Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
AMPP S2 (Bab 2)


__ADS_3

Ting tong…


Bel rumah berbunyi untuk pertama kalinya setelah dua tahun lalu. Ya, Rafa melarang semua orang datang ke rumah kecuali bersamanya atau sangat mendesak. Sehingga selama dua tahun ini, bel rumah tidak pernah berbunyi lagi.


Rumahpun sudah tidak dilengkapi cctv. Rafa juga memutuskan untuk tidak mempekerjakan pembantu dan penjaga lagi. Dia khawatir kehadiran orang orang tersebutlah yang akan membahayakan Cinta.


Rafa juga melarang siapapun datang kerumah tanpa sepengetahuannya.


Bahkan saat Jack dan Hana datang, mereka menelpon Cinta langsung untuk membuka pintu. Jadi, mereka tidak perlu membunyikan bel rumah.


"Siapa yang datang?" Mengecek ponselnya.


Siapa tahu ada panggilan dari orang yang menekan tombol bel. Rupanya tidak ada notif apapun.


Cinta melangkah pelan, meski ragu dan was was, Cinta melangkah menuju pintu.


"Siapa?" Teriak Cinta dari dalam.


"Papa. Maaf karena mengejutkanmu, sayang." Sahut tamunya itu yang ternyata Papa mertuanya.


Segera saja Cinta membuka pintu.


"Papa? Maaf membuat Papa lama menunggu di luar." Sambut Cinta dengan mempersilahkan Papa masuk.


"Papa juga minta maaf karena datang melanggar peraturan dari Rafa." Ucapnya yang langsung duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Tidak apa, Pa." Ikut duduk.


"Ini, papa bawa oleh oleh dari Kanada." Menyodorkan paper bag pada Cinta.


"Apa ini, Pa?" Mengambilnya.


"Bukalah." Sarannya.


Segera Cinta membuka paperbag itu dengan gembira. Saat melihat apa yang ada di dalam paper bag itu, mata Cinta mulai berkaca kaca.


"Papa..." Menatap haru pada lelaki tua yang sangat perhatian padanya sejak hari Cinta keguguran.


"Itu obat dijamin ampuh. Ya, Papa berharap semoga rahim kamu kembali kokoh dan kuat, sehingga bisa menerima kehadiran bayi lagi." Jelas Papa.


"Ini pasti sangat mahal, kan Pa?" Tanya Cinta sambil menghapus air matanya.


"Tidak sebanding dengan rasa sakit yang harus kamu alami karena keegoisan Mama." Ucap Papa menyesal.


"Tidak, Pa. Jangan menyalahkan Mama. Hari itu Cinta yang kurang hati hati." Tuturnya mengingat kejadian dua tahun lalu.


"Terimakasih, sayang. Kamu bukan hanya menantu Papa. Tapi, bagi Papa kamu adalah putri Papa." Ungkap Papa yang akhirnya meneteskan air mata.


Cinta benar benar terharu dengan kasih sayang Papa mertuanya.


"Boleh papa memegang tanganmu?" Tanya Papa.

__ADS_1


Sebentar Cinta tersenyum, lalu mengukurkan tangannya kehadapan Papa. Segera Papa memegangnya lembut. Cinta dapat merasakan pegangan tangan seorang Ayah. Dia merasa tangannya disentuh lembut oleh Almarhum Ayahnya yang sudah tiada.


"Terimakasih karena memaafkan Mama. Terimakasih masih bertahan bersama Rafa. Terimakasih karena selalu sabar." Ucap Papa sambil mengelus lembut tangan itu.


Cinta tersenyum, sekaligus haru. Kain cadarnya sudah basah oleh air mata yang terus mengalir haru dibalik cadarnya itu.


"Papa masih menyembunyikan rahasia ini dari Rafa, kan?" Tanya Cinta kemudian.


"Tentu, sayang. Papa akan menjaga rahasia kita dengan baik. Selama kamu berjanji untuk tetap berada disamping Rafa. Menemaninya, membahagiakannya menghiburnya. Rafa tidak pernah mendapat kasih sayang penuh dari Mama dan Papa. Saat Rafa dan Rani masih kecil, kami selalu sibuk bekerja." Ungkap Papa menyesal.


"Rafa tumbuh dengan baik dan sangat hebat, Pa. Jadi, kalian tidak perlu merasa menyesal." Hibur Cinta.


Sejenak keduanya terdiam dengan pikiran masing masing. Sampai akhirnya, Papa memutuskan untuk segera pulang.


"Ingat, obatnya diminum dengan rutin. Jaga kesehatan, jangan terlalu capek dan seringlah berolah raga." Mengingatkan kembali.


"Siap Papa. Dan mohon doanya, agar cucu papa bisa segera hadir lagi." Ucapnya semangat.


Papa tersenyum senang melihat reaksi menantunya itu.


"Ajaklah Rafa liburan. Sesekali, kalian harus lebih sering bersama." Saran Papa.


Cinta hanya tersenyum saja menanggapi saran Papa. Begitu


Papa pergi, Cinta kembali masuk ke rumah dan melanjutkan rajutan kaos kaki bayi yang hampir selesai itu.

__ADS_1


__ADS_2