
Rafa menyaksikan perlawanan Cinta pada Febi melalui kamera cctv. Senyum bangga terlihat disudut bibirnya.
"Itu baru ratuku." Ucapnya senang.
Rafa akhirnya menemui Cinta di kamarnya. Saat Rafa masuk, betapa terkejutnya dirinya dengan keadaan Cinta.
"Dasar gilaaaa, aku benci kamu Rafa. Bagaimana bisa kamu bertanya siapa yang menghamiliku setelah kamu melakukannya padaku secara paksa." Makinya sambil terungkup ditempat tidurnya.
"Harusnya aku cakar saja mulutnya. Aakkhh kenapa aku menangis dihadapannya. Dia tidak pantas untuk ditangisi." Sambungnya.
Rafa diam saja menatap dan mendengar semua amarah Cinta.
"Hhikksszzz..." Tangisnya pecah. Dia akhirnya terisak dengan membenamkan wajahnya pada permukaan bantal.
Perlahan Rafa ikut naik ketempat tidur. Lalu, dia menepuk lembut punggung Cinta. Merasa tepukan itu Cinta langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Rafa.
"Kok menjauh? Katanya mau mencakar mulutku?" Goda Rafa dengan mendekatkan mulutnya pada Cinta.
Bukannya mencakar, Cinta malah menghambur dalam dekapan Rafa. Sontak saja Rafa membalas dekapan itu dengan senang hati.
"Aku tidak hamil. Aku tidak akan bisa hamil." Ucapnya terisak.
__ADS_1
"Aku tahu, aku tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui kehamilan istriku." Mencium puncak kepala Cinta.
"Pergi... keluar dari kamarku..." Mendorong tubuh Rafa tiba tiba sambil berteriak.
"Kenapa tidak menceraikan aku saja kalau memang aku hanya sebagai pelampiasan saja. Bisa bisa nya Mas meragukan tentang kehamilanku." Celotehnya kesal dengan membelakangi Rafa.
"Memangnya siapa yang hamil, hah?" Memeluk Cinta dari belakang.
"Seandainya aku..." Ucapnya ragu.
Rafa membalik tubuh Cinta agar kembali menghadap padanya. Dihapusnya air mata dipipi Cinta.
"Maksudnya?" Tanya Cinta tidak mengerti.
Ditariknya tubuh Cinta masuk dalam pelukannya. Pelukan yang sangat erat seakan Cinta akan direbut darinya jika tidak memeluknya seerat itu.
"Nanti kamu akan tahu, sayang. Saat ini, aku ingin mengajarkanmu untuk lebih kuat dan tidak mudah meneteskan air mata hanya karena bentakan dan juga tuduhan terhadap sesuatu yang tidak kamu lakukan. Seperti tadi contohnya." Melepas pelukan dan kembali menatap wajah Cinta.
"Harusnya, kamu tidak tersinggung dengan tuduhanku jika memang kamu tidak melakukan kesalahan. Harusnya, kamu menggertakku, buat aku berlutut memintamu untuk memaafkan aku." Ungkapnya.
"Terlalu rumit. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang Mas ucapkan. Berjuang? Perjalanan? Kelemahan? Apa semua itu? Apa kita sedang dimedan perang?" Meminta penjelasan dari semua kebingungan yang membuatnya sedikit pusing.
__ADS_1
"Tidak usah memahami semua itu. Cukup jadilah wanita terhebat, dan teruslah berada disampingku selamanya." Mencium bibir Cinta tanpa membiarkan Cinta menanggapi ucapannya.
"Terimalah hukumanmu, sayang." Tersenyum nakal tanpa melepaskan ciumannya.
"Tunggu." Mendorong tubuh Rafa untuk menghentikan pergulatan itu.
"Kenapa? Apa kamu ingin menolakku?" Heran dan sedikit kecewa.
"Cctv?" Menunjuk ke arah cctv.
"Biarkan ini menjadi siaran langsung." Kembali mencium Cinta.
"Tidak, jangan lakukan Mas." Ucapnya terbata.
"Tenang sayang, rekaman ini hanya aku yang bisa melihatnya." Berhasil melepas jilbab Cinta.
Malam itu berlanjut dengan keindahan yang luar biasa. Rafa sudah bisa mengendalikan dirinya dan menyesuaikan pergerakannya agar tidak menyakiti Cinta.
"Apapun yang terjadi, tetaplah percaya padaku. Jangan pernah menerima uluran tangan siapapun sebaik apapun dia dimatamu. Cukup pegang tanganku." Ungkap Rafa.
Cinta tidak begitu jelas mendengar ocehan Rafa. Dia terhanyut dalam buaian keindahan yang diberikan Rafa padanya. Jika hukuman dari kesalahannya seperti ini, rasanya Cinta tertantang untuk melakukan kesalahan setiap harinya.
__ADS_1