
"Apa kamu sudah menemukan Cinta?" Tanya seorang Pria yang menutupi wajahnya dengan topeng.
"Maaf Tuan. Saya belum bisa menemukan keberadaannya." Kilah Jesika berbohong.
"Bukankah kamu bilang dia menikah dengan mantan bosmu?" Tanya Pria itu curiga.
"Ternyata bukan Cinta yang Tuan maksud. Dia hanya wanita kampungan biasa Tuan." Jelas Jesika.
"Saya tidak peduli tentang itu. Yang saya mau, kamu bawa Cinta itu ke hadapan saya. Nanti, saya sendiri yang akan menentukan, apakah dia Cinta yang saya cari atau bukan." Tegasnya.
'Dasar keras kepala. Kenapa harus Cinta. Apa specialnya coba. Semua orang melindungi dan menginginkan dia.' Rutuknya dalam hati.
"Apa kamu mendengarkan saya?" Menatap wajah kesal Jesika.
"Iya Tuan. Akan saya bawa wanita itu secepat mungkin."
"Pergilah. Saya ingin sendiri." Perintahnya pada Jesika.
Setelah membungkuk sebentar, Jesika pun meninggalkan pria bertopeng itu sendiri di kamarnya.
"Cinta, tidak sedetikpun aku bisa melupakanmu. Aku pastikan akan mendapatkanmu kali ini." Gumamnya menatap foto gadis kecil berjilbab merah.
Sementara itu, saat ini Cinta sedang tertidur siang di kamar tanpa cctv itu. Ya, kini Cinta mendapat izin untuk keluar masuk kamar tersebut langsung dari Rafa.
Hal itu membuat Febi mengamuk. Seminggu terakhir, Cinta selalu berada di kamar itu. Sehingga menyulitkannya untuk menyiksa Cinta.
"Imah. Cepat suruh Cinta keluar dari kamar itu!" Perintahnya meneriaki Imah.
"Maaf Nyonya. Saya tidak diizinkan Tuan Rafa untuk mendekat ke kamar itu, kecuali Nyonya Cinta yang memanggil saya." Jelasnya.
Febi semakin naik darah. Dia kesal dengan aturan Rafa yang melarang semua orang mendekati kamar itu. Dia kesal, karena Rafa menjadikan Cinta nyonya besar di rumah yang seharusnya dialah Nyonya besarnya.
Lalu, tiba-tiba Febi tersenyum senang. Dia mendapatkan ide untuk membuat Cinta keluar dari kamar itu.
"Akhww…" Teriak Febi sambil berpura-pura terpeleset di lantai.
Semua Maid khawatir, mereka menghampiri Febi dan membantu Febi untuk dipindahkan ke sofa. Tapi, Febi malah berteriak histeris, meronta merasakan sakit pada perutnya.
"Sakitt… perutku sakit… Auwwkkkhh…" Teriaknya.
Semua Maid khawatir, dan salah satu dari mereka langsung menelpon Rafa.
Cinta mendengar teriakan Febi. Dia kini mencoba mendengar apa yang terjadi dari balik daun pintu kamarnya. Dan yang terdengar raungan kesakitan dari Febi.
"Febi, apa kandungannya?" Gumamnya khawatir.
"Haruskah aku keluar untuk melihat kondisinya?" Mondar mandir di depan pintu kamar.
"Tapi, tuan Rafa tidak mengizinkan aku keluar sebelum dia pulang." Ucapnya teringat pesan Rafa.
"Nyonya tahan sebentar, saya sudah menelpon tuan Rafa. Dan dia dalam perjalanan pulang sekarang." Jelas Maid yang tadi menelpon Rafa.
Imah memperhatikan dari ruang tengah. Dia mendapati senyuman tipis dibibir Febi saat mendengar tuan Rafa akan segera tiba.
__ADS_1
'Dasar licik. Ya Allah lindungi nyonya Cinta dari amukan tuan Rafa. Aamiin.' Batinnya.
"Sakit, Cinta tolong… perutku sakit." Rintihnya.
Sementara para Maid tidak bisa melakukan apapun, karena Febi melarang mereka untuk menyentuhnya.
"Darah... aawwkkhh, ada darah. Apa aku keguguran… tidakkk." Teriaknya.
Para Maid membolakan matanya saat mengetahui kenyataan majikan mereka itu sedang berakting saja.
"Apa yang terjadi?" Tanya Rafa yang baru saja tiba.
"Nyonya kesakitan Tuan." Jawab salah seorang Maid.
"Apa yang terjadi, Febi?" Mendekati Febi.
"Sakit, disini rasanya sakit." Mengarahkan tangan Rafa untuk menyentuh perutnya.
Segera Rafa menarik tangannya sebelum benar-benar menyentuh perut Febi.
"Bik Imah, panggil Dokter Aulia. Suruh dia datang sekarang." Perintah Rafa.
"Baik Tuan."
Imah langsung menelpon dokter Aulia. Dan Febi mulai cemas. Dia tidak tahu harus melakukan apapun saat ini.
"Apa yang kamu rasakan?" Tanya Rafa mengelus wajah Febi.
