A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 21 : Pembebasan Gerbang - 1


__ADS_3

Setelah perintah dari Seriana diturunkan, pasukan di bawah komando Demand segera bergerak menuju gerbang barat.


Sesuai apa yang telah Seriana serukan, Demand memfokuskan tekanan pada gerbang barat sedangkan pada gerbang utama menjadi sedikit kosong. Namun, formasi pasukan yang telah diposisikan untuk dapat memblokir musuh Jika ingin menuju gerbang utama, membuat situasi masih dalam kendalinya.


Sang wakil kapten ksatria yang biasanya ditugaskan mengawal Seriana kini berdiri tegap di depan gerbang, postur tubuhnya kukuh seolah akan mempertahankan gerbang ini dengan semua yang dia miliki.


Bersama pasukan yang dipimpinnya untung menghadapi musuh, Demand telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk membalas kepada siapa pun pihak yang telah membahayakan keamanan Nona mereka.


Akan tetapi, Demand tak dapat menahan diri untuk tak menggerutu dalam hatinya. Alasan dirinya bersedia bertugas di benua asing tak lain dan tak bukan karena Seriana G. Eugary, seorang putri Duke yang kecantikannya sangat terkenal seantero kekaisaran.


Itulah alasan lain kenapa dia ingin menyelesaikan masalah pengganggu ini secepat mungkin. Setelah itu Demand akan segera kembali ke sisi Seriana, menikmati bunga yang indah itu dari dekat.


Menghembuskan napas panjang untuk menenangkan dirinya, Demand berteriak, "Semua pasukan dalam kondisi siaga penuh!"


Walaupun Demand sempat membiarkan fantasinya melayang hingga ke mana-mana, tapi dia kembali tersadar. Sebelum semua itu dia harus memenangkan pertarungan ini, setelah masalah ini selesai dia akan dapat menikmati bunga indah tanpa gangguan apa pun.


Selain itu, mengingat situasi yang dihadapi membuat pikirannya fokus. Mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang mungkin terjadi.


'Jika aku berhasil, mungkin Nona Seriana akan memujiku,' pikir Demand. Itulah hal sebenarnya yang membuat dia termotivasi untuk sepenuhnya Memfokuskan diri.


Menyiapkan tombaknya, Demand siap menyambut musuh yang akan segera datang.


***


Drap Drap Drap Drap


Suara langkah cepat menggema sepanjang lorong Benteng saat Xion berlari secepat mungkin, posisinya saat ini lebih dekat ke gerbang utama dari pada gerbang barat memaksanya untuk memakan waktu lebih.


Saat melihat bayangan sebuah kelompok mulai terlihat di persimpangan, Xion menyiapkan cakar yang merupakan senjata alaminya.


Tang!


Suara benturan terjadi bersama percikan bunga api yang muncul di udara, orang yang Xion lawan terhempas mundur. Namun, dia segera berhenti melanjutkan serangannya saat melihat siapa itu.


"Wess?"


"Menurutmu siapa lagi kalau bukan aku, Kapten?"


Menahan tangannya yang kini mati rasa akibat menahan serangan Xion sebelumnya, Wess membuat sebuah senyum.


"Huh ... jadi kalian berhasil selamat."

__ADS_1


Meski pertemuan kembali mereka agak di luar dari apa yang mereka harapkan. Namun, mereka tetap tersenyum satu sama lain mengkonfirmasi keadaan yang lainnya baik-baik saja.


"Apakah misinya sukses, Kapten?" tanya Yuzu.


"Ya, begitulah, tapi aku tidak akan dapat bertarung lama setelah ini," jawab Xion jujur.


"Yah, mau bagaimana lagi? Seharusnya misi ini sendiri menjadi misi diam-diam. Namun, malah menjadi bentuk konfrontasi terbuka," keluh Yuzu.


Tidak membuang waktu lebih lama lagi, mereka bergerak menuju gerbang barat segera.


Meski sepanjang Yuzu terus mengutarakan keluhan yang tidak dapat ditahannya karena pada awalnya dia mengira misi ini akan menjadi lebih mudah dengan kekacauan yang terjadi. Namun, justru malah membuat musuh menjadi sangat sigap dengan segala jenis infiltrasi yang ingin mereka lakukan hingga memaksa mereka melakukan pertarungan terbuka.


Sepanjang jalan, Xion juga mendapatkan informasi dari Zee perihal alasan mereka berada di dekat gerbang utama.


"Jadi kondisi penjagaan di gerbang barat sudah sangat ketat?"


Zee mengangguk. "Karena itu kami mencoba melihat situasi di gerbang utama, tapi kondisinya serupa."


Setelah mendengar hal ini, Xion menghentikan langkahnya.


"Ada apa Kapten?"


Xion memilih tak langsung menjawab dan melanjutkan langkahnya kembali. Mendekat ke arah Wess dan Zee, dua berbisik, "Apa kalian merasakan sesuatu yang aneh?"


