Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 1


__ADS_3

Janur kuning melengkung di depan gerbang masuk komplek perumahan asri. Pesta pernikahan akan segera dilangsungkan dalam hitungan menit.


Tamu sudah berdatangan dan memenuhi kursi tamu. Sebentar lagi akad nikah akan segera diucapkan oleh mempelai pria yang kini duduk dengan tenang di hadapan penghulu dan calon mertuanya.


"Apa pengantin wanitanya sudah siap?" Tanya penghulu itu berbisik pada Satria, selaku Ayah dari mempelai wanita.


"Sebentar lagi, pak Penghulu." Bisiknya.


Ada kecemasan diwajah Satria. Tapi, dia menyembunyikan kecemasannya itu. Dia tidak ingin ada kegaduhan lain yang akan terjadi. Cukup dengan kaburnya Febi si pengantin.


Tidak ada yang tahu, pengantin wanita telah kabur beberapa menit yang lalu tepat beberapa detik setelah mempelai pria tiba bersama rombongan keluarganya.


Satria sempat emosi dan hampir menbatalkan pernikahan ini. Tapi, Fita istrinya, menawarkan ide gila lainnya agar pernikahan ini tetap dilangsungkan.


"Mempelai wanita menuju pelaminan." Ucap Mc yang menatap kagum pada pengantin wanita yang sedang menuruni anak tangga menuju pelaminan.


Gaun putih menjulur panjang. Hijab putihnya pun menjulur panjang menutupi dadanya. Dikepalanya dihiasi dengan mahkota putih yang terbuat dari permata. Tidak lupa, wajahnya berlapis kain cadar, sehingga yang tampak hanya sedikit kening dan matanya saja.


Semua mata tertuju pada pengantin wanita nan cantik itu. Kemudian mereka berbisik heran, karena seharusnya pengantinnya bukanlah wanita bercadar, akan tetapi gadis cantik nan sexi.


Keluarga pengantin pria pun sempat ingin protes, tapi tertahan saat pengantin pria menatap tajam kearah mereka. Itu bagaikan isyarat, pengantin pria tidak masalah jika harus menikahi wanita bercadar itu.


"Baiklah, pak Penghulu bisa langsung memulai acara akad nikah." Ucap MC.


Lalu, dengan segera setelah membaca Bismillah, Penghulu mulai memimpin lafadz akad nikah yang akan diucapkan oleh mempelai pria.


Sedikit kesalahan terjadi saat penghulu menyebutkan nama pengantin wanita. Wajar, karena terjadi pergantian pengantin secara mendadak.


Meski begitu, Rafa Aditya Pratama berhasil melafadzkan akad nikah dalam sekali saja. Dan setelah semua saksi mengatakan kata 'sah' maka pernikahannya dengan wanita bercadar itu berhasil.


Doa pun dilantunkan oleh penghulu dengan sangat khidmat. Kemudian pengantin wanita dibawa untuk diarahkan di kursi samping pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Mereka menandatangani buku nikah yang dimana foto didalam buku nikah itu adalah foto wanita lain.


"Silahkan mengganti foto ini dengan foto mbak Cinta." Bisik pak Penghulu.


Cinta mengangguk paham. Tapi, Rafa malah menatap tajam pada penghulu itu, tepat sebelum dia menandatangani buku itu. Entah mengapa tiba-tiba Rafa merasa kesal.

__ADS_1


Meski begitu, acara tetap berlangsung. Kini wanita bercadar itu mencium punggung tangan suaminya. Lalu, mereka berfoto menampakkan cincin yang kini sudah melingkar dijari manis keduanya.


Usai akad nikah. Kedua mempelai pun kembali ke pelaminan untuk menyambut tamu yang datang memberi ucapan selamat.


"Siapa kamu?" Bisik Rafa dengan suara beratnya.


Hal itu membuat wanita bercadar itu merinding. Dia tidak menoleh sama sekali. Yang dia lakukan hanya menundukkan pandagannya menatap bagian bawah gaunnya yang menyapu lantai.


"Aku bicara sama kamu. Siapa kamu sebenarnya? Mana calon pengantinku?" Sambungnya berbisik dengan suara yang lebih menakutkan bagi wanita bercadar itu.


"Saya Cinta, sepupu Febi." Ucapnya terbata dengan suara tertahan.


Rafa membolakan matanya saat mendengar pengakuan Cinta. Dia terpancing emosi, hampir saja Rafa meraih pergelangan tangan Cinta andai saja tamu tidak datang mendekat pada saat itu.


