang.


“Huh ... aku rasa masa coba-coba. Ini sudah lebih dari cukup untukku,” gumam Rion hingga tak siapa pun dapat mendengarnya.


“Semuanya bersiap!” perintah Kold sembari memosisikan belati di tangannya, menguatkan cengkeramannya pada belati itu.


Tak menunggu lama lagi, Lech membuka mulutnya, melanjuti perintah Kold sebelumnya. “Serang!”


Anggota kelompok Overflow maju segera, pertarungan yang sebelumnya seolah memasuki jeda kini dimulai kembali.


Rion juga mulai mengayunkan pedang di tangannya dengan lincah, seolah-olah senjata di tangannya adalah salah satu bagian tubuhnya. Dengan sihir kilat yang dialirkan pada pedangnya, membuat seluruh gerakan baik itu ayunan maupun tebasan yang dia jalankan meninggalkan garis biru.


Secara tak langsung menghasilkan gambaran tarian yang kian indah. Namun, di sisi lain membuat serangannya kian mematikan.


Tang!


Tebasan pedang Rion berhenti sesaat, saat perisai besar Gadi menahannya. Namun, celah ini telah dicoba untuk dapat dimaksimalkan Kold yang menyerangnya dari titik buta.


“Silent Stable,” bisik Kold, seolah tak ingin siapa pun itu menyadari serangannya.


Dengan energi berwarna gelap yang terkumpul di senjatanya, sebuah tusukan belati dituduhkan. Mengarah tepat pada leher Rion dan mencoba menusuk sepenuhnya.


Namun, untuk melukai Rion tidak lah semudah itu. Menendang perisai besar yang menahannya, dia membalikkan tubuhnya hingga melayang di udara.


Dengan posisi yang seolah tidak mungkin, sebuah teknik dijalankan. “Great Circles!”


Rion memutar tubuhnya 360 derajat di udara, pedang di tangannya berayun penuh hingga memotong lengan kanan Kold. Mendarat dengan sempurna, Rion mencoba mencari Kold tapi tak ditemukannya, orang itu telah menghilang segera setelah ditemukan.


Memang dengan perwujudan sifat Kold yang mengarah pada kecepatan, maka tebasan ini sudah cukup untuk memotong tangannya. Namun, di sisi lain ini juga membuatnya memiliki mobilitas lebih.

__ADS_1


Meski ini akan menjadi cerita lain jika saja Lech yang memfokuskan diri pada perubahan sifat ketahanan yang menerima serangan Rion. Mungkin hanya lukalah yang akan didapati.


“Argh ....”


Meski begitu, telinga tajam Rion tak melepaskan suara erangan, jejak terakhir dari keberadaan Kold.


Meluncur ke arah yang dimaksud, pedang di tangan Rion menusuk Lech tepat lewat tenggorokannya, mengakhiri penderitaannya dari rasa sakit yang dia alami.


Mengayunkan pedangnya kembali, Rion melemparkan mayat ini ke arah anggota Overflow yang lain. Membuat mereka berhenti menyerang, bagaimanapun mereka bergabung dengan kelompok ini karena keuntungan lebih yang ditawarkan.


Namun, sang ketua dari kelompok itu tak berpikir demikian. Dengan bersama darah yang mendidih dia meraung, “Bloody Life!”


Mendengar ini, anggota lain meragukan apa yang mereka dengar. [Bloody Life], jelas merupakan teknik hebat yang memperkuat kekuatan tubuh pengguna dua hingga tiga kali lipat untuk sementara waktu.


Namun, teknik ini memiliki kelemahan yang jelas. Di mana pengguna akan masuk ke keadaan lemah setelah durasi penguatan hebat itu habis.


Selain itu, pengguna akan menderita pengurangan kapasitas mana sebesar 50% secara permanen. Membuat teknik ini juga menghalangi perkembangan kekuatan orang yang pernah menggunakannya. Dengan resiko yang sangat besar, membuat teknik ini sering disebut sebagai ‘Teknik Terlarang’.


“Raging Pressure!” Lech menerjang ke arah Rion. Dengan aura energi merah gelap yang mengelilinginya, membuat tampilan iblis yang keluar dari neraka tergambar dengan jelas.


Tang! Tang! Tang! Tang!


Percikan api berhamburan, pukulan demi pukulan beruntun yang membawa energi menakutkan dituduhkan. Namun, Rion masih dapat menahannya dengan pedang dan perisai sihir berlapis yang terus bermunculan, melindunginya dari serangan selain dari Lech yang juga terus menekannya.


Wajah Rion yang biasanya tanpa ekspresi kini menunjukkan sedikit keseriusannya. Selain itu, tatapannya semakin dingin. ‘Pertarungan ini akan menjadi semakin berlarut-larut,’ pikirnya.


“Magic: Litghtning Whip!”


Kilat segera terbentuk, layaknya sebuah cambuk mereka bergerak liar menyerang dan melilit seperti ular dengan tangan kiri Rion sebagai pusatnya.


“Breakable Punch!”Serangan kuat lain Lech tuduhkan. Namun, Rion memilih menghindar saat Lech tepat di sampingnya dia memberikan tendangan yang searah dengan arah terjangan Lech, membuatnya meluncur semakin jauh.


Dengan ruang yang dimilikinya, sebuah teknik dijalankan. “Edge Art: Butterfly Dances ....”

__ADS_1


__ADS_2