Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 51


__ADS_3

"Aku tidak tahu kalau kamu ternyata sudah menikah." Ucap Joy sedih.


Cinta mencoba tetap tersenyum dan berdiri tegap seperti tadi. Sedangkan Rafa sudah kembali duduk dengan ekspresi wajah yang mulai memerah. Dan Joy, masih berdiri menatap Cinta penuh tanda tanya.


"Silahkan duduk joy." Ajak Cinta yang juga duduk disamping Rafa dengan langsung memeluk pergelangan tangan Rafa.


Joy pun ikut duduk, matanya menatap pada tangan Cinta. Rafa menyadari tatapan Joy. Lalu, dengan sengaja Rafa membelai wajah Cinta dengan memasukkan tangannya dalam cadar Cinta.


"Ratuku sudah makan?" Tanya Rafa.


Cinta menggangguk cepat sambil tersenyum, dia menatap mata Rafa dengan tatapan yang membuat jantung Rafa berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Sayang sendiri, sudah makan?" Tanya Cinta dengan suara yang lembut.


"Tentu saja sudah." Jawabnya.


Joy mengepalkan tinjunya menahan amarah melihat kemesraan pasangan itu.


"O ya Joy, sebenarnya apa tujuan kamu datang kemari?" Tanya Rafa tanpa menoleh kearah Joy.


"Hanya ingin memastikan kalau Cinta baik baik saja. Karena, aku kira Cinta hanya dijadikan pelayan dirumah ini seperti yang diceritakan Febi." Jelas Joy.


"Dia mengatakan seperti itu?" Ucap Rafa sedikit kesal.


"Ya, begitu yang dia ceritakan padaku."


"Aku tidak pernah dijadikan pelayan sejak pertama Rafa membawaku ke rumah ini, Joy. Dia menjadikan aku Nyonya di rumah ini. Semua pekerja dirumah ini melayaniku dengan baik. Bahkan mereka memanggilku Nyonya." Celoteh Cinta bangga atas perlakuan Rafa padanya.


"Benarkah?" Ulang Joy menyelidik.


"Tentu. Aku istrinya Rafa Aditya. Bukan pelayannya, Joy. Jangan terlalu mempercayai Febi, kamu tahu kan, sejak dulu Febi tidak pernah menyukai aku." Sambung Cinta.


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya." Tersenyum.


"Sayang, bolehkah aku bicara berdua saja dengan Joy?" Rengek Cinta pada Rafa.


Mendengar itu Rafa menyipitkan matanya. Dia merasa aneh dan ragu untuk memberi izin pada Cinta.


"Mas bisa melihat melalu Cctv." Bisik Cinta ditelinga Rafa.


Joy tidak mengetahui Cinta berbisik pada Rafa. Yang dia lihat, Cinta merengek manja dibahu Rafa.

__ADS_1


"Iya, boleh. Tapi jangan lama lama. Mas tunggu di kamar, ya." Mencium kening Cinta.


Cinta tersenyum menatap kepergian Rafa yang masuk ke kamar bawah tangga. Dan Joy menggeser duduknya agar bisa duduk berhadapan dengan Cinta.


"Joy, kapan kamu kembali?" Tanya Cinta sedih.


"Maafkan aku Cinta. Sebenarnya aku sudah dua tahun di Jakarta. Tapi, aku terlalu sibuk mengurusi perusahaan. Aku kehilangan alamatmu. Aku mencari kemana mana dan aku tidak bisa menemukanmu." Jelasnya panjang lebar.


"Aku ketakutan Joy. Aku sendirian..." Matanya mulai berkaca kaca.


"Cinta, maafkan aku karena terlambat menemukanmu." Hendak meraih tangan Cinta.


Tapi dengan cepat Cinta menjauhkan tangannya. Dia juga menggeser duduknya agar tidak terlalu berhadapan dengan Joy. Karena rasanya sangat tidak nyaman.


"Ikutlah bersamaku." Ajak Joy.


Cinta mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti mengapa Joy mengajaknya ikut. Sementara Joy sudah tahu Cinta adalah istri Rafa.


"Dengar aku baik baik, Cinta. Rafa bukan orang baik. Dia sangat kejam dan menakutkan. Aku sudah menyelidiki masa lalunya. Dia terlibat dalam satu kasus kriminal." Jelas Joy dengan suara pelan namun tegas.


Bukannya takut, Cinta malah tersenyum. Air dimatanya yang tadi hampir tumpah, sudah mengering begitu saja.


"Rafa suami terbaik untukku Joy. Maafkan aku." Menegaskan.


"Febi menceritakan tentang Rafa semuanya padaku." Ungkapnya.


