Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
AMPP S2 (Bab 1)


__ADS_3

2 Tahun kemudian.


Begitu banyak yang terjadi dalam rentang waktu dua tahun. Tentunya, kebahagiaan Cinta dan Rafa yang semakin bertambah. Meski, saat ini Cinta masih belum dititipkan lagi bayi dalam rahimnya, setelah sempat keguguran dua tahun yang lalu. Rasa cinta dan kasih sayang Rafa pada Cinta tidak berkurang malah semakin bertambah.


Rafa merasa menjadi lelaki paling beruntung dengan hanya dianugerahi untuk hidup bersama Cinta. Mau ada anak atau tidak, baginya tidak masalah. Selama Cinta masih selalu berada disampingnya, menemani saat suka dan dukanya. Semua itu sudah cukup baginya.


Tapi berbeda dengan Cinta. Dia sangat menginginkan malaikat kecil bernama bayi. Dia sering merajuk dan bersedih karena merindukan kehadiran bayi dalam rahimnya lagi. Beruntungnya, Rafa selalu menghibur Cinta agar bisa sabar dan tetap tersenyum menjalani hari hari mereka.


"Sayang, Mas berangkat kerja. Ingat jangan terlalu capek hari ini. Jangan lupa kunci pintu, kalau mau tidur siang." Ucapnya pamit sambil mengecup kening istrinya.


"Nanti pulangnya jangan telat." Rengeknya manja memeluk erat tubuh suaminya.


Rafa tersenyum bahagia. Dia merasa sangat senang mendapati Cinta yang merengek manja seperti anak kecil padanya.


"Nanti pulang mau Mas bawakan apa?" Membalas pelukan Cinta.

__ADS_1


"Mmhhh... gak ada." Ucapnya melepas pelukan.


"Benaran nggak ada?" Mengelus pipi Cinta.


Cinta menggeleng sambil tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu mas berangkat." Menenteng tasnya.


Dia diantar oleh Cinta hingga ke dekat mobil. Biasanya Cinta akan melepas pergelangan tangan Rafa saat sudah tiba di mobil. Tapi, saat ini Cinta masih memegang erat pergelangan tangan Rafa, seakan tidak mengizinkan Rafa pergi.


Bukannya menjawab, Cinta hanya memanyunkan bibirnya dengan wajah sedihnya. Melihat itu, sebentar Rafa menghela napas. Dia meraih tubuh itu mendekat padanya.


"Kita diluar rumah saat ini, sayang. Untung tidak ada orang di luar sini. Kamu lupa memakai cadarmu, loh." Menutup wajah Cinta menggunakan ujung jilbabnya yang panjang.


"Biarin." Ucapnya kesal.

__ADS_1


"Ada apa, kok kesal gitu?" Tanya Rafa hati hati.


"Mau baby…" Membenamkan wajahnya didada Rafa.


Senyuman mengembang dibibir Rafa. Dia mengelus lembut punggung Cinta untuk menenangkannya. Benar, sudah hampir dua minggu terakhir, Cinta tidak merengek meminta bayi seperti ini. Dan ternyata pagi ini rengekan itu kembali.


"Jadi, haruskah Mas berhenti kerja hari ini. Dan kita dirumah saja, seharian berusaha mem…"


Belum selesai Rafa berucap, Cinta sudah lebih dulu melepaskan diri dari pelukan Rafa dan berlari menuju pintu masuk ke dalam rumah.


"Mas hati hati di jalan. Pulangnya, bawakan ice cream coklat vanila yang jumbo." Teriaknya, lalu menutup pintu rumah.


Rafa hanya bisa menggelengkan kepala dan terkekeh senang. Begitulah Cinta, tidak pernah mau membuat Rafa membatalkan urusannya untuk menenangkan hatinya. Cinta akan berusaha terlihat baik baik saja, saat Rafa harus pergi bekerja ke luar kota ataupun sedang banyak pekerjaan. Meski sebenarnya hatinya sedang gundah dan resah.


Saat ini yang bisa Rafa lakukan adalah bersabar. Sebenarnya, Cinta masih bisa hamil bahkan saat ini juga. Hanya saja, dokter masih belum mengizinkan itu, karena rahim Cinta lemah paska keguguran waktu itu. Jika dipaksakan untuk mengandung, kemungkinan akan berbahaya untuk keselamatan Cinta dan bayinya nanti.

__ADS_1


"Maafkan mas sayang. Yakinlah, Allah akan memberikan baby itu suatu saat nanti. Mas masih berusaha untuk mencari cara agar rahim sayang bisa kokoh seperti seharusnya." Ucap Rafa lirih.


__ADS_2