
"Kemana kamu menghilang selama tiga hari ini, Jesika." Tanya Joy kesal sambil melampiaskan amarahnya pada Jesika.
"Ampun Tuan, saya hanya sedang...Akhhrgg..." Jerit Jesika merasakan sakit akibat amukan Joy.
"Terima semua ini." Menarik rambut Jesika kuat.
Jesika menjerit tertahan merasakan sakit karena rambutnya ditarik dan juga karena saat ini Joy sedang menyentuhnya.
"Ini untuk kebohonganmu tentang Cinta." Melesak lebih kasar.
"Ampun Tuan. Saya tidak berbohong. Istri tuan Rafa adalah Cinta." Menjelaskan sambil terbata bata karena menahan rasa sakit.
Joy tidak memperdulikan ucapan Jesika. Dia semakin semangat menghukum Jesika.
"Ini hukuman karena kamu menghilang tanpa kabar." Semakin bergerak cepat dan tidak terkendali.
Jesika menjerit jerit. Tubuhnya sangat sakit seakan terjatuh dari tempat yang tinggi. Bagaimanapun dia memohon dan mengiba, Joy tetap dengan kuasanya. Dia tidak akan berhenti sebelum dia merasa puas dan sebelum yang dihukumnya tidak sadarkan diri.
Ddrriiittt...
Getaran ponsel Joy menjadi penyelamat penderitaan Jesika. Joy menghempaskan tubuh Jesika diatas tempat tidur. Dia segera meraih ponselnya. Dilayarnya tertera nomor yang tidak memiliki nama kontak.
"Halo." Ucapnya masih terengah.
__ADS_1
"Joy..."
Suara itu tidak asing. Joy mencoba mengingat dimana dia pernah mendengar suara itu.
"Radit?" Tebaknya ragu.
"Hahaha, Ya. Ini gue bro Rafa Aditya."
"Loe tau saat ini loe mengganggu ritual gue." Ujar Joy sinis. Dia meraih celana boksernya dari lantai, lalu memakainya.
Sedangkan Jesika masih terbaring lemas diatas tempat tidur. Perlahan tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang dihancurkan oleh Joy.
"Ada apa bro? To the point aja. Loe tau, kan. Gue paling gak suka bertele tele." Jelas Joy menegaskan.
Joy menahan emosinya nendengar sindiran Rafa. Disulutnya sebatang rokok, lalu Joy duduk santai di sofa yang menghadap kearah dimana Jesika terbaring lemah.
"Sejauh mana loe menyentuh Jesika?"
Pertanyaan Joy membuat Rafa tertawa diseberang sana. Suara tawa Rafa membuatnya semakin marah.
"Loe tanya saja sendiri. Kalau dia tidak bisa merasakan nikmat saat bersama loe, berarti gue menyentuhnya sudah sangat jauh." Goda Rafa semakin memancing amarah Joy.
"Heh, Brrreeengggsseekkk loe Radit." Teriaknya memaki.
__ADS_1
"Ups, sorry Bro. Gue langsung saja. Loe cari Cinta buat apa?" Tanya Rafa pada akhirnya.
"Karena dia dunia gue." Menegaskan.
"Begitukah?" Tanya Rafa lirih.
"Tentu. Dia segalanya buat gue." Meremas puntung rokok yang masih menyala itu. Terlalu emosi, membuat Joy tidak lagi merasakan hangatnya sundulan puntung roko itu pada telapak tangannya.
"Kalau memang Cinta adalah dunia loe. Gue rasa loe gak akan pernah bisa menyentuh wanita manapun." Ucap Rafa.
Mendengar itu, Joy tertawa terbahak bahak. Dia bahka memukul mukul meja sangking tidak bisa menahan tawanya.
"Hal seperti itu hanya sia sia saja." Ucapnya kemudian.
Joy membuka laci rahasia di samping sofa tempat dia duduk sekarang. Diraihnya selembar foto yang sudah kusam dari sana. Matanya menatap wajah yang ada difoto itu.
"Sejauh manapun Cinta pergi saat ini. Dia akan langsung berlari dalam pelukan gue. Jadi, loe saat ini sembunyikan Cinta dari gue kalau loe tidak ingin menangis darah karena kehilangan Cinta." Memberi peringatan.
Rafa terdiam mendengar peringatan itu. Dia tahu, Joy bukan tandingan yang mudah. Terlebih Joy adalah cinta pertama Cinta. Pastinya Cinta akan lebih mempercayai Joy.
"Jangan khawatir, bro. Semua yang sudah menjadi milik gue, gak akan pernah bisa menjadi milik loe." Mengakhiri pembicaraan itu.
Joy tersulut emosi. Dia melemparkan ponselnya kedinding. Ponsel itu pecah berkeping keping. Dan Jesik semakin menggigil ketakutan bersembunyi dibawah selimutnya.
__ADS_1