Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 13


__ADS_3

Suasana dapur terasa sangat mencengkam. Imah berlutut sambil menundukkan kepalanya. Cinta masih ditempat tadi, jatuh di atas sisa-sisa pecahan kaca.


Rafa menatap tajam matanya sambil memegang dagu Cinta. Lalu, satu tangannya mencabut pecahan kaca yang menancap diujung jari kaki Cinta.


"Awhkkh, Ya Allah…" Terikanya terkejut bercampur sakit.


Imah memejamkan matanya erat, tidak berani menyaksikan perlakuan Rafa pada Cinta.


"Ini akan lebih menyakitkan." Menarik pecahan kaca lain yang menancap di telapak kaki Cinta.


Sekali lagi Cinta menjerit, sambil menggenggam erat kerah kemeja Rafa tanpa disadarinya.


Setelah memastikan tidak ada lagi beling yang menancap di kaki Cinta. Rafa langsung menggendong tubuh Cinta. Sontak saja Cinta mengalungkan tangannya di leher Rafa. Sedangkan matanya tertutup rapat.


"Bik, bersihkan semuanya. Jangan tertinggal pecahan kacanya."


"Baik Tuan." Segera bergegas mencari sapu.


Sementara itu, Febi menatap penuh amarah kearah Rafa dan Cinta. Dia merasa muak melihat Cinta yang selalu berpura-pura lemah dihadapan Rafa.


Rafa membawa Cinta ke kamar khusus yang ada dibawah tangga. Kamar ini adalah tempat Rafa biasanya menyendiri.


Begitu tiba di kamar, Rafa mendudukkan tubuh Cinta diatas tempat tidur. Kaki cinta yang berdarah itu menjuntai.


"Buka mata." Perintah Rafa.


Segera Cinta membuka matanya. Dia heran karena tempatnya saat ini sangat asing. Cinta celingukan tidak tenang.


"Ini kamar pribadiku."


Rafa melangkah menuju salah satu lemari besar. Begitu lemari itu dibuka, semuanya penuh dengan obat-obatan dan juga alat medis lainnya.


"Apa Tuan seorang dokter?" Tanya Cinta tanpa ragu.


Perkatanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa disadarinya.


"Ya, aku diam-diam kuliah kedokteran. Dan disini semuanya tersimpan rapi." Jelasnya datar.


Cinta mengangguk paham. Dia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Secukupnya saja.


"Angkat gamismu." Perintahnya.


Cinta pun mengangkat gamisnya hingga membuat seluruh luka di kakinya terlihat jelas.


"Biasanya kamu selalu menggunakan kaos kaki? Kenapa hari ini tidak?" Tanya Rafa mulai mengoleskan obat merah ke area luka Cinta.


"Mmh... iishhssh, perih Tuan." Ucapnya sambil memejamkan mata menahan rasa perih pada luka yang terkena olesan obat merah itu.


"Kamu juga tidak memakai celana panjang dalam gamismu seperti biasa?"

__ADS_1


"Tadinya saya mau tidur siang Tuan. Saya tidak tahu kalau Mama Tuan akan datang." Jelasnya, masih memejamkan mata.


"Aku selalu bilang, jangan pernah mematuhi perintah siapapun dirumah ini kecuali aku. Lalu kenapa kamu masih membantah." Tegas Rafa sambil merekatkan perban di kaki Cinta.


"Kenapa Tuan baik sama saya?" Membuka matanya perlahan.


Pada saat itu, Rafa juga menatap matanya. Mereka saling menatap dalam diam.


"Karena kamu istriku." Jawabnya dengan suara lirih nyaris tidak terdengar oleh Cinta.


"Tapi Tuan tidak mencintai saya, kan?"


"Apa cinta sangat penting disaat sudah ada cinta dalam hatiku?" Tanya Rafa santai.


"Tuan mencintai seseorang?" Ucapnya sedih.


"Entahlah. Aku tidak tahu apa itu cinta. Lagi pula, cinta hanya akan memperbudak hidup."


"Kenapa Tuan tidak menikahi… Awhhk…" Teriak Cinta kaget, karena Rafa tiba-tiba mengeratkan perban di kaki Cinta.


"Tidurlah." Berdiri hendak melangkah pergi.


Pada saat itu Cinta meraih tangan Rafa, hingga membuat langkahnya terhenti.


"Pipi Tuan berdarah!" Seru Cinta.


Rafa menyentuh pipinya dan mengelap darah kering itu dengan tangannya.


"Itu darah. Pipi Tuan terluka."


Cinta berdiri dan melangkah untuk menghandang Rafa. Dia berdiri di depan Rafa dengan satu kaki, karena kaki lainnya sedang terluka. Tangan Cinta berpegangan erat di bahu Rafa.


