A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 91 : Menyusun Balok


__ADS_3

Lapangan ini berisik. Suara demi suara mengisi tiap sudutnya dengan yang berbeda pula, beragam, saling bersahutan, tapi padu. Sekelompok orang berbaris dengan rapi, walau masih ada banyak dari mereka yang memasang postur santai.


Beberapa orang berbisik, saat Huge, Rico, dan Tue ikut masuk ke dalam barisan. Jelas bahwa masa lalu ketiganya lah yang membuat mereka menjadi bahan gunjingan. Meski begitu, bisikan-bisikan itu tak ketiganya hiraukan, mereka telah terlalu sering mengalami ini. Membuat mereka mengembangkan sikap acuh tak acuh pada sekitar.


Namun, kini mata Huge malah menyapu, melihat orang-orang yang ada di sini. Walau hal yang dipikirkannya bukanlah emosional, tapi hal lain.


“Bukankah orang-orang yang ada di sini berada di tingkat kekuatan gold level 4? Itu pun yang terendah kan?”


“Tampaknya begitu, Huge,” balas Rico, dan Tue di sampingnya pun mengangguk ringan.


Sebelumnya, mereka mendapat panggilan misi, tapi tak seluruh tim diikutsertakan. Hanya mereka bertigalah yang dipanggil sementara Dany, Ernest, dan Kent tidak. Kini semua jelas bahwa mereka bertiga tak masuk karena tingkat kekuatannya kurang.


Beberapa pembahasan ringan disuarakan dan mendadak lapangan menjadi hening.


Drap Drap Drap Drap


Bersama suara langkah berat, semua orang kini fokus pada sosok yang masuk ke lapangan.


Tubuhnya berbalut zirah tebal, dan ada sebuah tombak panjang yang tergantung di tangan. Menghentikan langkahnya, orang itu berbalik dan menghadap ke barisan prajurit-prajurit ini.


Tenor telah masuk, terlebih dia lah yang akan memimpin operasi kali ini. “Semua rapatkan barisan!”


Kaki mengentak keras, membuat suara menggelegar bersama nuansa ketat militer yang khas. Terlebih saat ini yang memimpin adalah Tenor, orang yang paling dikagumi oleh sebagian besar prajurit di lapangan, bukan masalah tingkat kekuatan yang dimilikinya, tapi ketegasan serta sikapnya yang lain lah asal dari rasa hormat itu.


Tenor mengangguk ringan belum berseru, “Kita akan segera menjalankan misi, kali ini target adalah tim dari Beatria Union.”

__ADS_1


Sampai pada titik ini, beberapa suara hadir dan seolah meragukan hal ini. Seberapa longgar pertahanan Kota Sourt hingga dapat ditembus dengan mudah?


Namun, Tenor segera meluruskan hal itu. “Aku tahu apa yang kalian ragukan, tapi tentu bukan itu masalahnya. Petinggi militer telah membiarkan mereka masuk, dan sekarang adalah saatnya untuk memeras informasi yang mereka dapat!”


Suara itu jatuh dan keheningan memenuhi sekitar, mereka telah paham dengan kemungkinan hal yang terjadi.


Mengangguk puas, Tenor segera memberi arahan pada barisan prajurit di depannya. Barisan yang semula adalah satu dipecah, menjadi empat barisan kecil lagi yang memiliki peran berbeda.


Bahkan jika jumlah orang-orang ini hanya mencapai tiga puluhan orang, tapi kekuatan yang dimobilisasi sebenarnya sangat besar.


Enam orang masuk dalam regu pengintai. Mereka didominasi oleh pengguna teknik pertempuran yang ahli dalam menyembunyikan hawa kehadirannya.


Sepuluh orang masuk ke barisan belakang memberikan serangan jarak jauh. Didominasi oleh penyihir dan pengguna teknik busur, dan Tue masuk ke regu ini.


Empat orang masuk ke dalam regu penyokong. Didominasi mereka yang ahli dalam sihir penyembuhan dan sihir lain yang digunakan untuk membantu rekan sesamanya.


Seperti pembagian regu tim yang berjalan lancar, posisi penempatan tiap regu dijelaskan secara gamblang dan terperinci. Apalagi dengan lokasi strategis yang telah ditentukan sebelumnya, membuat mereka yakin akan keberhasilan misi.


