
Seorang pemuda berbadan kekar dan tegap, berdiri didepan meja kerja Rafa.
"Jadi, Hendra itu pernah menjadi klien saya?" Tanya Rafa pada pemuda itu.
"Iya Tuan. Tepatnya tiga tahun lalu, setelah dia menikahi nyonya Cinta, Tuan menandatangani kontrak kerja sama proyek yang ada di Kalimantan." Jelasnya sambil mencocokkan tanggal pernikahan Cinta dengan Hendra dan tanggal penandatanganan kontrak kerja sama itu.
Rafa memegang keningnya, lalu dia berdiri menatap jauh menembus tembok kaca ruangannya.
Bbrraakkk...
Rafa menendang keras kursinya. Kursi itu melayang menabrak tembok kaca. Entah sekuat apa Rafa menendang kursi itu hingga mengakibatkan retak pada bagian tembok kaca.
Pemuda itu tetap tenang. Dia tidak mudah terkejut atau kaget lagi dengan emosi Rafa yang berubah ubah.
"Hotel itu saat ini sedang naik daun Tuan. Banyak Turis yang datang untuk liburan menginap di hotel itu." Sambung pemuda itu menjelaskan.
Tangan Rafa mengepal erat, satu pukulan kuat melayang keatas meja kerjanya.
"Hana..." Teriaknya sangat lantang.
Hana yang mendengar namanya dipanggil, langsung memasuki ruangan Rafa. Betapa terkejutnya dia melihat kursi yang sudah hancur, tembok kaca yang retak dan tangan Rafa mengeluarkan darah.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Hana gugup.
Dia berdiri disebelah pemuda itu.
"Tarik semua dana dari Crom Building. Batalkan kontrak kerja sama bersama perusahaan itu." Menegaskan.
__ADS_1
Tangannya meraih tisu yang sedikit jauh darinya. Segera Hana mendekatkan tisu itu pada Rafa. Lalu Rafa mengelap darah di punggung tangannya.
"Baik Tuan. Tapi, jika kita membatalkan kontrak, kita harus membayar pada mereka sebanyak..."
"Berapapun itu saya tidak peduli. Yang terpenting saat ini. Buat perusahaan itu bangkrut ambil alih kepemilikan hotel itu. Jika perlu buat dia bertekuk lutut meminta bantuanku." Ucapnya menegaskan.
"Baik Tuan. Akan segera saya laksanakan." Jawab Hana cepat tanggap tanpa protes.
"Sekalian, tolong pesan kursi baru. Perbaiki temboknya juga." Ujarnya lebih santai. Emosinya telah usai sepertinya.
"Baik Tuan." Jawab Hana dengan sedikit membungkuk.
Rafa melangkah mendekati keduannya. Lalu memegang bahu Hana dan pemuda kepercayaannya itu.
"Kalian berdua, pergilah makan siang. Saya akan pulang untuk makan siang." Meninggalkan ruangannya dengan perasaan yang sudah kembali stabil.
"Jack, kamu kok bisa tahan sih sama kelakuan Tuan Rafa." Duduk disofa empuk kesayangan Rafa.
"Sama halnya seperti yang selalu kamu katakan. Tuan Rafa memang kasar dan menakutkan. Tapi, hanya saat aku bekerja dengannya aku merasa diperlakukan seperti manusia, bukan sebagai anjing peliharaan." Ungkap Jack yang ikut duduk disamping Hana.
"Kamu benar. Awalnya aku kira Tuan Rafa mempekerjakan aku untuk melayaninya di ranjang. Ternyata tidak sama sakali. Dia bahkan membuatku merasa menjadi wanita terhormat." Memejamkan matanya.
"Sudah berapa lama kamu bekerja dengan Tuan Rafa?" Selidik Jack.
"Kurang lebih lima tahun. Kamu sendiri?"
Jack merebahkan punggungnya disandaran sofa empuk itu.
__ADS_1
"Awalnya aku menemui Tuan Rafa untuk merebut Jesika. Tapi, Saat melihat betapa Jesika tergila gila pada Tuan Rafa, aku menjadi jijik padanya. Dan Ternyata Tuan Rafa selalu mengawasiku sejak hari itu. Saat dia merasa yakin padaku, dia pun menawarkan aku pekerjaan mudah dengan bayaran besar." Tuturnya.
"Apa tugas pertamamu?" Penasaran.
"Tepatnya enam tahun lalu, tugas pertamaku mencari wanita bernama Cinta Indira tanpa tahu wajahnya seperti apa." Melirik pada Hana yang menatap serius padanya.
"Tugas pertamamu mencari Nyonya?" Kaget mendengar penuturan Jack.
"Iya. Mencari Nyonya Cinta." Ulangnya.
Sebentar Hana mengusak matanya dan menelan kasar ludahnya.
"Siapa sebenarnya Cinta? Dari sekian banyak wanita yang Tuan kencani, kenapa harus Cinta?" Sangat amat penasaran.
Jack menaikkan kedua bahunya. Dia tidak tahu sejauh itu. Jack juga tidak pernah bertanya hal seperti itu pada Rafa. Dia hanya menjalankan setiap tugas yang diperintahkan padanya.
"Tuan bahkan rela kehilangan miliyaran uang hanya untuk menjatuhkan mantan suami Nyonya Cinta." Ujar Jack.
"Mantan suami?" Tidak mengerti. Hana begitu banyak ketinggalan informasi.
Karena memang dia tidak terlalu ingin pusing mengetahui masalah Rafa. Dia hanya mengerjakan apa yang diperintahkan Rafa padanya tanpa mau bertanya banyak hal. Padahal Rafa sudah mempercayainya untuk menjadi penasehatnya sekaligus.
"CEO Crom Holding itu mantan suami Nyonya." Jack menjelaskan.
"Tuan Hendra itu mantan suami Nyonya?!" Ulangnya pelan.
Hana terkejut, dia membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Matanya membola dengan kening berkerut bahkan kedua alisnya seakan menyatu. Dan Jack hanya menghela napas dalam melihat keterkejutan Hana.
__ADS_1