
Rafa mondar-mandir di kamar itu. Dia lupa, piyamanya sudah basah dan ditinggal di dalam kamar mandi. Tidak mungkin dia keluar dari kamar ini dengan keadaan bertelanjang dada.
Pada saat itu, Cinta keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk juga. Karena, semua pkaiannya basah saat membantu Rafa mandi.
Cinta mengira, Rafa telah keluar dari kamar itu. Makannya, dia keluar dengan santai.
Melihat Cinta hanya memakai handuk, entah mengapa membuat Rafa bersembunyi di bawah meja komputer.
Cinta sama sekali tidak menyadari itu. Dia melanjutkan rencananya mengganti pakaian. Kebetulan, ada pakaiannya di lemari Febi. Pakaian kemarin, saat dia terpaksa harus berganti memakai gaun pengantin.
Dengan tidak melepas handuknya, Cinta berhasil mengganti pakaiannya. Sementara itu, Rafa tidak dapat melihat apa-apa kecuali betis mulus, putih milik Cinta.
"Febi, kamu kemana?" Ucapnya sedih.
Cinta duduk ditempat tidur Febi. Dia belum memakai cadarnya. Hanya jilbab saja yang baru dipakainya.
"Ya Allah, lembutkan hati Febi untuk segera pulang. Dia harus menikah dengan tuan Rafa." Ucapnya.
Rafa heran mendengar doa yang diucapkan Cinta.
'Bagaimana mungkin seorang istri mendoakan perempuan lain untuk menikah dengan suaminya?' Batin Rafa kesal.
Ya, entah mengapa ucapan itu sangat membuat hatinya kesal. Ingin rasanya Rafa segera keluar dari persembunyiannya dan membungkam mulut Cinta. Tapi, itu tidak mungkin dilakukannya, yang ada Cinta akan memukulnya dan menuduhnya pria pengintip.
Usai memakai rapi cadarnya, Cinta keluar dari kamar itu. Langsung saja dia menuju kamarnya. Dengan harapan bisa menemukan Rafa.
Tapi, tidak ada siapapun di kamarnya. Lalu, di mana Rafa. Dia mulai berpikir.
"Tidak mungkin dia masih disana, kan?" Teriaknya sedikit histeris membayangkan Rafa berada di kamar itu saat dia sedang berganti pakaian.
"Semoga tidak. Aku yakin, sekarang Tuan Rafa sudah sarapan bersama Om dan Tante." Harapnya.
Perlahan Cinta keluar dari kamarnya menuju dapur. Dilihatnya, Rafa ada disana duduk di samping Om, berhadapan dengan Tante.
Dia masih memakai handuk. Dengan percaya diri penuh, dia menyantap sarapan dengan lahap. Padahal keadaannya saat ini setengah telanjang.
Cinta mendekat ke meja makan. Tidak ada sapaan dari bude dan pakde. Ya, dia datang hanya untuk membereskan piring bekas makan kedua orangtua itu.
"Nak Rafa bisa pakai baju pakde dulu. Sebentar bude ambilkan." Saran Fita dengan meninggalkan meja makan.
"Selesaikan sarapannya. Setelah itu, kita berangkat ke kantor bersama." Saran Satria, yang juga meninggalkan meja makan.
Cinta langsung mengumpulkan piring kotor, meletakkan di wastafel, lalu mencucinya. Sedangkan Rafa, sudah selesai menyantap sarapannya. Dia meninggalkan piringnya tanpa suara.
__ADS_1
Saat Cinta berbalik, sosok Rafa sudah tidak ada di sana. Yang tertinggal hanya piring dan sendok yang kotor.
"Semoga aku selalu diberikan kesabaran ya Allah…" Ucapnya.
Setelah selesai mencuci piring, Cinta kembali ke kamarnya. Begitu tiba di kamar, Cinta mendapati Rafa menatap tajam kearahnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Cinta dengan menundukkan pandangannya.
"Aku tidak ingin tinggal di rumah ini. Semuanya tidak nyaman untukku." Tegasnya sambil melemparkan handuk kewajah Cinta.
"Tuan boleh pergi kapanpun Tuan inginkan."
"Baiklah, sekarang kita pergi dari sini." Menarik tangan Cinta.
Tapi, Cinta menepis tarikan tangan Rafa. Hal itu membuat Rafa terkejut heran.
"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Rafa marah.
"Saya hanya pembantu di rumah ini, Tuan. Saya hanya pengganti Febi saja." Jelasnya.
Sebentar Rafa terdiam. Tatapannya begitu tajam kearah Cinta yang terus menundukkan kepalanya.
"Cinta Indira binti Amir. Dia wanita yang aku sebutkan namanya saat akad nikah. Jika nama kamu Cinta Indira, maka mulai saat ini, kamu harus mematuhi semua perintahku. Apapun itu." Ucapnya tegas.
