Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 77


__ADS_3

Hana dan Jack saat ini di atap. Mereka saling diam dan menatap gedung gedung didepan sana.


Jjrrennggg...


Suara pesan masuk di ponsel Jack. Segera dia membacanya. Rupanya pesan dari Rafa yang meminta Jack untuk membeli bakso bakar.


"Dari siapa?" Tanya Hana penasaran.


"Tuan Rafa." Jawabnya singkat.


"Perintah apa lagi kali ini?" Sambung Hana.


"Membelikan bakso bakar untuk nyonya." Memasukkan kembali ponsel kedalam saku jaket kulitnya.


"Bakso bakar?" Heran mendengar makanan yang diinginkan Cinta.


"Yah, bakso bakar. Dan sekarang aku akan pergi membelinya." Mulai melangkah.


"Boleh aku ikut?" Ucap Hana ragu.


Jack tersenyum, diulurkannya tangannya pada Hana. Dengan malu malu, Hana meraih uluran tangan Jack. Kemudian mereka berjalan bergandengan menuju mobil.

__ADS_1


Sementara itu, di ruangannya. Rafa kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Cinta menyuapkan makan siang yang tadi di bawanya pada Rafa.


"Ini sayang yang masak?" Tanya Rafa sambil menggemu makanan dimulutnya.


"Iya. Aku masak sendiri, biasanya selalu di bantu bik Imah." Tuturnya sedih.


Mendengar Cinta menyebut nama itu, membuatnya sedikit emosi. Tapi, melihat wajah sedih Cinta seperti itu membuat hati Rafa kembali tenang.


"Haruskah kita cari pengganti bik Imah?" Tanya Cinta kemudian.


Mata Rafa menyipit. Cinta biasanya sangat mudah trauma, terlebih pada orang orang yang pernah menyakitinya. Tapi, sekarang malah meminta pengganti bik Imah. Apa dia tidak takut kejadian seperti itu terulang lagi?


"Sayang yakin mau mencari pengganti bik Imah?" Kembali fokus pada komputer dihadapannya.


"Kalau bosan, sayang bisa bermain ke kantor." Saran Rafa.


"Semua orang sibuk. Lihatlah Hana, dia bahkan tidak mau berteman denganku saat di kantor." Ucapnya sedih.


"Bukannya dia tidak mau, sayang. Hanya saja, di kantor semua orang harus menghormati sayang sebagai istriku." Jelas Rafa.


"Begitukah?" Mengehela napas sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Rafa hanya bisa menggeleng pelan melihat Cinta yang bersedih seperti itu.


Meninggalkan pasangan itu. Di salah satu rumah dipinggir kota. Bik Imah sedang berdebat hebat dengan anaknya Jesika.


"Ibu mengkhianati tuan Rafa demi membebaskan kamu dari Joy. Tapi apa? Kenapa sekarang kamu mau menemuinya lagi?" Bentak Imah pada Jesika.


"Aku tidak peduli. Sekarang mana uangnya buk. Aku mau ke Singapur menjemput Joy." Mengobrak abrik lemari pakaian ibunya itu.


"Tidak ada, Jes. Seluruh uang ibu habis buat kebutuhan kamu. Sisianya ibu berikan pada Joy sebagai uang tebusan pembebasan kamu." Jelasnya sambil menangis.


Jesika tidak menghiraukan tangisan ibunya. Dia terus mencari uangnya. Dan akhirnya Jesika menemukan harta karun. Dia menemukan kotak perhiasan ibunya dan juga sertifikat rumah.


"Jesika, jangan nak. Kamu boleh mengambil seluruh perhiasan ibu, tapi jangan sertifikat rumah kita, Jes. Rumah ini satu satunya tempat tingga ibu, Jesika." Merebut sertifikat dari Jesika, tapi gagal.


"Terimakasih buk. Hiduplah dengan tenang dan damai." Mendorong kuat tubuh Imah hingga Imah jatuh terduduk di lantai.


Jesika pun pergi membawa seluruh perhiasan dan juga sertifikat rumah mereka. Dia akan berangkat ke Singapura untuk menyusul Joy, yang saat ini sedang meremcanakan untuk melakukan operasi perubahan pada wajahnya.


Joy memutuskan merubah wajahnya dan juga identitasnya. Dia sudah menyiapkan segalanya dengan bantuan dari seorang Mafia yang lebih ditakuti dari pada Reyhan.


Dengan bantuan itulah, Joy bisa terbebas dari pengejaran Reyhan.

__ADS_1


"Aku Joy. Tidak mudah untuk menyingkirkan aku Rafa." Tertawa terbahak bahak.


"Tunggu aku Cinta sayang. Aku akan kembali memilikimu." Gertaknya menegaskan pada dirinya sendiri.


__ADS_2