"Tadi perutku sangat sakit. Sekarang sudah membaik." Ucapnya dengan ekspresi wajah sedih.
Febi mengangguk, lalu dia memegang erat tangan Rafa yang masih mengelus pipinya.
"Aku rasa sakitnya sudah hilang. Mungkin, baby merindukan kamu, sayang." Ucapnya.
Mata Rafa menyipit diikuti keningnya yang juga ikut mengerut.
"Dia bukan baby ku. Tidak mungkin dia merindukan aku. Dan satu lagi, yang berhak memanggilku dengan kata sayang itu, hanya Cinta." Berdiri meninggalkan Febi.
Rafa melangkah masuk ke kamar dimana Cinta berada. Dan saat membuka pintu, tubuh Cinta terdorong hingga Cinta jatuh di lantai.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu menguping?" Selidik Rafa.
"Saya hanya khawatir dengan keadaan Febi, Tuan."
"Tuan tuan tuan. Aku muak mendengar kata itu." Bentak Rafa dengan suara yang sangat lantang, bahkan terdengar sampai ke luar kamar.
Semua orang penasaran. Ada yang khawatir dengan keadaan Cinta saat ini. Tapi, ada juga yang bahagia, mendengar Rafa membentak Cinta.
"Apa saya melakukan kesala…"
"Pikir saja sendiri. Aku muak dengan semua ini." Membanting tubuhnya ketempat tidur.
"Maafkan saya Tuan."
__ADS_1
Mendengar Cinta masih juga memanggilnya Tuan, Rafa segera bangkit dari tempat tidur. Dia menghampiri Cinta dan memcium bibir Cinta dengan kasar. Cinta berontak dan memukul dada Rafa.
Tapi, Rafa semakin ganas. Dia mendorong tubuh Cinta ketempat tidur dan menindihnya. Rafa tidak melepaskan ciumnnya, dia memperdalam dan melakukannya dengan kasar. Rafa bahkan menggigit bibir Cinta, hingga Cinta merintih merasakan perih dibibirnya.
Air mata Cinta menetes, tangannya yang tadi memukul-mukul Rafa sudah tergeletak pasrah. Dia kehabisan tenaga dan juga napasnya terasa akan segera habis.
Merasakan hal itu, Rafa tersadar. Segera dia melepaskan Cinta. Dia bangkit dari tempat tidurnya, membiarkan Cinta menangis lemah ditempat tidurnya.
"Apa kamu masih sangat mencintai lelaki itu?" Tanya Rafa sinis.
Kini dia duduk di sofa yang menghadap kearah Cinta.
Mendengar pertanyaan itu, Cinta tediam. Dia mencoba mencerna baik-baik maksud pertanyaan Rafa.
"Apa hanya sentuhan lelaki itu yang kamu suka?"
Tidak ada jawaban. Tangisan Cinta kini semakin menjadi. Dia membulatkan tubuhnya diatas tempat tidur, dengan air mata yang terus mengalir.
"Jawab Cinta. Apa kamu masih menginginkan lelaki itu kembali?" Bentaknya sambil mendekati Cinta.
Melihat Cinta gemetar, perlahan Rafa menyentuh dahinya. Dan suhu tubuh Cinta sangat panas.
"Kamu sakit?" Tanya Rafa khawatir.
Diangkatnya tubuh Cinta hingga masuk dalam pangkuannya.
"Kamu demam." Menghapus air mata dipipi Cinta.
"Saya tidak suka setiap kali Tuan bertanya tentang masa lalu saya." Ucap Cinta terbata-bata.
"Saya tidak mencintainya lagi." Jelasnya.
Rafa memeluk erat tubuh Cinta. Dia mencium kening Cinta dengan penuh kasih.
"Maafkan aku, maafkan aku." Berucap diatas puncak kepala Cinta.
Tangisan Cinta seketika berhenti saat mendengar kata maaf dari seorang Rafa.
"Lalu kenapa kamu tidak bisa memanggilku sayang?" Tanya Rafa datar.
"Apa saya berhak melakukan itu? Bukankah saya hanya…"
Rafa langsung menghentikan ucapan Cinta dengan mengecup bibirnya. Hanya kecupan, tidak lebih. Rafa tahu, Cinta masih merasa bibirnya perih akibat ulahnya tadi.
"Kamu sangat berhak. Karena kamu istriku." Jelas Rafa sambil menatap mata Cinta.
Cinta tersenyum. Ragu-ragu, Cinta akhirnya melingkarkan tangannya di pinggang Rafa. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Rafa.
"Bolehkah, saya tetap seperti ini, Tu…Sassa…yang?" Tanya Cinta Ragu.
"Ulangi. Aku tidak dengar." Mengelus punggung Cinta sangat lembut.
"Sayang." Ucapnya cepat.
__ADS_1
Cinta mengeratkan pelukannya, dan membenamkan wajahnya semakin dalam, karena malu.
Rafa tersenyum senang, akhirnya Cinta memanggilnya sayang. Dia pun membalas pelukan Cinta sambil tersenyum bahagia.