A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 100 : Perubahan Situasi - 2


__ADS_3

Keterkejutan mengisi mata semua orang. Pihak Reutania Kingdom karena fakta bahwa orang itu adalah seorang Beast-kin, dan tim Night Eye karena orang itu adalah ... Dian.


Namun, satu di antara banyak mata Reutania memiliki emosinya tersendiri. Tenor yakin bahwa Dian telah tewas kala itu, bahkan jasadnya pun telah yakin dia hancurkan.


Namun, itu semua hanyalah kedok. Dengan menggunakan teknik [Shadow Exchange], tubuh Dian telah bertukar dengan seorang prajurit malang. Memiliki konsep yang sama dengan [Shadow Leap], tapi itu adalah pertukaran antara dia dengan objek secara langsung, bukan hanya memindahkan diri ke tempat lain.


Terlebih dengan fakta bahwa tubuh pengganti telah menjadi tumpukan daging, itu menjadi semakin sulit dikenali. Namun, fakta bahwa keberuntungan tengah di pihaknya juga tak dapat disangkal, jika Dian sedikit terlalu cepat atau terlambat, sedikit saja, maka hal itu akan segera berantakan.


"DIAN?!"


Mendengar teriakan Yuzu, Dian hanya meliriknya sejenak sebelum menatap lurus ke depan. Dia telah memilih mendengarkan perintah But dan meninggalkan 'mantan' rekannya. Dalam situasinya sendiri, ini adalah perintah mutlak.


Dengan fakta bahwa situasi telah berubah secara penuh, itu telah membuat Dian tak memiliki banyak pilihan. Selain itu, identitasnya sebagai seorang mata-mata adalah situasi yang penuh resiko.


Jika Dian membuat sedikit saja kesalahan hingga dapat menimbulkan ketidaksenangan yang sudah tak dapat ditoleransi lagi oleh Reutania Kingdom, maka tamat sudah riwayatnya. Terutama But, meski cara dia berkomunikasi dengannya sendiri masih misteri.


Namun, Yuzu terus menggelengkan kepalanya dan tak biasa menerima kenyataan ini. 'Tidak, itu tidak mungkin bukan?'


Namun, diri Dian sendiri yang telah menjadi bukti nyata tak dapat disangkal lagi, tak terbantahkan.


Ci sedikit menunjukkan keterkejutan, bahkan teknik yang digunakan oleh Dian demi memalsukan kematiannya sendiri tak dapat dia sadari. Tidak, jika dia sedikit lebih memperhatikan mungkin dia akan sadar, tapi itu hanya ‘jika’.


Karena kala itu dia harus tetap mengurus masalah kecil demi membantu tim Night Eye di belakang layar. Secara alami Ci tak akan banyak memperhatikan urusan di belakangnya.


Namun, keterkejutan itu hanya sesaat sebelum posturnya berubah drastis dan siap mengacungkan cakarnya ke leher Dian. Meski kondisinya telah jatuh dalam keadaan ini, dia harus membereskan mata-mata ini.


Selain itu, dugaan bahwa ada mata-mata di kubu mereka sendiri telah dapat dibuktikan. Bahkan Ci yakin bahwa jumlah sebenarnya akan jauh lebih besar dari itu.

__ADS_1


"Ha ha ha ha!" Tawa menggema, tak lain dan tak bukan berasal dari But. Dengan mata menunjukkan ketertarikan, dia menatap tim Night Eye penuh perhatian.


"Jangan terlalu terkejut, bagaimanapun, ini hal yang biasa bukan?" Nadanya yang terdengar lembut, tapi mengungkapkan cemoohan yang jelas. Namun, tak sampai di situ mata But berfokus pada satu orang. "Bukankah begitu, Yuzu?!"


Nada tinggi menggelegar secara langsung disuarakan, tapi itu belum berakhir dan terus berlanjut. "Sama sepertimu yang adalah mata-mata, kan?!"


Bom tak kasat mata telah dijatuhkan dengan keras, menghantam hati setiap individu yang berada di sini. Namun, itu segera dianggap angin lalu. Jangankan tim Night Eye beserta Ci, bahkan penyerang dari Reutania Kingdom pun hanya menganggapnya sebagai usaha But memecah konsentrasi lawan.


Namun, saat puluhan pasang mata sontak beralih, mencari sosok Yuzu di antara tim Night Eye. Sosok yang dimaksud justru menundukkan kepala dalam, seolah ingin mengelak dari kenyataan.


