Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 27


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Cinta tertidur. Rafa melajukan mobilnya sangat pelan. Sesekali dia mengelus wajah lelah Cinta. Terlihat pucat karena muntah terlalu banyak tadinya.


"Jangan pernah menemui Joy. Kamu milikku sayang." Kembali mengelus wajah Cinta.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya mobil Rafa tiba di halam rumahnya. Segera dia menggendong Cinta menuju rumah.


"Nyonya kenapa Tuan?" Tanya Imah khawatir melihat Cinta tertidur lemah dalam gendongan Rafa.


"Hanya tidur. Pergilah kedepan. Ambil semua barang belanjaan di mobil." Perintahnya.


"Baik Tuan."


Imah menuju mobil untuk mengambil belanjaan, sedangkan Rafa membawa Cinta ke kamar. Dibaringkannya tubuh lemah Cinta diatas tempat tidur. Lalu, segera Rafa mengganti baju dan mengelap wajah Cinta dengan handuk basah. Tidak lupa Rafa juga mengelap sisa muntah di tangan Cinta.


Usai membersihkan tubuh Cinta dengan handuk, dan menggantikan pakaiannya. Rafa mengecup hangat kening Cinta dengan perasaan menyesal.


"Tidurlah." Menatap lembut wajah terlelap itu.


Rafa pun melangkah meninggalkan kamar. Dia hendak kembali ke kantor.


"Rafa, tunggu." Menghentikan langkah Rafa.


"Apa lagi Febi?" Ucapnya malas.


"Bagaimana kamu bisa mengenal Joy?"


Rafa mendekat pada Febi. Dipengangnya kedua belah bahu Febi, lalu ditatapnya dalam mata Febi yang juga menatapnya.

__ADS_1


"Sungguh kamu ingin tahu?"


"Iya, aku ingin tahu." Ucapnya semangat.


Rafa mendekatkan mulutnya ke telinga Febi.


"Satu satunya wanita yang bisa direbut Joy dariku adalah Cinta. Dan aku berjuang untuk mendapatkan Cinta bertahun tahun. Hingga akhirnya Cinta menjadi milikku. Aku berhasil mengalahkan Joy selamanya." Bisiknya sambil tersenyum senang penuh kemenangan.


"Maksudmu?" Tanya Febi tidak mengerti dengan apa yang barusan dikatakan Rafa.


"Nikmati saja semua kemurahan hatiku membiarkan kamu tinggal dirumah ini." Menepuk pelan kedua bahu Febi.


"Seperti biasa jangan pernah menyentuh Cinta sedikitpun. Cctv selalu mengawasi." Menunjuk camera cctv.


Lalu Rafa melangkah meninggalkan rumah. Dia kembali menuju kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.


Cinta mencoba duduk meski kepalanya terasa pusing. Perutnya masih terasa mual.


"Apa aku benaran hamil, ya?" Menyentuh perutnya yang masih datar.


"Tidak mungkin. Aku tidak akan mudah hamil, buktinya saat pernikahan dahulu, aku juga tidak hamil." Mencoba menepis.


Cinta berlari mencari testpack yang tadi dibelinya diam diam saat di super market.


"Nyonya, hati hati jangan berlari!" Seru Imah khawatir melihat Cinta berlari menuruni anak tangga.


"Bik, mana belanjaan tadi?" Tanya Cinta terengah engah.

__ADS_1


"Apa Nyonya mencari ini?" Menunjukkan testpack.


"Iya." Langsung mengambilnya.


Cinta kembali berlari menuju kamarnya, untuk segera melakukan test.


Satu yang tidak disadari Cinta, dia keluar dari kamarnya tanpa menggunakan jilbab dan cadar.


"Cantik sekali. Wajar saja Tuan sangat mencintai Nyonya." Ucap Imah memuji kecantikan majikannya itu.


Dari kejauhan, Mila juga melihat wajah Cinta. Kecantikan yang sangat luar biasa. Rambut panjang bergelombang, hitam dan tebal, terurai indah bak artis india, begitu Cinta tadi menuruni anak tangga sambil berlari. Gamis syar'i yang dipakainya bak gaun pengantin india. Wajah mungil, putih bersih dengan bibir berwarna pink alami.


"Kecantikan luar biasa. Apa dia bidadari?" Ujar Mila terkagum kagum.


"Itulah, kenapa apa sangat membencinya." Ucap Febi yang tiba tiba menghampiri Mila.


"Nyonya? Sejak kapan Nyonya disini?" Tanya Mila gugup.


"Sejak kamu menatap Cinta dan hampir meneteskan liurmu." Bentaknya kesal.


"Maafkan saya Nyonya." Membungkuk pada Febi.


"Lupakan. Sekarang, cepat berikan amplop ini ke alamat ini. Harus kamu yang mengantarkannya." Mengulurkan sebuah amplop coklat berisi uang.


"Baik Nyonya." Mengambil amplop itu.


Mila pun berlalu pergi mengantarkan amplop coklat berisi uang itu kealamat yang diberitahukan Febi.

__ADS_1


__ADS_2