Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 36


__ADS_3

Febi melempar kamera menjauh darinya. Napasnya tak beraturan. Ada perasaan takut dan marah.


"Ternyata Cinta tidak membunuhnya." Ucapnya pelan.


Sekilas ingatan lainnya muncul dikepala Febi. Sesaat setelah Mamanya menjemput di sekolah, mereka kembali ke tempat kejadian. Pada saat itulah Febi menemukan kamera itu dan mengambilnya tepat sebelum para polisi kembali untuk menemukan sesuatu di TKP.


Sayangnya polisi tidak menemukan barang bukti apapun yang bisa menyatakan Cinta membunuh bocah Cina itu atau tidak. Namun, tetap saja Cinta ditahan selama tiga minggu di kantor polisi, hingga akhirnya Joy datang untuk melepaskan Cinta, setelah menyakinkan orangtua angkatnya yang merupakan orangtua dari korban.


Joy meyakinkan mereka, bahwa bukan Cinta yang membunuh anak mereka. Dia terbunuh oleh orang lain yang mencoba menculik Cinta.


Karena mereka sangat menyayangi Joy. Dan tidak ingin kehilangan Joy, mereka memutuskan untuk membebaskan Cinta dari tuduhan pembunuhan itu.


Sejak saat itu Joy dikirim keluar negeri oleh orangtua angkatnya agar tidak lagi bertemu dengan Cinta. Joy rela melakukan itu demi membuat Cinta tetap aman.


Melihat keberuntungan Cinta. Febi pun marah. Dia semakin sering menyakiti Cinta. Bahkan sempat menghantam kuat kepala Cinta dengan batu bata. Cinta sempat kritis dan koma selama seminggu, saat bangun dia melupakan semua yang telah terjadi. Yang masih dia ingat hanya Joy sebagai kekasihnya yang sangat menyayangi dan rela melakukan apapun untuk kebahagiaannya.


"Ternyata aku melupakan semua itu. Aku tidak tahu mengapa aku bisa melupakan semuanya. Apa aku juga ikutan amnesia?" Tanya Febi pada dirinya sendiri yang kini terduduk lemah di lantai kamarnya.

__ADS_1


Tidak terasa Febi berdiam diri di kamarnya hingga matahari terbit. Kamera itu tergeletak jauh darinya. Sepanjang malam Febi memikirkan tentang apa yang harus dilakukannya dengan rekaman yang ada dalam kamera tersebut.


Haruskah dia memperlihatkan rekaman itu pada Cinta, agar Cinta meninggalkan Rafa. Karena Febi yakin Cinta pasti akan kecewa melihat Rafa yang pergi meninggalkannya sendirian saat itu. Dan semenjak kejadian itu, tidak sekalipun Cinta dan Rafa berjumpa.


"Cinta pasti akan sangat terpukul saat melihat rekaman itu. Lalu, Cinta akan kembali pada Joy?" Menggeram kesal.


"Tidak... Joy atau Rafa, Cinta tidak boleh bersama mereka." Menjambak kuat rambutnya.


"Atau rekaman ini aku jadikan ancaman buat Rafa. Ya, dia pasti akan melakukan apapun untuk aku, selama aku tidak memperlihatkan rekaman ini pada Cinta." Gumamnya senang.


"Jika suatu saat kamu mendengar tentang keburukan ku dimasa lalu yang sangat mengerikan, apa kamu akan meninggalkan aku?" Tanya Rafa tiba tiba.


Tangan Cinta berhenti memasang dasinya. Sesaat dia hanya diam. Ditatapnya dalam mata Rafa.


"Jika pertanyaan itu, aku ajukan untuk Mas, bagimana?" Tanya Cinta Ragu.


"Kamu milikku selamanya." Jawab Rafa singkat.

__ADS_1


Dia menjauhkan diri dari Cinta. Diambilnya jasnya lalu melangkah meninggalkan kamar itu.


"Mas..." Panggil Cinta yang ikut mengekor dibelakangnya.


Rafa menghentikan langkahnya, dia menoleh pada Cinta. Diraihnya tangan Cinta, ditarik masuk dalam pelukannya.


"Katakan padaku apa jawabanmu?" Ulangnya.


Cinta memeluk erat tubuh Rafa. Diletakkannya telinganya tepat didada kiri Rafa. Detak jantung Rafa terdengar sangat normal. Berbeda dengan detak jantungnya yang kini sedang tidak beraturan.


"Aku hanya akan pergi, jika Mas memintaku pergi." Ucapnya ragu.


Sebenarnya Cinta tidak begitu yakin dengan perasaannya pada Rafa. Dia hanya bertahan dan mencoba menerima semua kebaikan Rafa. Sebab dirinya hanya sebatang kara tanpa cinta dan kasih sayang dari siapapun.


"Baiklah. Tapi ingat, aku masih punya banyak pertanyaan untukmu, sayang." Mengecup kening Cinta.


Lalu Rafa benar benar meninggalkan Cinta di rumah. Dia berangkat kekantor untuk kembali bekerja.

__ADS_1


__ADS_2