Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
AMPP S2 (Bab 3)


__ADS_3

Cinta menatap rangkaian macam macam obat yang dibawa Papa dari Kanada.


"Maafkan aku, mas. Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun darimu. Aku takut kehilanganmu, mas. Aku takut andai mas tahu rahimku yang menjadi kendala terlambatnya kehadiran bayi di tengah tengah kita." Ucapnya lirih.


Lucu. Pasangan ini sangat lucu. Diam diam Rafa mencampurkan pil KB di minuman Cinta setiap kali mereka hendak berhubungan. Sementara Cinta diam diam juga sudah menanamkan anti kahamilan dalam tubuhnya untuk sementara waktu hingga rahimnya kembali membaik.


Rafa meminta dokter merahasiakan tentang masalah itu dari Cinta. Sedangkan Cinta berusaha menyembunyikan hal itu dari Rafa rapat rapat. Cinta sangat takut, jika sampai Rafa tahu, Rafa kemungkinan akan meninggalkannya. Sedangkan Rafa, khawatir kesehatan Cinta akan memburuk andai tahu kenyataan tentang lemah rahimnya.


Keduanya berakting seakan semuanya baik baik saja tanpa masalah apapun. Mereka selalu berusaha terlihat bahagia dihadapan masing masing. Sementara saat sendiri sendiri mereka bersedih dan saling mengkhawatirkan keadaan mereka satu sama lain.


"Maafkan aku mas. Maafkan aku yang begitu lemah, sehingga tidak mampu mempertahankan anak kita." Isaknya tidak mampu memahan kesedihan saat kembali teringat kejadian dua tahun lalu yang menyebabkan Cinta kehilangan bayinya.


*FLASHBACK*


Kandungan Cinta sudah memasuki minggu ke tujuh belas. Hari ini, dia ikut Rafa ke kantor karena merasa bosan harus di rumah sendirian.


Saat asik menikmati pemandangan di lantai atap gedung perusahaan, Cinta dikagetkan dengan kedatangan Mama mertuanya.


"Enak ya jadi nyonya besar. Tinggal duduk diam, gak perlu repot kerja. Uang ngalir terus." Sindirinya yang perlahan menghampiri Cinta.


"Ma, kapan sampai?" Tanya Cinta hendak menyalami mertuanya itu.


Sebelum itu terjadi, dia memalingkan wajahnya dari Cinta. Dan yang bisa Cinta lakukan hanya menghela napas dan diam.


"Mama ada urusan apa…"


"Suka suka saya. Ini kan perusahaan anak saya." Sahutnya memotong ucapan Cinta.


"Kamu hamil, kan?" Tebak Mama.


"Iya, Ma. Dan sekarang sudah memasuki minggu ke tujuh belas." Mengelus perutnya.

__ADS_1


"Ciih… sampai kapanpun aku tidak akan menganggap bayi di perutmu itu sebagai darah dagingku. Dasar kampungan." Menatap sinis pada Cinta.


Betapa terenyuhnya hati Cinta mendengar makian mertuanya. Tapi, biarlah selama Rafa mencintainya, dia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hati Mama mertuanya.


"Kenapa Mama sangat membenciku? Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan sama Mama?" Ucap Cinta pada akhirnya.


Dia sudah tidak sanggup menanggung kebencian mertuanya tanpa tahu penyebabnya.


Mama menatap Cinta sangat inten. Tatapannya sinis dan tajam. Perlahan dia mendekati Cinta.


"Karena, kamu mengambil seluruh perhatian dan Cinta Rafa dari saya." Mendorong dorong kuat kening Cinta.


"Ma, saya tidak melakukan itu. Menurut saya, Mama sendiri yang membuat Mas Rafa menjauhi Mama." Jawab Cinta tegas.


Plakk…


Tamparan mendarat di pipi Cinta yang terlapis kain cadarnya.


"Berani sekali kamu menjawab saya. Ternyata Febi benar, kamu itu wanita berbisa. Terlihat lemah lembut diluar, tapi beracun didalam." Makinya.


"Dengar sini?" Menarik paksa tangan Cinta.


Didorongnya tubuh Cinta kuat, hingga membentur dinding. Cinta menjerit mengaduh dengan posisi tangan mencoba melindungi perutnya.


"Aku sangat membencimu. Kamu tahu, wanita yang melahirkanmu ke dunia ini adalah wanita yang merenggut pria yang aku cintai saat itu. Harusnya, aku yang menikah dengannya, bukan wanita murahan itu." Teriaknya dengan kembali menarik tubuh Cinta dan mendorongnya hingga jatuh ke lantai.


"Cukup, Ma. Sakit…" Teriak Cinta.


"Sakit? Ini belum seberapa dibanding dengan sakitnya aku melihat lelaki yang aku cintai bersanding dengan wanita murahan itu." menjambak rambut Cinta dari luar jilbabnya.


"Sakit, Ma." Rengek Cinta yang sudah merasa sangat lemah, terlebih dia merasa perutnya sangat nyeri, kram dan seperti ada banyak darah yang keluar.

__ADS_1


"Darah?" Ucapnya kaget melihat darah yang tembus di gamis Cinta.


Mama berdiri, melangkah menuju pintu untuk segera pergi dari atap. Tapi, saat itu Rafa membuka pintu dan berpapasan dengan Mamanya.


"Mama? Kenapa bisa disini?" Tanya Rafa heran.


Sebentar dia memikirkan jawaban.


"Cinta? Cinta berdarah?" Ucapnya panik.


"Apa?" Teriak Rafa yang langsung berlari mencari Cinta. Rafa terkejut melihat Cinta terbaring lemah dilantai dengan darah di bagian bawahnya.


"Mama tadi mau memanggil kamu. Mama, bicara sama Cinta, lalu..." Kilah Mama mencari pembelaan.


"Sayang, kita kerumah sakit sekarang." Menggendong tubuh Cinta.


"Mama bukakan pintu, ya." Melangkah mendahului Rafa dan membukakan pintu untuk Rafa.


Tanpa menghiraukan Mama, Rafa berlari menuruni anak tangga dengan menggendong tubuh Cinta di depannya.


"Bertahanlah sayang." Ucap Rafa sangat khawatir.


Sementara, Mama melangkah pelan dengan senyum mengembang dibibirnya. Cinta yang sedikit masih sadar melihat jelas senyum diwajah Mama.


"Mas, Jangan tinggalkan aku." Ucapnya pelan dan mengeratkan tangannya melingkar di leher Rafa.


"Tidak akan pernah, sayang. Dan tidak akan ada manusia yang bisa memisahkan kita. Siapapun yang mencoba memisahkan kita, Mas pastikan dia akan menanggung akibatnya." Mempercepat langkahnya.


"Tadi, Mama sama Cinta membicarakan kandungannya. Katanya, Cinta bahagia saat ini. Lalu, tiba tiba dia merasa perutnya sakit, dan darahnya muncul begitu saja." Celoteh Ma yang mulai melangkah cepat dibelakang Rafa.


"Bertahanlah sayang. Bertahanlah…" Ucap Rafa yang benar benar khawatir.

__ADS_1


'Mas, apa yang harus aku lakukan. Apa yang akan terjadi pada kita. Mas, aku takut sama Mama." Ucapnya dalam hati.


Perlahan mata Cinta memejam, air matanya menetes dan dia kehilangan kesadaranya.


__ADS_2