
(Masih kisah masa lalu) 😄
Mobil pak Bay berhenti tepat di halaman rumah Satria dan Fita. Pak Bay heran, kenapa bisa Cinta pulang sekolah jalan kaki dan tidak ada yang mencarinya, seakan dia anak dari keluarga tidak mampu. Tapi, rumah ini cukup mewah.
"Ini benar rumah Nona?" Kurang yakin.
"Dulunya iya. Tapi semenjak Ayah dan Bunda meninggal, rumah ini jadi milik Pakde dan Bude. Saya hanya tinggal bersama mereka, karena tidak punya tempat tinggal lain." Jawab Cinta polos.
Dahi pak Bay mengkerut mendengar itu. Ternyata kisah Nona kecilnya ini sangat menyedihkan. Tapi, dia terlihat baik baik saja meski dimanfaatkan oleh Pakde dan Budenya.
"Terimakasih telah mengantar saya. Sampaikan terimakasih saya pada Tuan muda yang menolang saya." Ucapnya lalu membungkuk saat sudah turun dari mobil.
Hanya senyuman yang diberikan pak Bay, lalu dia berlalu meninggalkan Cinta yang masih terus menatap kepergian mobil yang dikendarai pak Bay.
"Cinta. Kamu kemana saja? Kenapa baru pulang?" Panggil seseorang yang baru keluar dari rumahnya.
"Joy. Kamu disini?" Menghampiri Joy.
__ADS_1
"Aku mencarimu disekolah. Tapi kata teman teman kamu sudah pulang." Omelnya kesal pada Cinta.
"Maaf, aku tidak enak badan. Jadi aku memilih pulang duluan tanpa menunggu kamu." Jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu kamu masuklah, istirahat. Kamu pasti lelah karena harus berjalan kaki." Meraih pergelangan tangan Cinta.
"Kamu tidak boleh memegang tanganku lagi, Joy." Menarik tangannya.
"Kenapa? Bukankah aku memang selalu begitu?" Tanya Joy kecewa.
"Kita sudah hampir remaja. Kata Bunda, kalau sudah hampir remaja, kita harus belajar untuk tidak lagi bergandengan tangan. Supaya nanti saat remaja kita sudah terbiasa untuk tidak lagi berpegangan tangan, karena kita bukan muhrim." Jelasnya.
Cinta masuk ke rumah dengan perasaan sedikit takut. Sedangkan Joy sudah dijemput sopirnya untuk segera pulang ke rumahnya.
Begitu Cinta tiba di dalam rumah, sayup terdengar olehnya perbincangan pakde dan bude.
"Jadi kapan tepatnya kita bisa menjual ini, Mas. Aku sudah bosan tinggal disini." Rutuknya kesal.
__ADS_1
"Dua hari lagi sayang. Dua hari lagi, rumah yang mas pesan siap. Kita bisa langsung pindah kesana, dan rumah ini akan segera terjual saat itu juga." Jelasnya.
"Jadi kita akan pindah ke rumah baru kita ya, Pa, Ma?" Tanya Febi yang sedang asik menonton TV.
"Iya sayang. Kita akan meninggalkan rumah butut dan tua ini. Ya, walau lumayan mewah, tetap saja Mama sudah muak tinggal di rumah ini." Menghampiri Febi.
Diam diam Cinta menangis, mengingat rumah ini satu satunya tempat yang membuatnya nyaman. Di rumah inilah Cinta lahir dan bersar. Dirumah ini juga Cinta mendapatkan kasih sayang kehangatan dari Ayah dan Budanya. Lalu, tiba tiba dengan seenaknya mereka mau menjual rumh ini.
"Ayah, Bunda... Maafkan aku yang tidak bisa menjaga rumah ini. Aku hanya anak kecil yang tidak punya keberanian dan tidak punya tempat mengadu." Ucapnya dalam tangisan.
Lalu, Cinta kembali melangkah menuju kamarnya tanpa ketahuan oleh pakde, bude dan Febi.
Setibanya di kamar, Cinta langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Terimakasih ya Allah, engkau berikan teman untuk membantu bahagiaku. Terimakasih engkau pertemukan orang orag baik yang mau membantuku, semoga aku bisa bertemu lagi dengannya meski sebentar." Ujar
Lalu matanya terpejam begitu saja dengan masih memakai seragam sekolahnya. Cinta begitu lelah, ditambah sedih mealalui harinya hari ini, hingga matanya cepat terpejam dan langsung terlelap.
__ADS_1
Saat ada masalah, Cinta memang lebih senang melupakannya dengan tertidur. Saat terbangun, dia akan merasa hari baru lagi, ujian lainnya dan kebahagiaan sedang menantinya didepan sana.