
"Kemana saja tadi siang sama Hana?" Tanya Rafa begitu sampai di rumah.
"Hanya ke spa dan duduk di taman." Jawabnya sambil membantu Rafa melepas dasinya.
"Tidak ke Mall?"
Cinta menggeleng. Kini dia membantu Rafa melepas kancing kemejanya.
"Kenapa? Bukankah perempuan paling suka shoping?"
"Aku tidak bawa uang." Jawabnya singkat.
Plakk…
"Auwhh…" Teriaknya kaget karena keningnya di pukul pelan oleh Rafa dengan telunjuknya.
"Black Card itu isinya uang semua. Beli Mall nya sekalain juga bisa." Melepas kemeja dari tubuhnya.
Cinta mempoutkan bibirnya sambil mengelus keningnya yang tidak terlalu sakit. Hanya saja, dia tidak tahu harus merespon seperti apa.
Melihat Cinta berdiri kebingungan dengan poutan bibirnya, membuat Rafa gemas. Ditariknya tubuh Cinta untuk duduk dalam pangkuannya yang duduk dipinggir tempat tidurnya.
"Apa Hana memperlakukan kamu dengan baik?" Melepas cadar Cinta.
"Sangat baik. Tapi, aku risih kalau di panggil Nyonya sama Hana, karena aku ingin berteman dengannya."
__ADS_1
"Baiklah, nanti Mas bilang sama dia nggak usah panggil sayang Nyonya lagi." Mengecup puncak kepala Cinta.
Hati Cinta berbunga saat Rafa memanggilnya sayang. Dan tangan Rafa juga melingkar erat dipinggannya. Betapa bahagia bisa merasakan dimanja oleh seorang suami yang memang selalu menjadi impian Cinta.
Sementara itu, di kamarnya Febi tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon.
"Aku sudah bilang sama kamu untuk sabar. Kamu pikir aku punya banyak uang hah?" Makinya kesal pada lawan bicaranya.
"Ayolah sayang jangan marah marah gitu la. Aku cuma minta uang lima juta saja. Kamu sudah memiliki benihku yang akhirnya membuatmu menjadi Nyonya. Jadi wajarlah aku minta bayaran." Ucapnya santai tanpa perasaan.
"Aku tidak pernah menginginkan bayi ini. Kamu memaksaku waktu itu. Apa kamu lupa?" Teriaknya bertambah kesal.
"Hey jal*ng. Jaga bicaramu. Kamu menginginkannya malam itu. Kamu yang bermain menikmati semuanya. Aku hanya menerima saja." Tertawa penuh kemenangan.
"Aku tidak punya uang."
"Baik akan aku tranfer uangnya." Memutuskan sambungan pembicaraan mereka.
Febi berteriak histeris. Dia kesal dan sangat marah, karena hal yang sama terus terulang. Semua itu kesalahan fatalnya. Aku tidak mau ikut lagi semua permintaan konyolmu.
"Mila... Mila..." Teriaknya memanggil Maid kesayangannya.
"Iya Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Masuk ke kamar Febi.
"Apa Rafa sudah pulang?"
__ADS_1
"Sudah. Sekarang Tuan Rafa sedang di kamar Nyonya Cinta." Jelasnya.
"Hhaaahhh..." Teriaknya kesal membuat Mila ketakutan.
"Apa coba kelebihan perempuan bercadar itu? Semua ini sangat tidak adil. Aku harus segera menjadi satu satunya ratu di rumah ini." Celotehnya melampiaskan rasa emosi.
Mila hanya diam dipojokan kamar menyaksikan amukan majikannya itu.
Dan dikamar mereka, Cinta sekarang sedang membantu Rafa mandi. Tubuh Rafa berendam di dalam bathtub. Sedangkan Cinta berjongkok di luarnya sambil menggosok punggung Rafa.
"Bagaimana pekerjaan Mas hari ini? Apa terlalu melelahkan?" Basa basi Cinta untuk mengusir kecanggungannya.
"Sangat melelahkan. Ada saja kesalahan yang mereka lakukan. Mereka itu sangat tidak disiplin. Mau punya banyak gaji, tapi malas bekerja." Tuturnya dengan mata terpejam.
Cinta tersenyum. Bahagia rasanya saat Rafa mau menceritakan keluh kesahnya, meski Rafa tau hal itu tidak berguna sama sekali untuk Cinta. Tapi dia tetap bercerita.
"Kenapa berhenti menggosok punggungku?" Menoleh pada Cinta yang masih tersenyum dalam lamunan.
Melihat itu, Rafa akhirnya menyiram wajah Cinta dengan air bercampur busa.
"Astaghfirullah..." Teriaknya kaget sambil menghapus sedikit busa yang mengenai matanya.
Rafa tertawa terbahak bahak melihat hal itu. Sementara Cinta merasakan perih pada matanya.
"Perih... Awh..." Berputar putar di lantai kamar mandi yang licin. Tanpa sengaja kakinya menginjak sabun.
__ADS_1
Tubuh Cinta oleng, dia terjatuh kelantai andai saja Rafa tidak langsung menarik tubuhnya masuk ke dalam bathtub.