
Ci terkejut, belati ini tak hanya menahan serangannya sementara waktu, tapi secara penuh menghentikannya. Namun, itu belum semua saat kilatan serangan terlihat, mengarah tepat ke lehernya dan memaksanya mundur.
Melihat siapa yang melancarkan serangan itu, terlihat seorang pria tua yang mengenakan seragam pelayan. Namun, kehadiran sepasang belati di tangannya membuat penampilannya lain.
Pelayan itu, But sedikit menggerak-gerakkan tangannya, merasakan kembali kekuatan yang lawan keluarkan. Mengangguk ringan, matanya pun beralih pada sosok Ci.
"Jadi kau lah asal dari perasaan tak menyenangkan itu," gumam But.
Kini setelah dia melihat Ci, But diyakinkan. Asal dari perasaan tak menyenangkan yang terus dia alami selama beberapa waktu terakhir pasti dari sosok Ci. Bagaimanapun, dalam pandangannya hanya orang sepertinya lah yang dapat saling memengaruhi satu sama lain.
Orang yang telah melampaui Platinum level.
Dengan sebuah senyum, But berucap, "Bukankah tidak etis bagi seseorang untuk menyerang mereka yang jauh lebih lemah darinya?"
Namun, rasa cemooh dapat dirasakan dengan jelas di balik senyum But itu. Membuat Ci hanya berdeham pelan.
"Apakah pantas bagi orang yang mengeroyok dua orang dengan tiga puluhan orang untuk berkata seperti itu?" balas Ci.
Mereka berdua hanya tersenyum, saling memandang satu sama lain dan memperhatikan setiap gerakan kecil pihak lain. Menyelidik satu dengan yang lain tanpa melewatkan suatu apa pun.
Tidak hanya But yang telah menyadari kekuatan pihak lain, tapi Ci pun sama. Bahkan hanya dengan melirik cakarnya yang tergores cukup dalam sudah lebih dari cukup untuknya mengetahui hal ini.
Keheningan mencekam berlangsung cukup lama, tak ada satu orang pun yang berani mengintervensi keduanya. Baik itu penyerang Reutania maupun tim Night Eye.
Fluktuasi mana di udara terganggu, bahkan jika keduanya belum bergerak, But dan Ci telah melakukan beberapa hal tak kasat mata.
"Baiklah ...."
__ADS_1
Selesai kata ini diucapkan, ledakan hebat pun menyusul. Hanya satu langkah saja sudah lebih dari cukup untuk membuat But dan Ci saling terikat dan beradu pukulan.
Belati dan cakar tajam terus beradu, membuat bunga api bermekaran di sana dan sini. Bahkan jika kecepatan dari keduanya tak tertangkap oleh mata, jejak kehancuran yang keduanya tinggalkan benar-benar membaik akal sehat.
Batu demi batu beterbangan, meledak ke sekitar tatkala tanah itu dijadikan pijakan sejenak. Namun, segera hancur begitu kekuatan itu dilepaskan.
But dan Ci terikat satu sama lain. Mungkin itu karena kemiripan di antara keduanya lah yang membuat hal ini terjadi. Dengan keduanya yang memiliki keahlian dalam teknik pertempuran yang dikhususkan dalam pembunuhan diam-diam, itu membuat keduanya jauh lebih cepat memahami satu sana lain dan menguncinya.
Kekuatan keduanya terlihat berimbang di mata orang-orang yang menyaksikan pertarungan ini. Namun, sebenarnya tidak demikian.
Kekuatan But jauh lebih unggul, serangan yang dia berikan memiliki dampak lebih dalam daripada milik Ci. Meski begitu, dalam hal kecepatan Ci jauh unggul, dan dengan itu dia entah bagaimana dapat menahan kekuatan But.
Bunga demi bunga api terus tercipta, memberi warna tersendiri bagi langit yang akan segera menjadi gelap. Suara tinggi, jauh lebih melengking dari biasanya terdengar begitu But dan Ci melepaskan diri satu sama lain.
Mereka mendarat di tempat yang berlawanan, tapi itulah yang membuat mereka dapat saling memandang satu sama lain. Bahkan pertukaran sebelumnya tak lebih dari lima menit, tapi keduanya telah bertukar lebih dari seratus pukulan.