"Tentang apa?" Tanya Cinta penasaran.


"Tentang keburukan Rafa. Kamu harus tau, Rafa itu seorang lelaki yang suka bermain perempuan. Dia bahkan punya kamar khusus dikamar ini, tempat untuk bermain bersama perempuan perempuannya." Menjelaskan dengan semangat.


"Sudah aku katakan, Febi pembohong Joy." Teriak Cinta mulai emosi. Dia tidak terima Joy menjelek jelekkan Rafa.


"Pergilah Joy. Jangan pernah mencariku lagi. Aku tidak akan pernah kembali padamu." Sambung Cinta menegaskan.


Joy marah. Dia memukul meja dengan tinjunya. Tapi, pukulan itu hanya sedikit saja, untuk menggertak Cinta.


"Kamu akan menyesal Cinta. Jika kamu tidak mau percaya padaku. Aku pastikan akan mengungkap semua keburukan Rafa pada dunia." Mulai mengancam.


"Silahkan kalau kamu bisa Joy. Tapi, aku akan melindungi suamiku dengan seluruh hidupku." Ucap Cinta tanpa Ragu.


Joy tertawa sebentar mendengar ucapan Cinta. Dan itu membuat Cinta merasa dihina.

__ADS_1


"Cukup Joy. Jangan menertawakan aku." Bentaknya emosi.


"Kamu terlalu lucu Cinta. Apa kamu lupa, akulah yang membantu kamu bebas dari kurungan saat itu. Aku yang melindungimu dengan hidupku." Ungkit Joy.


"Apa yang kamu lakukan Joy? Yang aku ingat, kamu lari, kamu pergi meninggalkan aku sendirian saat aku sangat membutuhkan kamu dan hanya kamu yang aku percaya waktu itu." Balas Cinta kesal dan kecewa.


"Maafkan aku Cinta. Aku janji, kali ini tidak akan meninggalkan kamu lagi. Jadi, ayo ikut aku. Tinggalka Rafa, Cinta. Jika tidak, mungkin aku yang akan mengungkap siapa Rafa sebenarnya pada dunia. Akan aku lakukan hal itu untuk melindungi kamu, meski hidup dan nyawaku taruhannya." Menjelaskan dengan penuh tekad.


Sejenak Cinta terdiam. Lalu dia kembali menegakkan kepalanya dan tersenyum.


"Aku rela mati asalkan aku mati dalam pelukan suamiku. Maafkan aku Joy. Mungkin aku memang belum mencintainya. Tapi percayalah, suamiku adalah duniaku." Mengatakan itu dengan tersenyum senang dan juga tidak lupa tatapan sombong dan membanggakan dirinya.


"Baiklah. Aku harap kamu bahagia dengan pilihanmu." Ucap Joy pada akhirnya.


Lalu dia pun berpamitan pada Cinta, tanpa memperdulikan Rafa yang mulai melangkah untuk menghampirinya.


"Sudah selesai bicaranya?" Tanya Rafa sambil merangkul bahu Cinta.


"Sudah." Mengangguk lesu.


"Kenapa? Apa kamu menyesal karena menolak ajakannya?" selidik Rafa.


Cinta menatap tajam mata Rafa mendengar pertanyaan seperti itu. Lalu tiba tiba Cinta memeluk tubuh Rafa dengan sangat erat.


'Jangan tinggalkan aku, Mas. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.' Ungkap Cinta dalam hati.


"Istirahatlah, aku akan kembali ke kantor." Mengelus puncak kepala Cinta.


Dengan cepat Cinta menggeleng dan mengeratkan pelukannya seakan tidak ingin Rafa pergi.


"Kenapa? Apa kamu ingin ikut ke kantor?" Tanya Rafa dengan menarik wajah Cinta agar menatap padanya.


Air mata Cinta sudah menetes. Rafa tersenyum melihat itu. Dia melepas cadar Cinta, lalu mencium mata Cinta bergantian. Kemudian ciuman itu beralih kebibirnya.


"Tetaplah dirumah. Belum saatnya Ratuku ikut keluar." Kembali memasangkan cadar Cinta.


Lalu Rafa pun akhirnya melangkah pergi meninggalkan Cinta yang masih berdiri menatap kepergian suaminya dengan wajah sedihnya.


"Kenapa aku sangat ingin bersamanya hari ini." Ungkap Cinta.


Dengan langkah lesu, dia mulai menaiki anak tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


"Cepatlah pulang, aku merindukanmu." Ucapnya sambil menangis terisak seperti seorang anak yang menangis karena ditinggalkan temannya setelah usai bermain.


__ADS_2