Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 57


__ADS_3

Entah mengapa sore ini Cinta merasa sangat mengantuk sambil menunggu kepulangan Rafa. Hingga dia tertidur lelap di sofa depan Tv. Imah yang melihat itu, hanya langsung menyelimuti Cinta dan memberinya bantal.


"Sudah lama Nyonya tidur, bik?" Tanya Rafa yang baru saja tiba dirumah.


"Begitulah Tuan. Mungkin sekitar dua puluh menit yang lalu." Jelasnya.


Rafa menghela napas sebentar. Lalu dia menggendong tubuh Cinta menuju kamar.


"Bik, tolong buatkan susu panas untuk Nyonya." Perintahnya saat sudah mulai menaiki satu persatu anak tangga.


"Baik Tuan." Segera berlari kedapur.


Begitu tiba di kamar, Rafa pun membaringkan Cinta dengan nyaman diatas kasur. Setelah itu Rafa segera membersihkan diri, berganti pakaian dan memasukkan beberapa pakaiannya sendiri ke dalam koper sedang miliknya tanpa bantuan maid.


"Tuan, boleh saya masuk?" Tanya Imah dari luar kamar.


"Mmh." Jawab Rafa singkat.


Imah pun masuk ke kamar dengan membawakan segelas susu pesanan Rafa.


"Taruh di sana saja. Dan kamu tetap di kamar ini, jaga Nyonya sampai dia terbangun." Ucap Rafa yang saat ini sedang membelai lembut wajah Cinta.


Lalu Rafa memberi kecupan dikening, mata, hidung, pipi dan bibir Cinta secara bergantian. Imah memalingkan wajahnya malu malu saat menyaksikan itu. Sedangkan Rafa, dia biasa saja. Tidak ada perasaan tidak enak sama Imah. Karena Cinta miliknya dan dia berhak melakukan apapun pada miliknya itu.


"Aku akan ke Semerang untuk tiga hari kedepan. Tolong jaga Nyonya dengan baik. Jika terjadi sesuatu, langsung kabarkan." Menegaskan pada Imah.


"Baik, Tuan." Sahut Imah yang masih memalingkan wajahnya dari Rafa.


Rafa masih enggan meninggalkan Cinta. Tapi, mau bagaimana lagi, ini pekerjaannya. Digenggamnya erat jemari tangan Cinta, kemudian diciumnya punggung tangan yang sangat halus itu.


"Maafkan aku, Cinta. Aku tidak bisa membawamu ikut bersamaku." Melepas tangan itu dan melangkah meninggalkan Cinta yang masih terlelap dalam tidurnya.


Setelah kepergian Rafa, Imah dengan setia menunggu Cinta. Sedangkan Cinta mualai gelisah dalam tidurnya. Dia berkeringat dingin. Imah mendekatinya dan menghapus keringat itu dari dahi Cinta.


Tidak tega melihat Cinta yang seakan ketakutan dalam tidurnya. Mungkin dia mengalami mimpu buruk, Imah pun segera memanggil namanya untuk membangunkan Nyonya nya itu.


"Nyonya... nyonya bangunlah." Menggoyangkan tubuh Cinta pelan.


"Tidak..." Teriak Cinta yang akhirnya membuka matanya.


"Nyonya." Panggil bik Imah.


Cinta bangun, dia langsung duduk dan memeluk erat tubuh bik Imah. Dia seperti ketakutan, dapat bik imah rasakan detak jantung Cinta yang sangat cepat dan tidak beraturan.

__ADS_1


"Bik, aku bermimpi... sangat menakutkan." Tuturnya sedikit terbata bata.


"Hanya mimpi Nyonya. Semoga hanya bunga tidur." Memberi pelukan pada Cinta.


Ya, Imah benar. Mungkin hanya sekedar bunga tidur. Tapi, mimpi itu terasa sangat nyata baginya. Cinta seakan pernah mengalami kejadian dalam mimpi itu secara langsung di dunia nyatanya.


"Apa tuan belum pulang, Bik." Melepas pelukannya karena sudah merasa lumayan baikan.


"Tuan sudah berangkat ke Semarang untuk tiga hari katanya, Nyonya."


"Semarang? Tiga hari?" Ulangnya.


"Iya nyonya. Urusan pekerjaan katanya." Jelas Imah.


Mendengar itu, Cinta kembali berbaring. Dia membelakangi Imah. Hatinya sangat sedih, mengingat Rafa sudah berjanji akan membawanya ikut. Tapi kenyataannya, Rafa malah meninggalkan Cinta, bahkan tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Dan saat ini, Rafa sedang dalam perjalanan. Kali ini dia tidak bersama pak Bay. Tapi bersama Jack.


"Kamu yakin Jack, pak Hanin kenal dengan Almarhum mertuaku?" Selidik Rafa ragu.


"Iya Tuan. Saya sudah pastikan, pak Hanin ini adalah sahabat baiknya pak Amir dan buk Citra." Jelas Jack.


"Semoga saja, pak Hanin akan memberikan banyak informasi tentang Cinta dan keluarganya."