"Selamat ya Cinta. Semoga ini menjadi pernikahan terakhirmu." Ucap tetangganya itu sambil memeluk erat tubuh Cinta.


Rafa mendengar ucapan pernikahan terakhir itu merasa ada yang ambigu dengan kata-kata itu.


'Pernikahan terakhir? Maksudnya apa? Atau jangan-jangan wanita ini sudah pernah menikah sebelumnya? Oh my God. Beraninya mereka membohongiku. Beraninya mereka.' Gertaknya dalam hati.


Bibirnya terus tersenyum menyambut tamu yang bergantian memberi selamat. Dan tidak ada yang tahu, hatinya kini berapi-api menahan luapan amarahnya.


Mereka sangat kesal dan marah karena kejadian ini. Tapi, Satria dan Fita berjanji kalau mereka tidak menuntut apapun dari pernikahan ini. Jikalaupun, Rafa ingin mengakhiri pernikahan ini setelah usai acara pesta ini pun mereka akan siap menerima konsekuensinya.


Yang mereka pikirkan saat ini hanya keselamatan muka mereka dari pandangan masyarakat, jika sampai pernikahan ini gagal.


Satu jam…


Dua jam…


Tiga jam…


Empat jam...


Akhirnya, acara pun selesai. Semua tamu sudah pulang. Kini tertinggal keluarga terdekat kedua pengantin. Mereka masih asik mengobrol. Sedangkan Rafa yang sudah tidak tahan dengan stelan jas yang membuatnya gerah menghampiri Cinta yang masih duduk diam di pelaminan.


"Apa kamu menunggu Malaikat Maut menjemputmu?" Bisik Rafa ditelinga Cinta.

__ADS_1


Cinta yang tadinya melamun pun, akhirnya tersadar. Segera dia berdiri dan menggelengkan kepalanya.


"Dimana kamar pengantinnya. Aku gerah dan ingin mandi." Tegasnya.


Tanpa memberi aba-aba Cinta langsung melangkah menuju kamarnya. Karena Rafa pria yang pintar, dia ikut mengekor di belakang Cinta.


Begitu tiba di depan tangga, Cinta malah berbelok ke belakang tangga dan menghilang di sana. Rafa bingung, tapi tetap mengikuti Cinta.


Tidak ada yang menyadari kepergian pasangan pengantin baru itu. Mereka terlalu asik membahas kelanjutan permasalahan menghilangnya Febi secara tiba-tiba.


Kini Cinta berdiri didepan pintu kamarnya. Pintunya sudah terbuka. Dia mempersilahkan Rafa masuk.


"Tempat apa ini?" Tanya Rafa bingung.


"Kamar saya. Tuan Rafa bisa mandi dan beristirahat di sini." Jelas Cinta.


Sontak saja Rafa mengerutkan keningnya yang membuat kedua alisnya nyaris bersatu.


"Kamu memintaku istirahat di kamar kecil ini?" Mulai melangkah masuk.


Matanya menatap isi kamar itu. Foto Cinta kecil bersama kedua orangtuanya tergantung di dinding. Lalu, mukenanya dilipat rapi di atas kasur kecilnya itu. Ada jam tangan yang diletakkan diatas meja samping tempat tidurnya. Diatas meja itu juga ada Qur'an.


"Ini kamar kamu?" Menatap Cinta yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


Dia mengangguk, dengan masih terus menundukkan pandangannya.


"Tuan silahkan mandi. Handuk bersihnya ada didalam kamar mandi." Menunjuk kearah pintu kamar mandi.


Mata Rafa mengikuti arah telunjuk Cinta. Dia menemukan pintu disebelah kirinya.


"Aku meminta untuk dibawa ke kamar pengantin. Kenapa kamu malah membawaku ke kamar pembantu. Kamu pikir aku bodoh?" Melangkah mendekati Cinta.


"Karena saya wanita yang Tuan nikahi, berarti sayalah pengantinnya. Dan ini kamar saya, Tuan." Ucapnya gemetar menahan takut.


Melihat Cinta gemetar ketakutan dengan memejamkan matanya. Rafa pun akhirnya meninggalkannya dan langsung menuju kamar mandi.


Cinta membuka matanya perlahan, saat mendengar suara pintu kamar mandi yang dibanting keras oleh Rafa.

__ADS_1


Tubuhnya terduduk dilantai. Kepalanya bersandar pada bagian pintu. Air matanya menetes. Cinta mulai menangis melepas segala perasaan sesak yang sejak tadi tertahan dalam hatinya.


__ADS_2