"Tuan duduk, saya akan mengobati luka Tuan." Mendorong tubuh Rafa hingga Rafa terduduk diatas tempat tidur.


Cinta berlutut di lantai. Dia mengambil obat merah yang tadi digunakan Rafa untuk mengobati lukanya. Cinta pun langsung berusaha mengoleskan obat merah itu ke wajah Rafa, tapi tidak bisa karena wajah Rafa terlalu tinggi.


"Bisa Tuan dekatkan wajah Tuan?" Pintanya.


Tanpa protes, Rafa memajukan wajahnya hingga jarak wajah mereka sangat dekat.


Jantung Cinta berdegup kencang saat itu. Wajah mereka terlalu dekat, membuatnya gemetar.


"Bukankah kita sudah sering seperti ini?" Mencium bibir Cinta.


Mata Cinta terbelalak kaget. Dia tidak menyangka akan mendapat ciuman dari Rafa dalam keadaan seperti ini.


"Tuan…"


Rafa melanjutkan ciumannya. Ditariknya tubuh Cinta hingga beralih duduk dalam pangkuanya. Rafa mencium bibir Cinta tanpa henti, dan perlahan Cinta mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


"Mmhptt…" Memukul dada Rafa, karena Cinta kehabisan oksigen.


Rafa melepaskan ciuman itu. Tapi, dengan cepat Rafa membawa Cinta dalam posisi berbaring diatas kasur empuk itu. Cinta kini berbaring diatas tubuhnya.


Rafa meletakkan tangan kirinya dibawah kepalanya sebagai tambahan bantal yang terasa rendah. Sedangkan tangan kanannya memeluk erat pinggang Cinta.


"Tidurlah." Ucap Rafa sambil memejamkan matanya.


Cinta semakin dag dig dug dengan posisi berbaring seperti itu. Tapi, bibirnya tersenyum senang, saat telinganya mendengar degupan jantung Rafa yang hampir seirama dengan detak jantungnya.


"Jantung Tuan bergetar sangat kencang." Ucapnya.


"Pejamkan matamu. Bukankah kamu bilang ingin tidur siang?" Rutuk Rafa kesal.


"Baik Tuan." Memejamkan matanya.


Rasanya sangat nyaman dan hangat berbaring dengan posisi seperti saat ini. Ya, Cinta yang merasa nyaman. Tapi tidak untuk Rafa. Dia mulai merasa sesak dan kepanasan dihimpit tubuh Cinta.


Sebenarnya bisa saja Rafa menurunkan tubuh Cinta dari atasnya. Tapi, entah mengapa Rafa tidak ingin melakukan hal itu, dia tidak ingin mengganggu tidur Cinta yang mulai lelap.


Ting…


Suara notif masuk di ponsel Rafa. Segera saja Rafa meraih ponselnya yang berada diatas nakas samping tempat tidurnya.


Rupanya ada email dari Jesika. Dia mengirim video pendek. Karena penasaran Rafa memutar video berdurasi 12 detik itu.


"Wanita murahan. Apa dia mengancamku dengan video ini? Beraninya kamu melawanku Jesika." Gertaknya tertahan.


Lalu Rafa membalas emailnya, Rafa meminta Jesika menghapus video itu.


~Segera hapus video itu kalau kamu masih ingin hidup.~


~Akan aku sebarkan video itu. Seluruh dunia akan tahu seperti apa seorang Rafa Aditya Pratama.~ Balas Jesika.


Rafa terbawa Emosi. Hampir saja dia berteriak menyumpah. Tapi, semua itu ditahannya, karena ada Cinta yang terlelap diatasnya.


~Lakukan apapun yang kamu suka. Aku tidak peduli.~


~Kamu menantangku Rafa?~


~Jika iya, kamu mau apa?~ Tantang Rafa.


~Hahhahaa… Baiklah jika itu maumu. Sekarang kamu boleh tertawa sepuasnya. Karena sebentar lagi, hanya akan ada air mata dalam hidupmu Rafa.~


~Sayangnya aku tidak tertarik dengan saranmu. Lebih baik kamu saja yang tertawa.~


Jesika mengirim foto Cinta yang sedang berciuman dengan seorang lelaki.


Mata Rafa terbelalak kaget melihat foto itu. Wajah Cinta sangat jelas menikmati ciuman itu. Dia juga tidak memakai cadarnya. Tapi, Rafa tidak bisa melihat wajah lelaki itu, karena tertutup wajah Cinta.

__ADS_1


~Hadiah dariku. Saat aku sebarkan foto itu, seluruh dunia akan tahu, istri kesayangan seorang Rafa hanya wanita murahan yang bersembunyi dibalik pakaian syar'i-nya.~


Rafa Emosi, dia mematikan ponselnya seketika. Tangannya kini beralih memeluk erat tubuh Cinta.


__ADS_2