Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 66


__ADS_3

Sebelum berangkat ketempat Joy. Jack sudah menghubungi Hana dan meminta Hana untuk bersiap, dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi pada Cinta. Jack juga menanyakan tentang alat canggih yang diberikan Cinta padanya. Rupanya, Hana yang memberikan alat itu, karena Cinta memintanya mencarikan alat itu setelah Cinta membaca novel action yang ditemukannya di kamar rahasia yang menyimpan banyak barang didalamnya.


Kini Cinta sudah berada di apartemen Joy. Dia mulai memasang wajah sedih dan ketakutan. Joy sangat percaya akan hal itu.


"Apa Rafa menyiksa kamu lagi?" Tanya Joy sambil mengulurkan sapu tangan pada Cinta untuk mengelap air mata yang sudah menetes.


Cinta tidak menjawab, dia hanya mengangguk saja. Dan air matanya kembali menetes dan kali ini lebih deras dari sebelumnya.


"Apa dia memukulmu?" Selidik Joy khawatir.


"Tidak, hanya saja... aku mulai mengingat sesuatu yang aku tidak tahu pasti apa itu." Ungkapnya.


Joy terdiam, ada perasaan khawatir saat mendengar Cinta mengatakan mulai mengingat sesuatu.


"Apa yang kamu ingat?" Penasaran dan khawatir.


Sebentar Cinta terdiam. Dia menghapus air mata dipipinya.


"Aku melihat seorang anak kecil memegang pisau penuh darah ditangannya." Jelas Cinta.


Joy mengepal erat tangannya. Dia mulai mencari cara agar Cinta tidak melanjutkan ingatannya.


"Apa kamu tahu siapa anak itu?" Perlahan mulai menyelidi Cinta dengan sangat hati hati.


Sementara, Jack yang saat ini menunggu Cinta ditempat persembunyiannya pun, ikut tegang mendengar pembicaraan Cinta dengan Joy.


"Aku tidak tahu, tapi aku yakin anak itu membunuh seseorang."


Mendengar penuturan Cinta yang seperti itu, Joy sedikit tenang. Dia yakin, yang muncul dalam ingatan Cinta adalah Rafa. Joy senang, kerena Cinta menganggap Rafa pembunuhnya.


"Cinta, saat hari Jeno dimakamkan, seseorang datang menemuiku. Dia memberikan selembar foto yang ditemukannya di rumah tua itu." Tutur Joy.


"Foto apa Joy?"


Sebentar Joy masuk kekamarnya. Kemudian dia keluar membawa selembar foto usang.


"Ini fotonya, kata orang itu, salah satu dari anak anak ini adalah pembunuh Jeno." Ungkapnya.


Mata Cinta terbelalak kaget melihat foto Rafa saat masih kecil itu ada ditangan Joy. Tapi dengan cepat Cinta mengatasi rasa kagetnya.

__ADS_1


"Apa anak ini yang muncul dalam ingatanmu?" Selidik Joy menunjuk pada wajah Rafa.


Cinta mencoba menenangkan rasa yang mulai berkecamuk tidak menentu dalam dirinya.


"Iya. Anak ini yang selalu muncul dalam ingatanku. Joy aku takut." Ucapnya dengan pandangan yang sudah mulai buram akibat air mata menggenang dipelupuk matanya.


Sejenak Joy berpikir, lalu dia kembali menunjuk wajah Rafa dalam foto itu.


"Kamu tahu siapa anak ini?" Ucap Joy nenatap tajam wajah sedih Cinta. Dan Cinta hanya menggeleng.


"Ini Rafa." Ungkap Joy.


Cinta terdiam, dia merubah ekspresi sedih diwajahnya menjadi ekspresi ketakutan dan juga amarah.


"Jadi, selama ini aku tinggal dengan orang yang sudah membunuh Jeno?" Ucapnya terbata bata.


Joy mengangguk. Dia menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Cinta.


"Akhir akhir ini, aku menyelidiki kembali kasus penculikan yang terjadi pada kamu dan tentang kematian Jeno. Lalu, tidak sengaja aku bercerita pada Febi tentang itu. Dan Febi memberikan kamera tua yang didalamnya ada rekaman kejadian itu." Ungkap Joy.


Air mata Cinta menetes. Kali ini bukan acting, tapi dia benar benar menangis. Cinta merasa sedih sekaligus bahagia, karena selangkah lagi, dia akan menemukan bukti kuat untuk menjatuh Joy dan melindungi Rafa dari fitnah yang Joy rencanakan.


"Boleh aku melihatnya, Joy?" Bertanya dalam tangisnya.


"Ini videonya. Kalau kamu merasa takut, atau sudah tidak kuat melihat video ini, tutuplah matamu. Dan genggam tanganku, Cinta." Menyarankan.


Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Cinta. Jantungnya saat ini berdetak tidak beraturan.


Video itu mulai berputar, dimana Cinta terduduk lemah di lantai, menatap Rafa memegang pisau penuh darah ditangannya. Lalu, sesaat terdengar suara sirine polisi dan saat itulah Rafa berlari meninggalkan Cinta.


Polisi masuk bergerombolan, memeriksa tubuh kaku Jeno. Lalu menanyakan pada Cinta bagaimana kejadiannya. Cinta yang ketakutan tidak bisa mengatakan apa apa, dia hanya diam dan menangis.


"Bawa kekantor. Dia akan menjawabnya di kantor." Saran seorang Polisi lainnya.


Air mata Cinta menetes lagi dan lagi. Napasnya terdengar berat, ingatan kejadian hari itu kini terputar kembali dengan jelasnya dikepala Cinta.


"Cinta, kamu baik baik saja?" Mematikan Video itu. Joy hendak menyentuh bahu Cinta, tapi dengan cepat Cinta berdiri.


"Cinta, kamu kenapa?" Tanya Joy mulai khawatir melihat ekspresi wajah Cinta yang penuh amarah dan dendam.

__ADS_1


"Aku akan membunuh Rafa sekarang juga." Gertaknya penuh emosi.


"Jangan gegabah dulu Cinta. Rafa itu licik, dia akan lebih dulu membunuhmu kalau kamu terburu buru seperti ini." Cegah Joy.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Joy? Aku benci Rafa, aku sangat membencinya. Apa kamu tidak membencinya? Apa kamu tidak ingin membunuhnya? Joy, dia yang membunuh Jeno." Teriak Cinta memaki dengan suara lantang dan tegas.


Joy terdiam sebentar. Lalu dia mulai berdiri dan melangkah membelakangi Cinta. Bibirnya tersenyum senang, karena dia mengira Cinta masuk dalam perangkapnya.


"Aku sedang memikirkan cara untuk menghancurkan Rafa. Sekarang semua suruhanku sudah bergerak untuk memulai perang bersama Rafa." Tuturnya.


"Apa yang kamu rencanakan? Apa aku bisa membantumu?" Tanya Cinta antusias.


"Bertahanlah sebentar lagi. Tetaplah berpura pura lemah dihadapan Rafa. Ikuti semua yang dia perintahkan. Lalu, saat semua rencanaku berhasil, aku akan menjemputmu, aku akan merebutmu dari Rafa." Menatap wajah Cinta.


"Aku sudah tidak sanggup menerima semua penyiksaan yang dilakukannya, Joy. Aku lelah, aku capek." Terduduk lemah di sofa.


Joy mendekati Cinta. Dia ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Cinta.


"Bertahanlah, sayang. Sebentar lagi." Meyakinkan Cinta.


Cinta menatap wajah Joy dalam dalam. Lalu, dia menundukkan pandangannya segera.


"Apa yang kamu rencanakan Joy? Bolehkah aku membantumu?" Tanya Cinta penasaran.


Joy menghela napas, lalu kembali berdiri. Melangkah menjauh dari Cinta.


"Aku akan menghanncurkan perusahaannya. Kamu tahu, si bodoh itu, saat ini sedang mati matian berjuang untuk mengambil alih salah satu perusahaanku. Dia tidak tahu, saat dia mendapatkan perusahaan itu, dia akan dituduh dengan tuduhan pencurian harta warisan dan juga dia akan segera mendekam dipenjara, karena kasus pembunuhan Jeno." Tertawa sebentar.


"Mama dan Papa pasti akan mencabut izin kerjasama perusahaan. Dan Rafa akan dituduh sebagai CEO yang telah menggelapkan uang perusahaan. Saat dia merasa semua nya hancur dan hilang, dia akan mulai untuk menyayangi kamu. Pada saat itulah, aku akan merebutmu darinya." Jelas Joy dengan sangat detile.


Cinta terdiam. Ternyata Joy sudah merencanakan hal seperti ini sejak lama.


"Lalu, kenapa kamu mengirim orang untuk menculikku?" Tanya Cinta Heran.


Joy tersenyum, lalu tertawa mengejek.


"Mereka hanya umpan. Aku ingin tahu, apa yang akan Rafa lakukan saat kamu diculik. Dan lihatlah, Rafa bahkan menahan suruhanku. Padahal mereka tidak tahu apapun rencanaku." Ungkapnya.


"Kembalilah untuk saat ini, sayang. Pakai benda ini. Agar aku bisa mengetahui apa yang terjadi padamu." Memberikan alat yang sama seperti yang saat ini digunakan Cinta.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku, Joy." Menerina benda itu.


"Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu, Cinta." Menatap wajah sendu Cinta yang tersimpan dibalik cadarnya.


__ADS_2