Bukan hanya mereka yang terkejut, tapi Dian pun sama terkejutnya dengan mereka. Bahkan jika dia telah mengenal baik Yuzu —bahkan sebelum mereka tergabung di tim Night Eye— dia tak pernah membayangkan Yuzu untuk dapat melakukan hal semacam ini.


Namun, dari reaksi yang ditunjukkan oleh Yuzu, Dian diam-diam sedikit mematung. 'Apa yang But katakan adalah ... nyata?!' pikirnya.


“Diamlah!” teriak Yuzu geram.


Melihat situasi yang semakin aneh, Ci memandang Yuzu.


“Apa yang dikatakannya itu nyata?” tanya Ci dengan nada penuh keraguan. Bahkan dia tak berharap bahwa akan menghadapi situasi semacam ini, dan sikapnya kini pun menjadi lebih waspada.


“Ya ... itu benar ...,” jawab Yuzu lemah, tidak ada gunanya dia menyembunyikan ini lagi.


Yuzu lah yang diam-diam mengirimkan informasi kepada Reutania Kingdom. Dia pula yang memberi Reutania Kingdom informasi mengenai Rion ... dan karenanya anggota tim yang lain akan tewas, terjebak dalam situasi ini ....


Ini pulalah alasan mengapa Yuzu mengirim Xion pergi bersama Zee. Jika itu bersamanya maka mereka akan terus terkena karena bagaimanapun, keberadaannya setara dengan sebuah penanda bagi pihak lain.


Semuanya pun terjadi dengan begitu mudah, hanya dengan kemampuan khusus yang dimilikinya. Kemampuan yang dapat mengetahui apa yang terjadi di sekitar dengan memasuki keadaan padat informasi [Chain Looks].

__ADS_1


Saat itulah Yuzu dapat dengan bebas mengambil informasi, dan tentu saja dia bisa menggunakannya dengan cara lain. Yaitu memberikan informasi yang dia tahu.


Dengan itu semua hal-hal yang dilakukannya tanpa ada bekas, tanpa jejak, tanpa bukti untuk dituding, hanya membuahkan hasil. Ya, hasil yang sempurna.


Pandangan Ci menjadi dingin. Jika diingat kembali, suara aneh yang membuat pasukan Reutania mundur kala itu kemungkinan besar berasal dari Yuzu, membuatnya kini memberi pandangan sedingin Es. “Kenapa?”


But memberi senyum ejekan pada pertanyaan Ci. “Kenapa? Tentu saja karena kalian semua! Apa kalian tak mengerti bahwa dia berusaha tetap menjaga kalian sejak Deven Attack? Hah ... ini cerita yang menyedihkan ... walau pada akhirnya dia tetap ada dipihak kalian tapi, semua telah berakhir baginya."


Semua orang tetap diam, tak ada yang mengerti maksud But. Tidak kecuali orang yang dimaksud itu sendiri.


Air mata mulai mengenang di sudut mata Yuzu, pada akhirnya hal yang dia lakukan tak memberikan apa pun. Benar-benar tak memberikan hasil apa pun kecuali kehancuran baginya, tapi ... itu tak apa.


Posisinya setara dengan bidak mati. Yuzu sama sekali tak dapat maju ataupun mundur, dia telah tahu akhir baginya.


Dengan pembangkangan karena tak menyerahkan informasi tentang Rion, nasibnya telah menjadi jelas di tangan Reutania Kingdom. Bahkan jika dia kembali ke Beatria Union pun nasibnya mungkin tak akan berubah banyak, akhir paling 'baik' pun hanya akan menjadi tubuh mati.


Meski begitu, Yuzu tak menyesali keputusannya sama sekali. Sama sekali tidak menyesali keputusan yang mengarah ke kehancuran dirinya.


Namun ... jika itu melibatkan yang orang lain ... dia tak akan menerimanya ... sampai kapan pun ... dia akan menolak hal itu ....


Yuzu mencoba berdiri, bersama tekad yang telah bulat di hatinya. Dia tak menatap Dian dengan dingin, tapi dengan sedikit kehangatan. Dia merasa kemungkinan besar akar masalah mereka berdua sama, Deven Attack.


Dengan tubuhnya yang masih gemetaran karena kurangnya mana pada dirinya, Yuzu mencoba bangkit meski dengan tertatih-tatih.


Mata Yuzu tegas, bercampur dengan semua emosi yang dia rasakan, dia membuka mulutnya. Namun, hanya ada satu kalimat lirih yang terdengar.


“Ini semua memberikan hasil ....”

__ADS_1


__ADS_2