Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 60


__ADS_3

Seperti yang telah direncanakannya. Joy kini benar benar datang menemui Cinta. Tentunya dia sudah mematikan semua cctv di rumah Rafa.


"Joy..." Sambut Cinta sedikit terkejut dengan kedatangan Joy yang tiba tiba.


"Cinta. Aku sangat merindukanmu, sayang." Ucapnya menatap kearah Cinta yang masih berdiri di anak tangga terakhir.


"Silahkan duduk Joy." Melangkah menuju sofa.


Joy pun duduk dengan santainya disana. Dan Cintapun ikut duduk. Tidak berapa lama kemudian, Imah datang membawakan dua gelas jus orange.


"Silahkan diminum, Joy." Ajak Cinta yang sudah lebih dulu meminum jus itu.


"Jus yang enak. Aku suka rasa manisnya yang sangat pas dilidah." Puji Joy setelah mereguk jus itu.


Cinta hanya tersenyum, terlihat dari kedua sudut matanya.


"Ikutlah bersamaku, Cinta. Rafa bukan pria yang baik." Bujuk Joy.


"Aku sangat ingin ikut bersama kamu, Joy. Tapi, aku tidak punya alasan untuk meninggalkan Rafa." Tuturnya sedih


"Mengapa harus memiliki alasan untuk meninggalkannya? Apakah aku tidak termasuk alasan kuat untuk meninggalkan Rafa?" Tegas Joy mulai tersulut emosi.


"Bukan begitu Joy. Aku takut Rafa akan melakukan sesuatu yang mengerikan pada kita. Kamu mungkin tidak tahu, Rafa adalah seorang yang sangat menakutkan. Dia tidak akan pernah melepaskan aku begitu saja." Ucap Cinta serak, menahan perasaan ingin menangis.


Sebentar Joy menghela napas. Lalu, dia berdiri sejenak mencoba memikirkan cara.


"Bagaimana kalau kita penjarakan saja si Rafa." Kembali duduk dan meghadap pada Cinta dengan tatapan serius.


"Memenjarakan Rafa? Tidak mungkin Joy. Dimata semua orang, bahkan dimata dunia, Rafa adalah seorang yang sempurna tanpa cacat sedikitpun. Kita tidak bisa menjebaknya." Bantah Cinta.


Joy kembali memikirkan rencana. Hingga akhirnya sebuah ide gila melintas dalam pikirannya.


"Cinta, dengarkan aku baik baik. Tatap mataku. Aku mohon." Perintah Joy memohon.


Cinta mengikuti permintaan Joy. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan. Rupanya Joy memasukkan hipnotisnya melalui tatapan mata mereka.


"Cinta, lupakan semua kenangan menakutkan dan menyedihkan dari masa lalumu. Cukup hanya ingat apa yang aku katakan. Jika kamu mengerti anggukkan kepalamu." Perintahnya dengan terus saling bertatapan.


Cinta mengangguk, pertanda mengerti ucapan Joy. Itu juga berarti Joy berhasil menghipnotisnya.


"Saat hitungan ke tiga, pejamkan matamu. Lalu saat aku memanggil namamu, bangunlah dengan menjadi Cinta yang baru tanpa kenangan masa lalu yang menakutkan." Ucapnya.


Kembali anggukan Cinta berikan. Saat merasa hipnotisnya berhasil, Joy pun mulai berhitung.

__ADS_1


"Satu... dua... tiga, pejamkan matamu."


Cinta memejamkan matanya. Kini Cinta tertidur bersandar pada senderan sofa.


"Saat aku memanggil namamu, bangunlah. Jadilah Cinta yang baru, penuh keceriaan dan berani menghadapi segala macam kesakitan dan ketakutan." Ucap Joy.


"Cinta Indira, bangunlah." Panggilnya.


Segera Cinta membuka matanya. Lalu dia menatap Joy dengan tatapan bahagia, seakan baru melihat Joy untuk pertamakalinya setelah lama berpisah.


"Joy, aku sangat merindukanmu." Ucapnya dengan mata berkaca kaca.


"Aku juga sayang." Sambut Joy yang hanya bisa menatap Cinta.


Sebenarnya dia ingin memeluk tubuh Cinta. Tapi, entah mengapa terasa enggan dan berat untuk melakukan itu.


"Cinta, aku akan menunjukkan sesuatu yang bisa membuat kamu terbebas dari Rafa." Menggeser duduknya sedikit mendekat pada Cinta.


Joy memutarkan video dilayar ponselnya dan memperlihatkan pada Cinta.


"Kenapa aku diikat disana Joy?" Tanya Cinta saat melihat rekaman yang menampakkan dirinya diikat disalah satu tiang rumah tua.


"Ini adalah hari saat Rafa menculikmu. Dia berniat membunuhmu." Jelas Joy.


