
Cinta kini basah seluruh tubuhnya. Dia menggigil kedinginan. Segera Rafa membantu Cinta melepas pakaian yang sudah basah itu, lalu membalut tubuh Cinta dengan bathrobe.
"Maafkan, aku. Aku tidak sengaja menyiramkan air sabun ke matamu." Ucap Rafa menyesal.
Mata Cinta terbelalak heran sekaligus senang mendengar permintaan maaf dari seorang Rafa.
"Apa masih dingin?" Membalut rambut Cinta dengan handuk.
Cinta mengangguk saja. Dia benar benar kedinginan hingga bibirnya bergetar. Melihat itu, Rafa pun langsung membersihkan dirinya, lalu memakai bathrobe. Kemudian menggendong tubuh Cinta menuju tempat tidur.
"Baby girl, saatnya tidur." Membaringkan tubuh Cinta di kasur. Lalu menyelimutinya hingga leher.
"Ini belum dilepas?" Ucap Cinta menyentuh handuk di kepala dan juga bathrobe nya.
"Sebentar, nanti aku yang lepas." Memakai celana pendek dan kaos oblong.
Setelah selesai berpakaian, Rafa mengambil gaun malam yang sangat mini dan terbuka. Cinta hanya diam pasrah melihat baju itu.
"Kamu diam, aku akan ganti pakaianmu." Masuk kedalam selimut.
"Aku bisa memakainya sendiri, Mas." Bangkit dari posisi berbaringnya.
"Diam." Menghentikan pergerakan Cinta dengan memegang erat kedua belah bahunya.
__ADS_1
Sontak saja Cinta diam. Lalu, Rafa mulai memasukkan tangannya kedalan selimut Cinta. Tangannya meraba dipinggang Cinta untuk melepas tali bathrobe. Setelah tali itu terlepas. Tangannya berpindah pada handuk dikepala Cinta.
"Rambutmu masih basah. Nanti kita keringkan." Mengikat Rambut basah Cinta dengan tali bathrobe tadi.
Lalu Rafa memakaikan gaun mini itu menyarungkan lewat kepala Cinta. Setelah gaun itu terkalung di leher Cinta. Rafa pun langsung melepas bathrobe dari tubuh Cinta dan memakaikan gaun sexi nan mini itu.
"Selesai." Melirik tubuh Cinta yang terlihat indah dengan baju yang terbuka lebar pada belahan dadanya.
"Coba berdiri." Pintanya yang sudah lebih dulu berdiri.
Tidak ingin membantah, Cinta pun perlahan turun dari tempat tidur. Dia berdiri tegak menghadap Rafa. Ada perasaan tidak nyaman memakai baju itu. Baju yang sangat kependekan, bahkan hanya menutupi sampai pangkal pahanya. Sedangkan dia tidak memakai dalaman sama sekali.
Begitu juga dengan bagian atasan. Belahan lebar baju dengan talinya yang menggantung dikedua pundaknya hanya sebesar telunjuk, membuat Cinta merasa tidak memakai pakaian sama sekali.
"Aku mau setiap malam kamu memakai baju seperti ini." Membawa Cinta duduk dalam pangkuannya.
"Tapi, Mas…"
Belum selesai bicara, bibirnya sudah ditahan oleh Rafa menggunakan telunjuknya.
"Tidak ada penolakan Nyonya Cinta." Meraih sisir yang terletak di atas nakas.
Rafa membuka ikatan rambut Cinta, lalu menyisirnya dengan perlahan.
__ADS_1
"Kamu tahu. Aku sangat mengingingkan memiliki seorang putri. Aku ingin dia bermanja pada setiap aku berada di rumah. Dan aku membayangkan dia berlari dengan lucunya saat menyambut kepulanganku dari kantor." Tuturnya.
"Maafkan aku yang sampai saat ini belum bisa…"
Ucapan Cinta kembali terpotong, karena Rafa mencium mesra bibirnya. Rafa mulai membawa Cinta untuk berbaring.
"Belum saatnya sayang. Aku masih ingin memanjakan dan bermanja padamu." Melanjutkan pergulatan mereka.
"Tapi, aku belum sholat Isya." Menghentikan ciuman Rafa.
Mata Rafa menatap tidak senang karena Cinta menghentikannya tiba tiba.
"Hhaaahh…" Beranjak dari tubuh Cinta.
"Cepatlah. Aku tunggu sepuluh menit saja." Menutup matanya dengan pergelangan tangan.
"Mas tidak ikut sholat sekalian?" Ajak Cinta ragu ragu.
"Cepatlah Cinta. Atau kamu akan kuterkam sekarang?" Bentaknya mencoba meraih tubuh Cinta yang sudah lebih dulu berlari menuju kamar mandi untuk berwudu.
Rafa tersenyum. Entah mengapa, dia merasa sangat senang melihat Cinta yang suka membantahnya. Walaupun dia senang saat Cinta menurut padanya, tapi, dia lebih senang saat Cinta membantah dan sedikit melawan padanya.
"Aku akan mengajarkanmu menjadi Nyanyo yang manja dan tegas sekaligus Cinta. Hingga tidak akan ada siapapun yang bisa merendahkanmu."
__ADS_1