Terlebih target mereka hanya lima Beast-kin. Tidak, dengan kondisi terbaru mereka di mana satu telah tewas dan satu dalam kondisi kritis, hanya tiga Beast-kin yang akan menjadi lawan. Bahkan perbandingan ini saja sudah lebih dari cukup untuk mengatasi semua kemungkinan yang dapat orang-orang ini pikirkan.


Waktu terus berlalu dan akhirnya operasi ini pun digerakkan. Regu demi regu menuju posisi yang telah ditentukan, tanpa terkecuali.


Mendekat ke arah Huge berada, Tenor berucap, “Keadaanmu sudah menjadi jauh lebih baik, Nak?”


Tidak seperti sebelumnya yang mana dalam nadanya, Tenor memberi tekanan. Kali ini suara itu terdengar lembut (?).

__ADS_1


“Begitulah Kapten Tenor. Juga, terima kasih atas berkah yang selama ini Anda berikan. Jika aku tak bertemu dengan Anda waktu itu mungkin aku masih akan hidup di jalanan.”


Mendengar ini, Tenor melambaikan tangannya. “Jangan kau pikirkan.”


Meski begitu, ekspresi Huge dengan jelas masih menunjukkan banyak pengharapan. Dia sebelumnya merupakan anak jalanan, bahkan untuk dapat disebut sebagai warga sipil suatu negara pun sulit. Namun, saat Tenor mengadopsi dirinya, semua berubah total.


Dirinya bisa hidup jauh lebih layak, bahkan jika Huge tahu bahwa Tenor mengadopsinya bukan semata-mata karena simpati, tapi itu benar-benar dihargainya. Alasan mengapa dia sampai dapat seperti itu adalah bakat yang Tenor lihat dalam dirinya.


Bahkan sejak dia diadopsi, dirinya telah dilatih dengan ketat oleh Tenor. Sebagaimana gayung menyambut, harapan Tenor benar-benar Huge penuhi. Dirinya melesat jauh, dalam waktu singkat mencapai titik yang tak terbayangkan.


Meski banyak di antara rekannya adalah mereka yang berasal dari keluarga kesatria, tapi mereka tak merendahkan Huge hanya karena latar belakangnya. Ya, semua berjalan sangat lancar hingga peristiwa yang membuat Huge sangat terpukul terjadi.


Karenanya, saat Tenor mendengar bahwa Huge kembali dari Ditch dia jauh lebih bahagia dari siapa pun. Apa tidak ada orang tua yang senang bahwa anaknya tak bersedih lagi?


“Kau harus tetap memasang fokus tertinggimu di sini Nak. Meski aku tahu mengapa, tapi perasaanku mengatakan bahwa ini tak akan berakhir dengan mudah,” ingat Tenor sebagai bentuk terakhir sebelum dia meninggalkan sisi Huge, menyapa beberapa orang lainnya.


Dengan anggukan ringan, Huge mengingat hal itu baik-baik.


***


Matahari hendak kembali ke ufuk, membuat langit dipenuhi dengan warna jingga nan memesona. Namun, tak seperti orang lain yang menikmati senja ini dengan hati ringan, orang itu memiliki hati yang kacau-balau saat dirinya terus melompat dari satu atap ke atap lainnya.


“Sial!” umpatnya, tapi tak jelas pada siapa itu ditujukan. Matanya linglung, dia seolah belum tahu apa yang harus dilakukan. “Ke mana aku harus mencari Pak Tua itu?”


Menggumamkan ini, orang itu mengangguk ringan sebelum melanjutkan langkahnya. Jelas bahwa Manor Kota Sourt adalah tempat yang harus dia tuju. Bahkan jika But telah melarangnya untuk menuju ke sana, tapi dia tak memperdulikan hal itu. Dia jauh lebih memprioritaskan masalah ini.

__ADS_1


“Dia telah menyinggung orang yang salah,” gumam orang itu kembali.


Meski begitu, dia tak akan tahu bahwa But tak berada di manor dan sedang berada di tempat lain. Jelas bahwa semua itu demi menghilangkan rasa khawatir But akan alarm dalam dirinya yang terus berdering.


__ADS_2