A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 13 : Hidup Dalam Kepalsuan - 3


__ADS_3

Dalam lapangan tanding, suara pedang yang beradu memenuhi sekitar.


“Lemah! Lebih kuat lagi!” bentak Marco pada Rion yang melakukan latihan seperti biasa.


Sudah tiga bulan semenjak Rion keluar dari laboratorium dan berpura-pura menjadi boneka bagi Seriana. Setelah perhatian Seriana pada dirinya berkurang, kini Rion memiliki banyak waktu untuk dihabiskan di perpustakaan, walaupun itu hanya mengakses tempat-tempat biasa, untuk pintu area khusus masih tertutup rapat baginya.


Akan tetapi, dengan kemampuan ingatannya yang tidak melupakan apa pun yang pernah dilihatnya —Perfect Memory— serta kemampuan analisis yang berkembang secara mengerikan, membuat Rion dapat mendapatkan pemahaman lebih dari apa yang tertulis.


Rion membaca semua jenis buku, mulai dari yang berisi segala sesuatu tentang sistem kekuatan yaitu teknik pertarungan, mantra sihir, pengembangan kemampuan, serta kekuatan spiritual. Hingga hal lain seperti produksi berbagai jenis alat-alat dan obat-obatan yang dirasa perlu untuk diketahuinya.


Bersama dengan segala informasi yang telah terkumpul saat ini, Rion merasa perlu untuk mengenal siapa yang menjadi biang keladi atas penderitaannya.


Benua Sylilus tempat para manusia berasal memiliki lima negara besar yaitu, Holy Kingdom Celestia, Eugary Empire, Reutania Kingdom, Marina Kingdom, dan Satific Republic, serta beberapa negara kecil yang menyebar di antara lima negara besar.


Keberadaan monster, demi-human, serta binatang iblis sendiri sudah dikenal di Benua Sylilus. Namun, bangsa demi-human di sana menjadi minoritas dan sering dijadikan budak. Walau, perilaku itu sendiri tak berubah bahkan setelah mereka sampai di benua ini.


Saat beberapa pelaut menemukan Benua Zestia secara tidak sengaja karena terhempas badai, para pelaut tersebut lalu menceritakan hal ini pada pihak kerajaan untuk mendapatkan pundi-pundi emas.


Eugary Empire, negara terbesar sekaligus paling ambisius dari semua negara lain adalah pihak pertama yang memulai penyerangan ke Benua Zestia setelah informasi ini diketahui. Jarak antara kedua benua ini sendiri yang dapat dikatakan cukup dekat, apalagi Eugary Empire memiliki tanah di bagian selatan Benua Sylius yang dapat digunakan sebagai pangkalan, dan akhirnya dijadikan basis tetap tim ekspedisi mereka.


Selain dari Eugary Empire, Reutania Kingdom dan Marina Kingdom juga ikut melakukan penyerangan pada Benua Zestia setelahnya.


Akan tetapi, setelah negara yang ada di Benua Zestia yaitu Beatria Union, Synuere Forest State, dan Dewar Kingdom, menyadari ada yang salah dengan hancurnya desa-desa mereka satu per satu. Mereka pun melakukan investasi hingga akhirnya mengetahui adanya invasi dari orang asing, dengan demikian perlawanan yang dilakukan mereka pun dimulai hingga menyebabkan situasi saat ini yang dapat dikatakan pasukan dari negara manusia terdesak.


Memaksa Eugary Empire yang berada di garis paling depan untuk melakukan penelitian demi menciptakan pasukan kuat dalam skala besar dan secara cepat, guna membantu penyerangan.


Mengetahui hal ini, Rion merasa sedikit berat. Namun, tidak menyurutkan keinginannya untuk membalas dendam sedikit pun.

__ADS_1


Rion tengah berkeliling kastel saat ini. Sikap para penjaga yang memilih tidak terlalu memperhatikannya karena pernah melihat Rion bersama Seriana, dan menganggap bahwa dia memiliki kedudukan khusus di tempat ini.


Ini adalah kemudahan yang datang mengetuk pintu yang membuatnya kini mengingat seluruh struktur benteng yang tak dia miliki di antara beberapa informasi yang dimasukkan ke kepalanya. Meski informasi yang dimasukkan ke kepalanya cukup berguna baginya saat ini, tapi kemungkinan besar mereka hanya memberi Rion informasi umum atas apa saja yang sekiranya diperlukan.


Berbelok ke kanan, Rion telah sampai ke tempat yang tujuannya. Kedatangannya tak terlalu menarik perhatian dan tanpa membuang waktu, dia menempatkan diri di sisi kanan Seriana.


