A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 75 : Waktu Hening - 1


__ADS_3

"Raaggghhh!" Raungan terdengar, keras menggelegar saat cakar besar Wess berayun, turun menukik menebas tubuh seorang prajurit di depannya.


Pertarungan antara tim Night Eye dan para penjaga Reutania ini tak sudah tak dapat dihindari. Meski dengan usaha untuk menyembunyikan diri mereka dari mata Reutania, nyatanya jejak yang mereka tinggalkan membuat para penjaga tetap dapat menemukan keberadaan mereka.


Skala pertempuran yang terjadi kali ini besar, jauh lebih besar dari yang sebelum-sebelumnya. Membuat Ci pun tak dapat banyak membantu tanpa mengekspose keberadaannya. Dengan demikian, bantuannya pun tak dapat diberikan dan membuatnya hanya menjadi seorang penonton.


Jumlah prajurit di kubu Reutania memiliki jumlah awal empat puluhan orang saat bertemu dengan tim Night Eye, tentu jumlah orang yang Ci hilangkan tak dihitung. Namun, meski jumlah mereka terus berkurang, tapi dengan tingkat kekuatan mereka yang juga tak jauh dari gold level di sekitar silver level 8-10, membuat tim Night Eye tak bisa mengatasi dengan cepat.


Bahkan itu pun sudah dengan jalur bantuan Reutania telah Ci putus tanpa ada yang menyadari. Namun, usaha di balik layar itu menjadi sia-sia saat sepeleton pasukan menuju ke arah tim Night Eye.


Meski Ci bisa saja mengurangi jumlah mereka, dia tak dapat melakukan banyak hal seperti sebelumnya karena dia merasakan bahwa salah seorang di antara pasukan itu mendekati platinum level. Walaupun dia masih dapat menanganinya, jelas tak mungkin dalam 1-2 detik.


"Hmm, ada yang aneh di sini," gumam seorang di antara pasukan itu. Menatap pertempuran di depannya yang masih berlangsung, dia menggelengkan kepalanya.


"Percepat langkah kalian!" Begitu dia meneriakkan ini, pasukan itu segera mempercepat langkah. Daripada mengurus perasaan aneh itu, dia lebih memilih mengurus pertempuran di depan matanya ini yang mana pasukan Reutania kian terdesak.


Pasukan bergerak dengan teratur, mengikuti arahan orang itu. Dengan tanah yang bergetar dan suara deru terdengar, Xion beserta anggota tim Night Eye lainnya mengalihkan pandangan dengan wajah pahit. Sementara para prajurit Reutania yang terdesak sebelumnya memiliki wajah cerah.


"Kapten Tenor!" seru salah satu prajurit.


Orang itu, Tenor mengangguk dalam sebelum mengalihkan pandangannya pada tim Night Eye. Memosisikan tombak panjangnya, dia menurunkan perintah yang telah dinanti.


"Semuanya! Angkat senjata kalian! Serang!"


"AAA!"

__ADS_1


Pasukan itu maju, bak sebuah bendungan roboh. Pasukan tumpah ruah ke medan pertempuran seperti banjir besar, menyapu tim Night Eye yang hanya memiliki lima orang untuk melawan arus itu.


Dengan bahaya yang meningkat, Yuzu dan Zee yang merupakan penyihir mulai berkumpul. Sihir air dan angin keduanya mulai menjadi liat, bahu-membahu untuk mengatasi arus besar itu.


"Zee, bisa kau tangani ini untuk beberapa saat ke depan?"


"Kau dapat menyerahkannya padaku. Selain itu kita tak hanya berdua, ingat itu."


Mengangguk sebagai tanggapan, Yuzu melepaskan kendalinya pada sihir elemen air. Menyatukan tangan, dia mulai mengumpulkan mana, menyiapkan sihir lainnya.


"Area Heal!" Cahaya hijau pedar mulai berkumpul, menyelimuti tubuh Dian, Xion, dan Wess yang memiliki luka di sekujur tubuh. Setelah beberapa saat, pendarahan pada luka-luka itu berhenti dan dilanjuti pemulihan lukanya.


Keringat membasahi dahi Yuzu, tapi dia kembali merapalkan sihir. "Magic: Aqua Whips!"


Bersama embun air yang mulai terkumpul, sebuah cambuk terbentuk. Cambuk itu berayun liar, mencoba menahan serangan lawannya.


