
Hari ini Cinta begitu bosan di rumah. Tidak ada teman yang bisa diajak bicara.
"Ngapain ya bagusnya?" Mondar mandir di kamarnya.
"Masak aja kali ya." Cinta pun akhirnya turun ke dapur. Dia pun mulai menyiapkan bahan bahan untuk masakannya. Tapi, entah mengapa saat memotong bawang Cinta tiba tiba merasa mual yang teramat sangat.
"Hwueuekk..." Menuju wastafel dan muntah.
Cinta terus muntah hingga berkali kali. Dia benar benar merasa tubuhnya sangat lemas dan bahkan kakinya sudah tidak kuat menopang tubuhnya untuk berdiri. Meski begitu, dengan sisa tenaga yang masih ada, Cinta melangkah menjauhi dapur. Dia mulai mendekati sofa ruang tamu. Tapi sayang, sebelum mencapai sofa, Cinta kehabisan tenaga dan akhirnya terbaring lemah dilantai.
Dia masih sadar, bahkan ingat untuk menelpon Rafa, hanya saja ternyata Handphone miliknya tertinggal di kamar.
Sementara itu, Rafa saat ini begitu sibuk dengan pekerjaanya. Ini hari kedua dia berada di Semarang. Dia tidak akan pulang untuk satu minggu kedepan. Dia sudah meminta Hana untuk menjaga Cinta. Jadi, Rafa bekerja dengan sangat nyaman tanpa mengkhawatirkan apapun.
Namun, entah mengapa sejak selesai makan siang tadi, Rafa merasa hatinya sakit. Tidak tahu apa penyebabnya, hanya rasanya seperti ingin menangis.
"Tuan, rapat akan segera mulai." Seorang karyawan mengingatkan pada Rafa tentang jadwal rapat.
"Ya. Saya akan segera ke ruang rapat." Ucapnya.
Sebelum menuju ruang rapat, Rafa mengirim pesan pada Cinta. Dia ingin tahu keadaan kesayangannya itu.
#Sayang kamu lagi ngapain?
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, pesannya pun di balas oleh Cinta.
#Lagi masak. Sayang kapan pulang?
Membaca pesan itu membuat Rafa tersenyum. Dia merasa lucu saat Cinta menanyakan kepulangannya. Rafa pun merasa lega, dia yakin Cinta baik baik saja. Lalu setelah membalas pesan Cinta, Rafa langsung menuju ruang rapat.
Entah siapa yang berbalas pesan dengan Rafa, sedangkan Cinta saat ini masih tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.
"Bodoh. Meninggalkan istri sendirian dirumah, tanpa pengawal dan cctv. Terimakasih Rafa." Ucap pria berwajah asing itu.
Entah bagaimana caranya, pria itu kini berada dikamar Cinta dan Rafa, memegang handphone milik Cinta. Semua pintu masih terkunci rapat. Lalu, bagaimana pria itu masuk.
"Dua hari bersembunyi di dalam gudang, membuat perutku lapar. Sial, kenapa Cinta pingsan sebelum menyelesaikan masakannya." Gerutuknya sambil menuruni anak tangga menuju dapur.
Dia mengambil beberapa buah jeruk dan jus apel di dalam kulkas. Lalu melangkah menuju sofa, tanpa menghiraukan Cinta yang tergeletak dilantai.
"Welcome to my world Rafa." Duduk santai menikmati buah jeruk dan jus.
Tidak begitu lama, pria itu pun mengotak atik handpone Cinta. Sepertinya dia melakukan sesuatu.
Drriittt...
Ada panggilan dari Hana. Pria itu tertawa bahagia.
__ADS_1
"Ternyata begitu cepat aku harus membuktikan kepintaranku." Mengangkat panggilan itu, dan bicara tanpa ragu pada Hana.
"Ada apa Hana?" Ucapnya tanpa menyamarkan suaranya.
Dan di rumahnya, Hana menghela napas lega setelah mendengar suara Cinta melalui sambungan telepon itu.
"Kamu baik baik saja kan, Cinta?" Tanya Hana.
Pria itu tersenyum. Ternyata dia berhasil memasangkan aplikasi pengubah suara. Sehingga suaranya terdengar seperti suara Cinta tanpa mengundang kecurigaan.
"Iya, aku baik baik saja."
"Tadi Rafa minta aku nelpon kamu. Dia khawatir katanya."
"Bilang sama Rafa, aku baik baik saja. Kalian tenang saja, tidak ada yang berani menyakitiku selama masih ada Rafa." Ungkapnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Panggilanpun berakhir. Pria itu bahagia, dia tertawa lepas sampai puas. Dia menertawakan kebodohan orang orang itu.
"Sayang, saatnya kita kembali ke kamar ya." Mendekati tubuh Cinta. Dibelainya wajah Cinta tanpa cadar itu, diciumnya aroma rambut Cinta yang terurai panjang itu.
Ya, Cinta tidak memakai jilbab jika sedang dirumah. Terlebih dia memang hanya sendirian di rumah, dan lagi pula tidak ada cctv yang mengawasi lagi seperti dulu.
Tubuh Cinta kini diangkat dalam gendongan pria itu. Dia membawanya naik dan meletakkan Cinta diatas tempat tidurnya.
__ADS_1
"Tidur yang nyeyak dan lama ya sayang. Aku akan mencari cara agar kita bisa hidup bersama tanpa gangguan Rafa si bodoh itu." Ungkapnya menatap wajah pucat Cinta.