Waktu yang berlalu terasa sangat lambat sampai akhirnya suara ketukan terdengar. Dengan izin yang telah diberikan, Marco pun masuk ke dalam ruangan dan segera berlutut saat menghadap Seriana.


“Saya datang untuk memohon persetujuan Nona.”


Tidak ada ketertarikan pada mata Seriana, dia telah tahu apa yang akan Marco bicarakan dengannya. “Apa kamu telah benar-benar yakin Marco?”


“Saya yakin Nona, bagaimanapun daerah itu dibutuhkan oleh kita. Apalagi sejak hancurnya Kota Maves.”


“Sebegitu berhargakah daerah itu di matamu? Bagiku itu tak lebih dari sekedar tanah yang sama dengan yang lain.”


Marco menghitung dengan cermat di kepalanya, tidak berani menjawab segera mengetahui ini dapat menjadi penentu apakah usul yang diajukannya akan diterima.


“Jika saya diberikan kepercayaan untuk memobilisasi 60% pasukan di benteng, saya yakin dapat menguasainya setelah 2-3 hari Nona.”


Melihat bahwa keputusan Marco yang sudah bulat disertai perhitungan matang, Seriana mengangguk.


Menyaksikan ini semua, batin Rion saat ini bersuka cita. Menilik bahwa sebagian besar pasukan di benteng ini akan melakukan penyerangan ke daerah yang dimaksud segera.


Dalam kurun waktu ini, seluruh persiapan Rion juga sudah selesai. Dia kini memiliki sejumlah informasi yang diperlukan, serta kekuatan minimum untuk dapat melawan balik.


Akan tetapi, Rion belum memiliki cara mengatasi pasukan dalam jumlah besar, dan itulah yang menjadi masalahnya.

__ADS_1


Walaupun dia sudah memahami bagaimana cara melakukan sihir yang notabene cara umum menghadapi pasukan dalam jumlah besar dari buku dan latihan rutin. Namun, jika dia melakukan latihan sihir yang dimaksud maka akan menarik perhatian yang tidak diinginkan. Dengan adanya penyerangan ini, maka masalah terbesarnya pun secara otomatis hilang.


Ditambah dengan perhatian padanya yang sedikit, membuat kondisi ini menjadi sangat sempurna bagi pelariannya.


Dua hari berselang, upacara formal diselenggarakan untuk memberangkatkan pasukan yang dipimpin Marco. Dimulai dari sambutan kecil, salam kepada Dewi Carea —Tuhan keyakinan utama di Benua Sylius— dan leluhur kekaisaran, hingga omong kosong mengenai paham supremasi manusia yang tentu membuat darah Rion mendidih.


“Nona, kita akan membawa kemenangan pada peperangan besok,” ucap Marco sebelum hendak berangkat pada Seriana.


Tanpa banyak ekspresi yang terlihat, Seriana menjawab dengan nada datar. “Pergilah.”


“Ya!”


Upacara telah selesai dan deretan pasukan bersama kuda perang nan gagah pun pergi ke medan perang.


Rion sendiri telah undur diri terlebih dahulu, menyesuaikan rencananya dengan waktu terbatas yang dimiliki.


Kondisi di dalam benteng kini menjadi sepi lengang, meski misi dan penyerangan rutin dilakukan. Namun, penyerangan dalam skala besar seperti sekarang sangatlah jarang.


Pos-pos keamanan yang tersebar di benteng kini hanya ditempati 1-2 orang, mengikuti arahan Demand si wakil kapten ksatria yang sementara mengambil alih pertahanan benteng. Jauh berbeda dari sebelumnya yang tiap posnya ditempati 4-5 orang.


Rion berjalan seperti yang dilakukannya selama tiga bulan terakhir tanpa banyak menarik perhatian. Dia berbelok, menaiki dan menuruni anak tangga mencari tempat yang sekiranya memiliki keamanan terendah.


Setelah lama menelusuri lorong, Rion kini berjalan menuju salah pos keamanan lain. Prajurit penjaga yang biasa melihatnya seperti ini membiarkannya lewat tanpa kecurigaan apa pun. Melihat bahwa lorong cukup sepi, jarak menuju pos keamanan lain cukup jauh, serta intensitas patroli yang lebih jarang dari tempat lain, Rion pun memilih lokasi ini untuk memulai rencananya.


Dengan sikap acuh tak acuh, prajurit itu membiarkan Rion melewatinya. Mengambil kesempatan, Rion melayangkan pukulan ke prajurit tersebut.


Gedebuk!

__ADS_1


Sebuah tinju yang datang mengenai bagian belakang kepala prajurit itu yang seketika membuatnya tak sadarkan diri.


__ADS_2