
"Hai Jesika." Sapa Jack saat menemui Jesika di apartemennya.
Hari ini Jesika pulang ke apartemennya sendiri. Dia kabur dari rumah Joy. Sejak Joy berhasil menemukan Cinta, dia menjadi semakin kasar dan tidak terkendali.
"Jack?" Matanya membola. Jesika ketakutan melihat Jack berdiri didepannya sambil memegang pisau.
"Apa kamu terharu melihat kedatanganku, sayang?" Duduk di sofa sambil menaikkan kakinya keatas meja.
"Jack maafkan aku. Aku... aku diperintahkan Joy untuk melenyapkanmu." Ucapnya ragu.
"Joy? Siapa Joy?" Tanya Jack sambil memainkan pisau.
"Dia, dia... aku, aku... disandra olehnya." Ungkapnya sambil menangis.
"Apa dia bernama Johny Lim?" Selidik Jack.
"Bagaimana kamu bisa mengetahui namanya?"
"Kenapa dia meminta kamu menghabisi aku?" Selidik Jack.
Jesika menelan ludah kasar. Haruskah dia mengatakan semuanya pada Jack. Tapi, kalau sampai Joy tahu, nyawa Jesika dalam bahaya.
"Apa Joy mengenalku?" Mendekati Jesika. Ditariknya kuat tubuh Jesika dengan tangan kirinya.
Hingga saat ini posisi mereka tanpa jarak. Jika bergerak sedikit saja, hidung keduanya akan saling menyentuh.
__ADS_1
"Aku tidak bisa mengatakannya, Jack." Memalingkan wajahnya.
"Apa dia mengancam keselamatanmu?" Menarik wajah Jesika agar kembali menatapnya.
Jesika mengangguk ragu dengan mata yang berkaca kaca. Lalu dia memeluk erat tubuh Jack.
"Maafkan aku Jack. Aku masih sangat mencintaimu. Aku melakukan semua ini, karena aku butuh banyak uang untuk membiayai ibu dan adik adikku." Ungkapnya sambil terisak.
Dengan ragu Jack menyentuh punggung Jesika untuk menenangkannya.
"Aku akan melindungimu, Jes. Percayalah." Bisiknya ditelinga Jesika.
"Benarkah?" Tanya Jesika tidak begitu yakin.
"Jack... Sebenarnya Joy ingin merebut Cinta dari Rafa. Lalu, Joy memintaku membunuh kamu, karena dia tahu kamu adalah suruhan Rafa." Jelasnya tanpa ragu.
Kedua sudut bibir Jack terangkat. Dia senang mendapat informasi dengan mudah dari Jesika yang sangat mudah ditipu.
"Kenapa dia menginginkan Cinta?" Mengelap air mata dipipi Jesika.
"Karena... Cinta... karena Cinta kunci saksi dari pembunuhan yang dilakukannya. Dia ingin memastikan ingatan Cinta masih belum kembali. Itulah sebabnya dia menginginkan Cinta." Tuturnya panjang lebar dan sangat jelas.
Jack terdiam. Ternyata Joy menginginkan Cinta buka karena ingin melindunginya, melainkan untuk menjadikannya tawanan sama seperti Jesika.
"Jack berjanjilah untuk melindungiku. Aku takut." Ucapnya gemetar.
__ADS_1
Jack memeluk erat tubuh Jesika untuk meyakinkan Jesika kalau dirinya akan menjaga Jesika dari amukan Joy.
Sementara itu, di kantor. Hana sedang melakukan presentasi di depan semua manajer setiap bidang. Rafa juga ikut serta disana. Dan kali ini dia hanya diam. Tidak seperti biasanya yang selalu membantah pendapat dari bawahan bawahannya.
Rafa tidak fokus dengan rapat. Pikirannya dipenuhi dengan Cinta Cinta dan Cinta. Mengingat bagaimana Cinta menegaskan pada Joy untuk berhenti menemuinya. Dan yang paling mengganggunya adalah ucapan Cinta yang mengatakan mungkin belum mencintainya. Ucapan itu sangat mengganggu.
"Berhentilah mengatakan mungkin." Bentaknya, tepat saat salah satu manajer mengatakan kemungkinan.
Semua orang kaget dan mendadak terdiam semua. Begitu juga dengan Hana. Dia bingung, dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan manajer manajer itu, Rafa hanya marah pada pernyataan mungkin itu.
"Perbaiki semuanya. Jangan ada kata mungkin. Sekian, rapat selesai." Ucapnya.
Rafa langsubg melangkah neningglkan ruangan itu. Hana pun segera mengikutinya.
"Tuan, kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Hana saat mereka di lift.
"Pernahkan kamu merasa ragu tentang perasaanmu terhadap seseorang?" Jawab Rafa yang malah mengajukan pertanyaan pada Hana.
"Pernah Tuan. Dan saya sedang merasakannya saat ini." Ungkap Hana.
Rafa menatap tajam wajah Hana. Mencoba menebak siapkah kira kira yang membuat Hana merasakan keraguan.
"Dia tidak dilingkungan kantor, Tuan." Jelas Hana.
Rafa tidak menjawab. Dia kembali diam dan hanya senyum Cinta yang memehi pikirannya.
__ADS_1