Rafa menghela napas dalam. Saat ini dia sangat marah dengan Cinta. Dia tidak habis pikir, kenapa rela menyerahkan suaminya untuk wanita lain.
Segera saja, Rafa menarik pakasa Cinta.
"Ikut aku sekarang juga. Aku tidak suka penolakan." Menarik tubuh Cinta mendekati mobilnya yang sudah siap untuk berangkat.
"Nak Rafa yakin mau membawa Cinta?" Tanya Fita.
"Kenapa tidak. Dia sudah menjadi milik saya. Terserah mau saya jadikan pembantu atau apapun itu. Bukan begitu, pakde, bude?"
"Iya, nak Rafa. Silahkan bawa pergi." Sahut Satria menyetujui.
Cinta menangis didalam mobil. Rupanya kini dia dibawa untuk menjadi pembantu dan pelayan Rafa saja.
Cinta sudah tahu sejak awal, dia tidak akan dinikahi dengan tulus. Dia hanya sebagai pengganti saja.
Tapi, meski sudah tahu dengan semua kenyataan itu. Entah mengapa, hatinya terasa sangat sakit mendengar Rafa mengatakan akan menjadikannya pembantu di rumahnya.
Kurang lebih setengah jam perjalanan, Cinta sudah tiba di rumah Rafa. Rumah yang sangat bagus. Layaknya istana. Halaman depan dan belakang rumah itu juga besar. Ada kolam renang di lantai dua. Tepatnya di balkon kamar Rafa.
__ADS_1
Cinta disambut baik oleh para Maid dirumah itu. Mereka membatu Cinta menuju kamarnya. Tidak ada satupun barang bawaan Cinta, kecuali pakaian yang dipakainya.
"Ini kamar Nyonya…"
Salah satu Maid, membuka pintu kamar itu. Yang satu lagi menuntun Cinta masuk ke kamar. Sedang yang satunya menunjukkan semua yang ada di dalam kamar itu.
"Ini lemari pakaian Nyonya. Kami sudah mengisinya dengan pakaian yang sesuai untuk Nyonya." Membuka lemari yang penuh dengan gamis mewah lengkap dengan cadarnya.
Mungkin ada lima puluh gamis berbeda motif dan warna di dalam lemari itu yang juga lengkap dengan cadarnya. Sedangkan, Cinta hanya punya lima gamis lusuh, dan tiga cadar saja.
Ini seperti mimpi. Atau jangan-jangan memang sedang bermimpi menjadi Cinderella.
"Disini mukena dan sajadah untuk Nyonya." Menunjukkan satu rak berisi empat mukena.
Air mata Cinta menetes begitu saja. Melihat semua keindahan dan kemewahan ini sangat tidak nyata baginya. Semuanya terlalu tiba-tiba tanpa aba-aba.
"Kalian boleh pergi." Seru Rafa yang baru saja tiba di kamar itu.
Begitu para Maid keluar dari kamar. Rafa menghampiri Cinta.
"Semua ini hadiah dariku. Karena kamu bersedia menikah denganku." Tuturnya.
"Tapi ingat… jangan senang dulu. Kamu harus membayar semua kemewahan ini dengan cara mematuhi semua perintahku." Tegasnya.
Rafa duduk di kursi kebesarannya. Kakinya menyilang, matanya terus menatap wajah sedih Cinta.
"Kenapa kamu malah bersedih?"
Rafa heran melihat Cinta yang bersedih saat dia menawarkan kemewahan yang diimpikan semua wanita didunia ini.
"Tidak Tuan. Saya hanya terharu dan bersyukur atas kebaikan Tuan memberi saya kemewahan sebanyak ini." Kilah Cinta.
Terharu, iya. Cinta sangat terharu melihat semua kemewahan itu. Tapi, yang membuat air matanya tidak bisa berhenti mengalir adalah kenyataan bahwa dirinya kembali dinikahi hanya untuk kepuasan semata.
Ketakutan yang menjadi trauma dalam diri Cinta setelah diceraikan tiga tahun yang lalu, kini seakan kembali terulang lagi. Itulah yang sebenarnya membuat Cinta bersedih.
"Wait… hey… ayo lah, kamu jangan pernah berharap bahkan jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan cinta dariku." Tertawa terbahak-bahak.
Cinta tersadar, perlahan dia menghapus air matanya. Benar apa yang diucapkan Rafa. Bahkan bermimpi tentang mendapat cinta dari lelaki manapun saja tidak pantas untuk Cinta.
"Sudahlah, aku akan semakin banyak tertawa jika berlama-lam di tempat ini." Menyudahi tawanya.
Rafa meninggalkan kamar itu, dimana Cinta kembali meneteskan air mata.
__ADS_1