Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 28


__ADS_3

Cinta mondar mandir di kamarnya menunggu hasil testpack nya. Ada perasaan senang jika memang dia positif hamil. Tapi ada perasaan takut juga, takut kalau seandainya Rafa marah dan gak terima. Cinta masih ingat ucapan Rafa yang belum menginginkannya hamil.


"Bismillah, semoga apapun hasilnya adalah yang terbaik untuk hubungan aku dan mas Rafa kedepannya. Aamiin." Mengusapkan kedua telapak tangannya kewajah.


Cinta akhirnya memeriksa hasilnya. Dan hanya ada satu garis merah saja. Artinya Cinta tidak hamil.


"Apa yang harus aku ucapkan. Alhamdulillah kah atau apa?" Terduduk lesu diatas tempat tidurnya.


"Ini pasti yang terbaik untukku dan mas Rafa." Mencoba berlapang dada menerima kenyataan itu.


Di perusahaan, saat ini Rafa sedang kewalahan memeriksa semua file file yang terus berdatangan kemejanya.


"Hana, kenapa file file ini bisa sebanyak ini?" Ucapnya mulai malas memeriksa.


"Ini file file selama Jesika masih menjabat. Dan ya, semua ini tidak pernah dikerjakan Jesika dengan serius. Karena dia hanya suka serius saat menggoda Tuan." Ungkap Hana blak blakan.


Sejauh ini hanya Hana yang berani mengatakan hal seperti itu pada Rafa. Karena, Hana memang diberi hak oleh Rafa bukan hanya sebagai sekretaris tapi juga sebagai penasehat.


"Kucing di kasih ikan, mana sanggup nolak, kan?" Ujar Rafa.


"Benar." Jawab Hana membenarkan. Dia malas berdebat dengan atasannya itu.


"O iya, Hana. Kalau seandainya kamu bertemu lagi sama istri saya. Tolong panggil dia dengan namanya saja." Ucap Rafa yang membuat Hana heran.


"Kenapa Tuan?" Selidiknya penasaran akan kebenaran apa yang barusan didengarnya.


"Istri saya ingin lebih dekat dengan kamu. Jadi dia tidak suka dipanggil Nyonya." Jelasnya.

__ADS_1


"Baiklah." Ucap Hana ragu.


Satu jam...


Dua jam...


Tiga jam...


Empat jam...


Semua waktu berlalu begitu saja. Hingga akhirnya Rafa menyelesaikan pekerjaannya. Saat ini dia bersiap untuk pulang, sebelum itu dia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Sementara itu, di rumah. Cinta baru saja selesai membaca surah Al-mulk. Surah kesukaannya saat hatinya sedang dirundung rasa tak menentu.


Tok... tok...


"Nyonya, boleh saya masuk." Seru Imah dari luar kamar.


"Maaf mengganggu. Saya menyampaikan pesan tuan Rafa." Ucapnya.


"Tuan Rafa sudah pulang?"


"Sudah Nyonya. Dan Tuan bilang Nyonya harus menemuinya di kamar bawah." Jelas Imah.


"Baik, bik. Sebentar lagi saya akan menemuinya." Ucapnya tersenyum yang terlihat dari kedua ujung matanya.


Imah pun segera meninggalkan kamar itu. Lalu, Cinta langsung melepas mukena dan menggantinya dengan jilbab dan cadarnya. Kemudian dengan langkah ragu dia menuju kamar bawah tangga, dimana suamianya sedang menunggu.

__ADS_1


"Mas, boleh aku masuk?" Serunya dari luar kamar.


"Siapa yang memerintahkanmu untuk meminta izin saat masuk ke sini?" Teriaknya dari dalam.


Mendengar itu, segera saja Cinta masuk. Tapi, anehnya saat Cinta masuk ke kamar itu, Rafa duduk di sofa dengan kaki menyilang ke atas. Biasanya jika sudah seperti ini, pertanda Cinta akan mendapat hukuman.


"Akui kesalahanmu hari ini, sebelum aku menghukummu." Ujarnya santai sambil menatap datar mata Cinta.


"Kesalahan? Maksudnya?" Tanya Cinta tidak menyadari kesalahan yang dibuatnya hari ini.


"Hari ini kamu membuatku marah. Aku marah, karena ada penyebabnya. Dan penyebabnya adalah kesalahan yang kamu lakukan hari ini." Menjelaskan dengan sangat rinci.


Cinta mencoba memikirkan kesalahan apa yang diperbuatnya hari ini.


'Apa masalah tentang Joy?' Tebaknya dalam hati.


"Jj...j. Joy?" Ungkap Cinta gagu.


Rafa menghela napas berat. Dia mulai bangkit dari sofa. Dia melangkah mendekati Cinta.


"Aku mau mandi. Jadi pikirkan apa kesalahanmu. Setelah aku selesai mandi, jika kamu masih belum mengetahui kesalahanmu. Aku pastikan hukuman kali ini tidak akan terlupakan seumur hidupmu." Bisiknya ditelinga Cinta.


Cinta berpikir keras, mencoba mengingat kesalahan yang dilakukannya hari ini selain dari permasalahan tentang Joy.


"Kesalahan apa coba?" Mengusak kepalanya.


"Apa karena..." Mengingat akan kejadian siang tadi.

__ADS_1


Cinta mengingat kesalahan yang dilakukannya tadi siang.


"Ya Allah. Apa karena aku lupa memaki hijab dan cadarku tadi siang? Jika memang karena itu, apa kabar nasibku malam ini" Duduk cemas menunggu Rafa selesai mandi.


__ADS_2