"Papa nya memintanya menipu kamu, Cinta. Karena Prayoga itu menginginkan perusahaan warisan ayahmu, sayang." Menjelaskan kebohongannya.


"Begitukah?" Tanya Cinta.


Joy mengangguk. Sedikit senyum terlihat samar dibibirnya. Dia merasa senang, karena kembali berhasil membohongi Cinta.


"Lalu, siapa yang bertopeng ini Joy?"


"Itu Rafa, sayang."


"Kenapa Jeno ada disini juga?" Menunjuk Jeno Lim, adik Joy yang dibunuhnya hari itu.


"Jeno mencoba menyelamatkanmu Cinta. Tapi, lihatlah Rafa malah mencekiknya." Ucap Joy sedih.


Cinta ikut sedih dan merasa bersalah, karena menjadi penyebab Jeno meninggal.


"Maafkan aku Joy. Aku memang pantas dipenjara seperti hari itu. Aku yang menyebabkan Jeno meninggal." Menangis terisak.


"Tenang Cinta. Itu bukan kesalahanmu, tapi Rafa. Dia yang melakukan semua itu." Bentak Joy beracting penuh emosi.

__ADS_1


"Dari mana kamu mendapatkan video ini, Joy?" Selidik Cinta yang mulai sedikit tenang.


"Febi. Dia menemukan kamera ini dilokasi kejadian."


"Sampaikan terimakasihku pada Febi. Karena dia kita bisa mengkap siapa pembunuh sebenarnya. Dan aku juga bisa terbebas dari Rafa." Ucapnya lebih tenang.


"Sekarang ikutlah bersamaku. Tinggalkan rumah ini, Cinta." Ajak Joy.


Sebentar Cinta terdiam. Dia seperti memikirkan sesuatu.


"Joy, izinkan aku tetap disini. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Aku ingin membalas Rafa sebelum kita jebloskan dia ke penjara." Memohon dengan sungguh sungguh.


Sebenarnya Joy tidak ingin meninggalkan Cinta di rumah Rafa. Dia ingin segera memaksa Cinta pergi. Tapi, melihat tatapan mata polos Cinta yang memohon, Joy pun luluh.


"Baiklah sayang. Tapi ingat, selalu memberi kabar tentang keadaanmu dan ingat, buat Rafa menyesal karena memperlakukan kamu dengan sangat buruk, serta menjadikan kamu tersangka pembunuhan Jeno." Ucapnya menegaskan.


Cinta mengangguk paham. Lalu, tidak lama kemudian Joy pergi dari rumah itu.


"Nyonya..." Imah menghampiri Cinta yang menangis menatap kepergian Joy.


Mila memperhatikan dari kejauhan. Cinta dan Imah mengetahui Itu. Hingga terpaksa Cinta masih harus berakting.


"Bik, ternyata Rafa membohongiku selama ini. Aku akan membalasnya." Ucap Cinta menegaskan. Lalu dia melangkah menuju kamar rahasia begitu Mila sudah tidak lagi memperhatikan mereka.


"Bik, aku takut..." Memeluk erat tubuh Imah.


Cinta meminta Imah untuk ikut masuk bersamanya ke kamar itu.


"Nyonya hebat. Akting Nyonya luar biasa." Puji Imah sambil menghapus air mata Cinta dan memberi tepukan lembut dipunggungnya.


"Mereka benar benar kejam, Bik. Aku takut menghadapi mereka sendirian." Ungkapnya menahan perasaan takutnya.


"Tuan Rafa akan selalu melindungi Nyonya." Memeluk erat tubuh gemetar Cinta.


"Jangan libatkan Rafa, bik. Aku akan membuat Joy terjebak dalam perangkapnya sendiri. Aku pastikan itu, Bik. Tapi, aku mohon, jangan beritahu Rafa. Aku tidak ingin Rafa ikut lagi dalam masalahku, bik. Joy sangat licik, aku tidak mau kehilangan Rafa lagi. Aku tidak ingin kehingan Rafa lagi, bik." Rengeknya memohon.


Imah ikut menangis sambil memeluk Cinta. Betapa Imah bangga bertemu dengan wanita sepintar dan secerdas Cinta. Entah dari mana ide untuk menipu Joy itu datang. Yang jelas, Imah hanya mengikuti semua yang diperintahkan majikannya itu.


"Bibik tidak salah memasukkan obat, kan?" Tanya Cinta yang sudah usai menangis. Dia sudah lebih tenang.


"Tidak Nyonya. Saya memasukkan dua butir pill halusinasi dalam jus Joy." Jelas Imah.


"Joy, selamat menikmati dunia halusinasi yang selalu kamu impikan." Ucap Cinta dengan penuh kemarahan.

__ADS_1


__ADS_2