Mulai dari sihir penyembuhan hingga ke tingkat lanjutan, elemen airnya sebagai pelindung, hingga ke kemampuan khususnya sebagai. Meski begitu, perlu dilihat apakah sokongannya kini dapat menolong situasi tim saat ini.


Percikan demi percikan bunga api terbentuk di udara, berasal dari Xion yang melawan Tenor. Cakar tajamnya dan tombak pria itu terus beradu, dan dia berusaha menekan lawannya. Namun, hal itu tak akan terjadi karena gerakan Tenor lah yang malah balik menyulitkannya.


'Aku tidak bisa mengurus ini sendiri,' pikir Xion. Dengan menyadari keterbatasannya, dia memilih mundur dan Tenor tak mengejarnya.


Sementara Xion memikirkan ini dan itu, Tenor pun menimbang kekuatan lawannya. 'Musuh kali ini tidak sepenuhnya seperti yang kukira, apakah mereka lebih lemah?'


Selama pertarungan dengan Xion tadi, Tenor hanya berusaha menguji air. Tidak menggunakan seluruh kekuatannya dan hanya mengeluarkan beberapa untuk mengetahui tingkat kekuatan lawan. Namun, begitu dia merasa sedikit ragu apakah pihak lain hanya menunjukkan puncak gunung es padanya, tepat seperti yang dia lakukan.

__ADS_1


Mengingat kembali jumlah prajurit yang hilang karena penyusup —tim Night Eye dan Ci— dalam kurun waktu terakhir, dia tentu berharap tingkat lawannya akan lebih dari ini. Membuang pikiran meremehkan lawan itu, Tenor berusaha mencari hipotesis.


"Aku yakin ini juga karena pihak kelelahan setelah terus mengalami pertempuran," gumamnya mengambil kesimpulan.


Menyiapkan kembali tombaknya, Tenor mengambil langkah, berinisiatif untuk memulai serangan terlebih dahulu.


Tang!


Dengan suara keras, tombak Tenor bertabrakan dengan lengan besar Wess yang telah terlebih dahulu. Mengambil peranan sebagai perisai bagi Xion, dia meninggalkan tempat sebelumnya dan memberi beban penuh pada Yuzu dan Zee.


"Wess!" Xion mengerjap, tapi segera pulih dan membantu rekannya ini.


Melirik pada luka yang tertinggal di lengan Wess, Xion tak dapat menahan rasa menggigil. 'Bahkan kerusakan yang diterima Wess cukup besar, fakta bahwa dia memiliki kekuatan pertahanan tertinggi di antara kami menyiratkan satu hal.'


Mengambil napas dalam, pandangan Xion turut fokus. "Pria itu belum serius sejak tadi," ucapnya.


Saat kedua belah pihak memiliki pemahaman lebih tentang lawan mereka, segala macam rencana pun disiapkan. Xion dan Wess telah sepenuhnya terikat oleh Tenor, mereka tak dapat saling melepaskan diri dan hanya berada dalam situasi lengket.


Namun, di sisi lain beban yang harus di tanggung Yuzu dan Zee. Meski begitu, seolah mereka berdua terhubung mereka masih secara entah bagaimana dapat mengatasinya. Tentu saja Dian yang membantu mereka tak dapat dilupakan, dan karenanya Yuzu pun terkadang dapat melepas tangannya untuk beralih ke kesehatan Xion dan Wess.


Belati di tangan Dian sekali lagi melewati leher seorang prajurit, membuat tubuh prajurit itu harus bersimbah darah dan menjadi mayat kaku. Dengan serangannya yang sukses, dia kembali menghilang dalam bayangan mencari kesempatan untuk dapat melancarkan serangannya kembali.


Jika dibandingkan dengan gaya bertarung orang lain dalam tim yang berhadapan langsung di muka, gaya bertarung Dian sangat berbeda. Dia tak mengehendaki serangan ofensif secara terus menerus, tapi sebuah serangan dengan daya ledak tinggi dalam sekali jalan.


"Aku bisa melakukannya," Meyakinkan dirinya dengan mengatakan ini, Dian mencoba beralih sekali lagi. Dengan celah dalam gerakan Tenor yang akan dia manfaatkan, gerakan cepat dan taktis pun diperlihatkannya.

__ADS_1


Di saat Tenor mengayunkan tombaknya dalam sapuan besar, mencoba membuat lawannya terpaksa mundur, bagian belakang tubuhnya terbuka lebar. Dengan sebuah kilasan bayangan, Dian pun tiba-tiba muncul untuk memanfaatkan celah itu.


__ADS_2