
Begitu Rafa pulang. Jack sudah membaik. Dia melangkah menuju kamarnya, karena di luar terlalu dingin.
"Tuan Rafa terkadang saat khawatir sangat menggemaskan." Ucapnya mengingat bagaimana ekspresi kahawatir Rafa saat merawat lukanya.
"Padahal banyak makanan di kulkas, dia malah memberiku sereal." Rutuknya yang mulai berbaring diatas tempat tidur.
"Jesika. Berani sekali kamu menyentuhku. Tunggu pembalasanku sayang." Ujarnya.
Lalu, Jack segera memejamkan matanya untuk segera tidur. Dia harus segera pulih, agar besok bisa langsung membalas dendam pada Jesika.
Sedangkan Rafa sudah kembali ke rumah. Dia akhirnya memeriksa rekaman cctv untuk mengetahui dengan siapa Cinta bicara hari itu.
Matanya sangat fokus melihat ekspresi Cinta saat mulutnya menyebut nama Joy. Rafa tidak tahu harus berekspresi bagaimana, sehingga dia hanya diam.
"Febi. Rupanya kamu mulai ikut campur." Ucapnya datar.
Rafa tahu, Febi yang memberikan nomor telepon Cinta pada Joy. Hanya Rafa belum tahu, jika Febi adalah saksi kunci dari permasalahannya.
Dan saat ini, Febi sedang berpesta bersama Mama dan Papanya. Hanya dalam hitungan jam, Joy sudah mengabulkan persyaratan yang diajukannya.
__ADS_1
Joy memberikan sepertiga sahamnya pada Satria. Sehingga Satria bisa langsung memutus kerja samanya dengan perusahana milik keluarga Rafa.
"Sayang, sekarang kamu bebas. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu inginkan." Ucap Satria pada Febi.
"Satu yang aku inginkan saat ini, Pa. Aku ingin bayi ini menghilang dari perutku. Aku sudah muak berurusan dengan lelaki itu. Dia benar benar memerasku." Ucapnya sambil memukul permukaan perutnya yang mulai membuncit.
"Lakukan apapun sayang. Karena, saat ini perusahaan kita akan kembali pulih. Berkat kebaikan Joy. Papa suka gaya Joy." Pujinya.
"Kamu bisa kembali menjadi model majalah dan go internasional seperti yang kamu impikan." Ucap Fita bahagia sambil merapikan rambut Febi yang sedikit berantakan.
Saat ini mereka bahagia, gembira dan merasa menang. Tapi, mereka tidak tahu Joy saat ini sedang mengawasi segala gerak gerik mereka. Joy menatap mereka melalui sebuah layar. Senyum menyeramkan terlihat dari kedua sudut bibirnya.
"Kenapa aku tidak bisa mengingat jelas wajah ini. Padahal hari itu aku berhasil menusuknya." Mengeluarkan sebilah pisau dari dalam laci.
Joy tertawa lirih menatap pisau itu. Matanya mulai berair dan memerah, lalu tawanya menggema di setiap sudut ruangan.
"Adikku yang malang. Andaikan kamu tidak ikut campur hari itu, mungkin saat ini kamu akan menjadi pewaris Papa." Ucapnya sambil menangis, lalu kembali tertawa.
"Semua ini karena kamu Cinta. Andai kamu tidak berniat untuk meninggalkan aku. Aku tidak akan pernah kehilangan adikku." Menggeram kesal.
__ADS_1
Joy melemparkan pisau itu tepat menancap pada lukisan wajah yang belum lengkap.
"Kenapa kamu memilih untuk percaya padanya Cinta." Teriaknya kesal.
Sejenak Joy terdiam, dia memandangi lukisan wajah yang belum lengkap itu, lalu melirik pada wajah bocah kecil yang memegang pisau dalam video itu.
"Aku menemukanmu." Bisiknya pada diri sendiri.
"Tunggu, sebentar lagi aku akan menemukanmu. Aku akan menghancurkanmu. Aku akan merebut Cinta entah dalam keadaan utuh atau tidak." Menegaskan dengan penuh amarah.
Sementara itu, di kamarnya. Cinta gelisah dalam tidurnya. Dia bermimpi yang sangat menakutkan. Dalam mimpinya dia melihat Joy mengarahkan pisau padanya. Cinta ketakutan, dia berlari menjauh dari kejaran Joy.
Tapi, sejauh dan sekuat apapun dia berlari, pada akhirnya Joy bisa menangkapnya. Dan saat Joy hendak menusuknya dengan pisau itu, Rafa datang memeluknya dengan erat. Sehingga Rafa yang menjadi sasaran pisau itu.
"Cinta, sayang... bangun." Mendudukkan tubuh Cinta yang terus berontak dan berteriak.
"Hey, Cinta." Teriak Rafa.
Teriakan Rafa berhasil membangunkan Cinta dari mimpinya. Saat Cinta membuka matanya, dia melihat Rafa dihadapannya, segera saja dia memeluk erat tubuh Rafa dan menangis sejadi jadinya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?"Tanya Rafa heran dan mencoba menenangkan Cinta. Tapi cinta masih saja terus menangis.