Dia juga yakin bahwa lawan telah menyadari keunggulan dan kekurangan masing-masing. Meski But dan Ci tahu bahwa masing-masing dari mereka masih menahan beberapa kekuatan, tapi perkiraan kasar ini tidak sepenuhnya tak berguna.
Bagaimanapun, teknik-teknik yang dapat mereka dikuasai dengan baik oleh seseorang biasanya mengikuti karakteristik dirinya.
"Kau cukup merepotkan juga ...."
Ci tak menjawab melainkan hanya memandang But lebih tajam. Dalam pandangannya jelas bahwa But memiliki kemampuan yang jauh di atas itu.
Dengan keheningan yang terjadi, pertarungan antara But dan Ci kini seolah terhenti total. Namun, baik itu But maupun Ci tahu bahwa ini hanyalah sementara.
Beragam kemungkinan mereka pikirkan masing-masing. Selain fakta bahwa gaya bertarung mereka agak mirip, keduanya menimbang kelebihan dan kelemahannya sendiri.
__ADS_1
Memasang mata baik-baik, mereka mengamati gerakan lawan dengan cermat. Saat sebuah langkah kecil diambil, jejak kehancuran pun segera menyusul. Keduanya terus bertarung, bergulat di udara seolah tak mengenal kata lelah.
Mata But sepenuhnya fokus pada gerakan Ci. Jika ini adalah pertarungan normal, maka ini akan telah lama selesai. Keahliannya sendiri dalam melancarkan satu serangan mematikan tak perlu diragukan, tapi lawannya, Ci memiliki keterampilan untuk dapat menghindari sebagian besar serangannya.
Namun, situasi Ci sebenarnya tak jauh lebih baik dari But, dan hal itu karena kekuatannya jauh lebih lemah. Bahkan jika dia memiliki keunggulan dalam bidang kecepatannya, tak banyak yang dapat Ci lakukan untuk menekan lawan.
Mengambil jarak dari But, surai di punggung Ci mulai mengembang secara penuh saat dia membuat postur rendah.
“Exasperate Voice!”
Dengan itu, Ci segera menghilang dari tempatnya berada. Kecepatannya meningkat secara eksposional, jauh lebih dan lebih cepat daripada sebelumnya.
Perubahan tiba-tiba ini tak dapat But prediksi, dan itu membuat pandangannya akan Ci menghilang. Mata But bergerak, mencoba mencari di mana keberadaan Ci.
Ketertinggalan itu hanya sesaat, tapi, dampak dari 'sesaat' itu amat besar. Saat Ci kembali muncul, dia berada tepat di sudut yang tak pernah But perkirakan. Cakarnya berayun cepat, menukik tajam, berusaha menembus pertahanan But.
But berusaha segera menanggapi hal itu, tubuhnya berputar, menghindar serangan Ci. Namun, lengan kirinya tetap tertusuk dan meninggalkan luka. Walau begitu, itu bukan berarti tanpa hasil saat kakinya menyapu, menendang Ci jauh.
Ci terjerat, dirinya tak menyangka bahwa But akan dapat menanggapi serangan itu. Tubuhnya segera berputar, menyesuaikan diri dengan cepat, meminimalisir dampak yang dia terima atas serangan itu. Namun, serangan But benar-benar telah membuat beberapa tulangnya bergeser.
Meski begitu, Ci tak memperdulikan itu lagi dan kembali menghilang. Kini ini bukan hanya masalah kesan yang dimiliki tim Night Eye padanya, tapi juga masalah bahwa keselamatannya, dan yang lebih genting masalah keselamatan informasi itu dipertaruhkan.
Debu menyapu saat tubuh Ci menghilang dari satu tempat dan muncul di tempat lain, dia berusaha memaksimalkan keuntungan yang dia miliki. Sementara itu, But tetap teguh di tengah-tengah medan.
Bahkan jika itu adalah posisi yang tak terlalu menguntungkan, tapi But tak memiliki kemampuan untuk mengejar Ci.
"Dia benar-benar licin." Mengatakan hal ini, mata But terus menyelidik tiap sudut. Berusaha menemukan di mana letak Ci.
__ADS_1