"Tuan, Joy sudah mulai bergerak. Dia mulai memerintahkan suruhannya untuk perlahan lahan menghancurkan Tuan dan merebut Nyonya." Jelas Jack.


"Aku tahu itu Jack."


"Lalu, mengapa Tuan masih berani meninggalkan Nyonya sendirian di rumah. Bagaimana kalau Joy datang, merayunya atau menculik nyonya... Awh." Ucapannya terhenti, karena kepalanya dijitak oleh Rafa.


"Teruslah menyetir. Jangan membayangkan sesuatu yang mengerikan. Karena bisa saja itu terjadi karena selalu kamu bayangkan." Ucap Rafa.


"Baik Tuan. Saya hanya khawatir."


"Tidak ada yang mengkhawatirkan nyonya lebih dari rasa khawatir saya. Tapi, Cinta jauh lebih pintar dan tegas dari yang terlihat. Hanya saja, dia belum bisa memastikan untuk percaya pada siapa. Saat ini, saya sudah yakin seratus persen, Cinta hanya akan percaya pada saya." Menegaskan.


"Baik Tuan. Semoga saja begitu."


Mobil terus melaju, melewati jalan toll menuju arah Semarang. Sedangkan Febi, saat ini sedang menyusun rencana untuk membuat harta peninggalan kedua orangtua Cinta jatuh secara mutlak dan sah menjadi miliknya.


"Kenapa Mama sama Papa bisa tidak tahu tentang saham itu?" Teriak Febi kesal.


"Papa baru tahu dua hari yang lalu. Itupun dari seorang yang pernah menjadi kliennya saat itu. Dia menceritakan tentang saham yang ditanamkan Amir pada perusahaan Besar di Kalimantan dan Semarang." Tuturnya.

__ADS_1


"Apa saham itu masih tetap atas nama pakde Amir atau bagaimana, Pa?" Tanya Febi penasaran.


"Papa tidak tahu sama sekali soal itu, Febi. Papa tidak punya koneksi sebagus dan sebanyak itu untuk bisa menyelidiki hal itu. Mintalah bantuan Joy saja." Sarannya.


Febi terdiam, benar harusnya dia meminta bantuan Joy saja.


"Aku kerumah Joy sekarang. Jangan menungguku. Aku akan lama disana." Mengambil tas dan kunci mobilnya.


Febi mengemudikan mobilnya dengan cepat, bukan menuju rumah Joy, tapi menuju rumah Rafa.


Setibanya di sana. Febi diizinkan masuk, karena begitulah perintah dari Cinta pada semua petugas penjaga rumah.


Febi masuk dengan sombongnya. Cinta baru saja turun dari lantai atas. Dia melangkah sambil tersenyum menyambut kedatangan Febi.


"Febi, kamu datang?" Memberi pelukan pada Febi.


"Aku datang untuk memastikan apakah kamu baik baik saja?" Ucap Febi beracting ramah.


"Aku baik baik saja. Hanya saja..." Raut wajahnya berubah menjadi sedih.


Cinta duduk disofa dengan memasang wajah sedihnya. Cinta tidak memakai cadarnya. Dia sengaja ingin memperlihatkan raut wajah sedihnya dihadapan Febi.


"Sedih kenapa, Cinta?" Ikut duduk dan memberi perhatian pada Cinta dengan mengelus punggung tangan Cinta.


"Dua hari yang lalu, aku mulai mengingat sesuatu meski masih berbentuk potongan potongan acak. Tapi, hari ini semua ingatan itu tidak muncul lagi. Aku tidak bisa mengingatnya lagi." Tuturnya dengan sangat bersedih.


Febi ingin tersenyum dan tertawa bahagia, namun ditahannya. Dia melirik sebentar ke arah Mila yang berdiri di sudut tangga sana. Mila pun memberi kode, kalau dirinya berhasil menjalankan tugas dengan baik.


"Cinta, aku tahu seseorang yang bisa membuat semua ingatanmu kembali." Menggenggam tangan Cinta.


"Siapa, Febi?" penasaran.


"Joy. Dia satu satunya yang ingat semua tentang kamu. Dialah satu satunya yang sangat mencintaimu, Cinta." Jelas Febi.


Sebentar Cinta terdiam, lalu dia menatap Febi dengan wajah sedih.


"Kamu tahu Joy tinggal dimana? Aku tidak bisa menemukannya. Kamu tahu, kan. Rafa mengurungku di rumah ini." Ucapnya sedih.


Febi tersenyum. Ya dia sudah tidak bisa menahan luapan kebahagiaan melihat kondisi Cinta yang kembali menjadi lemah dan tidak memiliki ingatan apapun.


'Berbahagialah Febi. Selama kamu percaya aku kehilangan ingatanku. Sebab saat kamu tahu, aku sudah mengingat semuanya, kamu tidak akan pernah bisa bahagia meski sedetik saja.' Ucap Cinta dalam hatinya.


Dia sengaja beracting, untuk menjebak Febi. Cinta akan bermain seperti orang lemah, untuk melemahkan musuh seperti Febi dan Joy. Karena mereka mudah tertipu oleh orang lemah yang selalu mereka tipu juga.

__ADS_1


__ADS_2