
Karena bosan, Cinta memutuskan untuk kembali ke kamar bawah tangga. Dia menelusuri setiap apapun itu yang ada di kamar. Termasuk lukisan besar yang merupakan pintu menuju layar monitor penangkap hasil rekaman cctv. Tidak sengaja Cinta bisa membuka pintu itu.
"Ruangan apa ini?" Ucapnya pelan sambil melanglah masuk.
Yang terlihat oleh mata Cinta, ialah kumpulan monitor monitor besar. Yang didalamnya terputar setiap hasil rekaman cctv di seluruh sudut ruangan. Cinta juga menemukan headphones. Segera, Cinta memakainya dan dia mendengar suara bik Imah yang saat ini sedang berberes di dapur.
Mata Cinta terus beralih menatap setiap layar monitor. Hingga matanya berhenti pada satu layar, yang memperlihatkan Febi yang datang menemui Mila.
"Febi? Apa yang dia lakukan disini?" Rutuk Cinta tidak suka.
Dia segera memasang headphonesnya agar bisa mendengar pembicaraan Febi dan Mila lebih jelas.
"Kamu yakin, satu satunya tempat tanpa cctv itu tempat ini?" Tanya Febi ragu.
"Iya nyonya. Tempat ini tidak ada cctvnya." Menoleh kesegala arah
"Kamu harus ingat. Rencana kita tetap berjalan. Aku akan pastikan membayarmu dua kali lipat, kalau kamu berhasil membuat Cinta hanya membutuhkan kamu." Jelas Febi.
"Baik nyonya. Akan saya laksanakan." Jawab Mila semangat.
"Ini, obat untuk membuat seluruh ingatan Cinta menghilang secara perlahan. Kamu harus memberinya rutin setiap satu butir sehari." Memberikan plastik putih kecil yang berisikan butiran butiran pil putih kecil.
"Bagaimana cara saya memberikannya Nyonya?"
"Itulah mengapa saya meminta kamu untuk mendekati Cinta. Kalau dia sudah percaya sama kamu, maka semuanya beres." Jelas Febi.
Mila mengangguk paham. Ya, dia mulai mengerti maksud Febi dan juga siap melaksanakan perintah Febi.
"Aku pergi. Aku akan kembali setiap hari kamis." Ucap Febi.
Setelah Mila mengiyakan, Febi pun langsung pulang. Dan Mila masih berdiri disana menatapi butiran butiran pil ditangannya.
__ADS_1
Dan Cinta, dia segera melepas Headphones nya. Segera melangkah menuju Mila. Tentu tidak lupa merapikan kembali ruangan rahasia Rafa.
"Mila." Panggilnya tiba tiba mendekati Mila.
Mila yang terkejut dengan kedatangan Cinta tiba tiba, langsung menyembunyikan pil tersebut kedalam saku seragam maid yang dipakainya.
"Nyonya? Kenapa bisa disini?" Tanya Mila ragu ragu.
Cinta tersenyum. Perlahan dia mendekati Mila. Lalu berbisik lantang ditelinga Mila.
"Aku bisa berada ditempat manapun dirumah ini. Apa ada yang salah menurutmu?" Selidik Cinta.
"Tidak Nyonya. Saya hanya sekedar bertanya. Maafkan saya Nyonya." Ucapnya sedikit terbata.
Cinta yersenyum senang melihat keadaan Mila.
"Mila, buatkan aku segelas teh. Tolong antar ke pinggir kolam. Jangan lupa cemilannya, buah semangka." Perintahnya.
"Kenapa kameranya terputus dilorong itu ya?" Tanya Cinta pada dirinya sendiri.
Dia penasaran pada satu ruangan yang dulu pernah hampir dikunjunginya bersama Imah. Dan ruangan itu ternyata tidak ada akses cctvnya.
"Haruskah aku melihat langsung?" Mulai tertarik untuk melihat ruangan rahasia bertema merah pada bagian luarnya.
"Aku akan memeriksanya besok." Tekadnya.
"Tapi lorong itu dipenuhi cctv." Mondar mandir dipinggir kolam renang.
"Aku akan cari tombol untuk mematika kamera cctv menuju kesana. Ya, mas Rafa tidak akan tahu, kalau cctvnya mati. Karena dia sangat jarang memeriksa ruangan itu.
"Aku akan cari tahu sendiri, apa yang sebenarnya disimpan mas Rafa dalam ruangan yang sangat dirahasiakannya itu."
__ADS_1
"Nyonya, ini tehnya."
kedatangan Mila membuyarkannya dari lamunannya. Tangannya segera meraih pegangan pada gelas teh itu. Saat Cinta meminumnya, dia merasa ada yang aneh.
"Apa apa an ini Mila? Kenapa kamu membuat teh hambar seperti ini?" Sedikit membentak.
"Saya akan membuatkan yang baru." Melangkah hendak menuju dapur.
"Cepatlah jangan lelet. Atau aku akan meminumkan teh hambar ini padamu." Ucapnya dengan nada marah.
"Baik Nyonya." Kembali ke dapur.
Sedangkan Cinta masih berdiri mondar mandir dipinggir kolam renang.
"Nyonya ini teh yang baru." Mendekatkan pada Cinta.
Cinta menoleh dan tidak sengaja tangannya menyenggol gelas itu, hingga akhirnya jatuh dan tumpah ke lantai. Gelas itu pecah berantakan.
"Astaghfirullah. Mila, apa yang kamu lakukan?" Gertak Cinta pura pura kesal.
Ya, karena Cinta bukanlah nyonya yang pemarah. Dia sebenarnya kasihan melihat Mila yang merintih karena tangannya terkena jipratan teh panas itu.
"Maafkan saya Nyonya. Saya mengagetkan Nyonya." Ucapnya sambil berjongkok mengumpulkan pecahan gelas.
Cinta terdiam. Ada perasaan iba pada Mila. Tapi semua itu tidak ditunjukkannya. Dia harus terlihat tegas dihadapan Mila, agar Mila tidak seenaknya memperlakukannya seperti yang diperintahkan Febi pada Mila.
"Bereskan semuanya. Setelah itu bawakan saya es cream saja. Antar ke kamar saya." Tegas Cinta.
Lalu dia berlalu meninggalkan Mila yang masih memunguti pecahan gelas.
"Kenapa Nyonya mendadak jadi pemarah seperti itu. Bukankah dia selalu mengiba dan hanya bisa menangis? Ah betapa sialnya hidupku. Pasti karena aku sudah dua kali melihat wajahnya." Rutuknya kesal.
__ADS_1