
Mobil Rafa sudah tiba di depan gedung apartemen paling mewah di Jakarta.
"Pak Bay tahu temannya di lantai berapa?"
"Dilantai 13, Den. Nomornya saya tidak tahu. Karena saya hanya mengikuti sampai lift saja." Jelasnya.
Rafa keluar dari mobil. Dia mendekati sekuriti yang berjaga.
"Malam Pak, ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah satu Sekuriti itu.
"Saya mau menemui Joy." Memperlihatkan foto Joy pada mereka.
"Tuan Joy Lim." Sahut mereka saat melihat foto itu.
"Iya Joy Lim." Ucap Rafa sambil memberikan kartu namanya.
Saat memeriksa kartu nama Rafa, Sekuriti itu saling berpandangan, lalu mereka segera membuka akses jalan masuk ke gedung apartemen.
"Tidak, saya hanya ingin tahu alamatnya?" Ujar Rafa.
"Lantai 13 No 1313 Tuan." Jawab Mereka.
"Terimakasih." Mengeluarkan sepuluh lembar uang bernominal 100 dari dalam dompetnya.
"Ambil uang ini. Tolong kerja samanya, jangan pernah memberi tahu Joy Lim tentang kedatangan saya." Ucap Rafa yang mendapat anggukan dan tunduk hormat dari kedua sekuriti itu.
Rafa kembali kemobilnya dengan mengepal erat kedua tangannya.
"Kita pulang, Pak." Masih dengan emosi yang tidak tertahan.
__ADS_1
"Rupanya nama lengkapnya Joy Lim." Ucapnya geram.
Pak Bay sedikit terkejut mendengar nama itu. Sekilas ingatan pak Bay mengingat sesuatu. Dimana saat itu Rafa kecil yang keluar dari rumah tua dengan membawa pisau berlumur darah. Rafa kecil berlari mengejar seseorang.
Karena khawatir pak Bay mengikuti dari belakang. Begitu pak Bay berhasil mengejar Rafa kecil, tubuh itu sudah terbaring berlumur darah di tanah. Pak Bay melihat jelas siapa pelaku yang telah membuat Rafa kecil berlumuran darah.
"Berhenti..." Teriak pak Bay mengejarnya. Sayangnya bocah itu menghilang seketika.
Pak Bay kembali mebghampiri Rafa. Rupanya Rafa ditusuk dengan pisau yang tadi dibawanya. Tusukan itu berada tepat di bagian tengah perutnya.
"Den Rafa, bertahanlah Den." Menggendong tubuh Rafa kecil. Begitu tiba di mobil, papan nametag seukuran ibu jari terlepas dari tangan Rafa.
Pak Bay mengambil nametag yang jatuh itu. Disana tertulis nama 'Lim Joyhni'
Ingatan itu masih sangat jelas tersimpan dimemori pak Bay.
"Den, apakah Joyhni Lim?" Menoleh kearah Rafa.
Mobil melaju kencang menuju rumah. Begitu tiba di rumah, Rafa langsung menuju kamar. Dilihatnya Cinta masih terlelap. Perlahan dihampirinya tubuh Cinta. Dibelainya wajah dan rambut Cinta dengan lembut.
"Maafkan aku tidak bisa melindungimu hari itu." Mengecup kening Cinta.
Rafa kembali meninggalkan kamar itu. Dia pergi sendiri, melajukan mobilnya menuju apartemen Jack. Setibanya di apartemen Jack, Rafa langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.
"Jack..." Ucapannya terhenti, dia mendapati tubuh Jack tergeletak dilantai, dengan luka darah dibagian perutnya.
"Jack, apa yang terjadi?" Memangku kepala Jack.
"Jesika..." Ucapnya sambil tersedak dan memuntahkan darah. Tangan Jack menunjuk cctv tersembunyi.
__ADS_1
Segera Rafa memindahkan tubuh Jack keatas sofa. Dia mencari kotak obat obatan yang selalu disediakan Jack di rumahnya.
Segera Rafa membersihkan darah itu dan memberi beberapa jahitan pada luka itu. Sebenarnya lukanya tidak terlalu dalam, hanya saja rupanya Jack dibius dengan cairan yang bisa melumpuhkan otot otot tubuhnya.
Usai membersihkan dan menjahit luka Jack, barulah Rafa melihat rekaman hasil cctv. Dimana Jesika masuk mengendap endap. Sebilah pisau kecil dan jarum suntik berada ditangannya.
Jack yang baru selesai berganti pakaian kaget saat jarum menusuknya tepat di leher bagian belakang. Lalu pisau tertancap menyamping di perut bagian kiri. Jack kehilangan seluruh tenaganya, dia jatuh kelantai tak berdaya.
"Hai sayang, maafkan aku. Kali ini aku harus menghabisimu. Sebab karena kamu aku menderita seperti ini. Hidupku berantakan karena dirimu." Menginjak luka diperut Jack.
Jack yang terbius, tidak bisa berbuat apa apa. Dia mencoba menahan kaki Jesika saat Jesika hendak pergi, sayangnya Jesika malah menginja lukanya semakin kuat.
"Apa yang dia lakukan?" Tanya Rafa pada Jack yang terbaring lemah di sofa.
"Dia, mendapat perintah dari salah satu kenalanku yang sejak dulu menyinpan demdan." Ucapnya terbata.
"Siapa orang itu. Biar aku lenyapkan sekalian." Rutuk Rafa kesal.
"Aku bisa mengatasinya Tuan. Hanya saja, tadi aku kurang waspada, mendengar tuan akan datang, aku tidak lagi mengunci pintu rumah, sehingga Jesika bisa masuk dengan mudah. Kali ini, biarkan aku mengurusi Jesika sampai dia hancur dan bertekuk lutut." Tekad Jack mengepalkan tinjunya.
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi, aku punya tugas penting dan sangat rahasia." Mendekati Jack.
"Apa.Tuan?"
"Selidiki orang ini. Memberikan foto Joy saat masih kecil, lengkap dengan data datanya.
"Akan aku laksanakan Tuan. Hanya, izinkan aku memulihkan rasa lemah pada seluruh otot tubuhku."
Rafa tersenyum. Lalu dia melangkah kedapur, mengambil susu dan sekotak sereal. Dituangkan ke mangkok, lalu disuguhkan pada Jack.
__ADS_1
"Makan yang banyak. Pulihkan kekuatanmu. Ada misi besar yang harus kita selesaikan. Dan ini akan cukup melelahkan dan menguras banyak tenaga dan pikiran." Ungkap Rafa.
Jack hanya mendengarkan dan mencoba menyantap sereal dan susu yang diberikan Rafa padanya.