"Tidak ada, tapi pasangkan kesiagaan lebih," ucap Xion mengingatkan yang lain. Bagaimanapun, dia tidak ingin mengabaikan instingnya lagi.


Saat jarak mereka semakin dekat dengan gerbang barat, mereka menemukan pasukan yang bersiaga di depan gerbang. Namun, bukan itu yang mengejutkan Xion karena hal ini telah diberitahukan oleh Zee sebelumnya. Hal yang mengejutkannya yaitu jumlah mereka yang jauh lebih besar dari yang diduganya.


Dengan segera, Xion menemukan apa yang mengganggunya tapi terlambat.


Pertempuran telah pecah dengan kelompok yang telah bersiaga di belakang mereka, Dian dan Wess yang ditempatkan di posisi itu pun segera melawan.


Posisi mereka saat ini yang berada di persimpangan membuat kelompok yang mereka lawan berada di atas angin.


"Ini semakin merepotkan!" Xion menggertakkan giginya.


Struktur benteng ini dengan jalan sempit sendiri sebenarnya lebih menguntungkan pihaknya. Namun, dengan pengumpulan pasukan yang berpusat pada persimpangan jalan yang lumayan lebar membuat kelincahan dan kelenturan yang merupakan kelebihan mereka tertahan, sekaligus medan yang cocok untuk jenis pengepungan yang dilakukan musuh.


"Dian, Wess! Berkumpul bersama dengan kami!"


"Ya! Kapten!"

__ADS_1


"Kita akan bertempur bersama," perintah Xion. Bagaimanapun mereka akan secara bertahap terdorong ke depan, tempat di mana pasukan musuh telah bersiaga.


Salah seorang dari mereka ingin membuka mulut, tapi Xion segera memotongnya. "Diam! Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Namun, jika ada kemungkinan kita semua dapat keluar dengan selamat bahkan jika kemungkinan berhasil rendah! Jika pun gagal, kita dapat membiarkan seseorang keluar sebagai pilihan terakhir jika memang tidak memungkinkan."


Hal yang dia katakan memang bukan pilihan terbaik jika Xion ingin memiliki tingkat keberhasilan tinggi untuk keluar dari Benteng. Namun, dia tidak ingin membiarkan rekannya yang masih hidup mengorbankan hidup mereka.


Jika memang telah ditakdirkan hanya satu orang yang selamat untuk membawa pesan bahwa misi telah selesai. Setidaknya dia telah berusaha sebisanya, Xion ingin berusaha semaksimal mungkin untuk membuat rekan-rekannya berhasil kembali dengan selamat.


Diam. Keheningan mulai mengisi sekitar.


"Baiklah, jika Kapten Xion ingin seperti itu maka aku, Zee akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi harapan Kapten."


"Ya! Yuzu juga!"


"Kalau Kapten ingin seperti itu, maka aku hanya akan mengikuti Kapten," ucap Dian. "Kau Wess?"


Tanpa banyak bicara, Wess mengangguk sebagai tanda persetujuannya.


"Terima kasih. Kalau begitu, ayo kita keluar!"


"Ya!"


Xion dan timnya memilih menerobos gerbang barat secara langsung. Saat jarak mereka semakin dekat, cahaya mulai menyelimuti tubuh mereka bersama lantunan manta yang menandakan bahwa mereka memasuki keadaan tempur penuh.


Sosok yang berdiri dengan arogan di tengah-tengah gerbang, sang wakil kapten ksatria, Deman melihat semua dengan cermat. Mengambil napas dalam, dia pun berseru, "Semua penjaga bersiap! Musuh yang hina telah menunjukkan dirinya. Sekarang, silaukan mata mereka akan kebesaran Eugary Empire! Serang!"


Bersama seruan menggelora, pasukan di bawah komando Deman mulai menyerang. Bersama sihir yang menggempur Xion dan timnya bentrokan dimulai.


Walaupun pasukan penjaga menang dalam jumlah, tetapi kekuatan individunya sendiri lemah di sekitar tingkat silver level 1-5. Sedangkan musuh mereka cenderung memiliki kekuatan individu yang kuat, walaupun berjumlah sedikit.


Melihat musuh terus membantai prajurit di bawah komandonya, Demand berlari menuju garis depan.


Tang!


Tombak di tangan Demand berhasil menahan serangan musuh bertubuh kekar berotot —Wess— yang akan membunuh bawahannya. Tidak berniat melepaskannya, dia pun memulai pertarungannya.


"Saya, wakil kapten ksatria Demand akan membunuh tikus seperti kalian yang berani masuk ke Benteng ini!"


"Sayang sekali, ternyata ada yang lebih bodoh dariku, kau tidak tahu? Aku sejenis kucing, bukan tikus."


Damian tidak menghiraukan provokasi Wess dan mulai mengayunkan tombak di tangannya dengan indah seperti sebuah tarian yang terhubung terus menerus tanpa putus.

__ADS_1


Merasakan kekuatan yang ditunjukkan Demand, Wess yang seorang maniak pertempuran menjadi bersemangat. 'Dia petarung sejati tingkat gold level 5! '


__ADS_2