
Tepat pukul satu siang, Nyonya Elvita datang ke rumah Rafa. Sengaja kedatangannya untuk bertemu dengan Febi, wanita yang berani kabur dihari pernikahan putranya itu.
Para Maid membungkuk menyambut kedatangan Elvita. Begitu juga dengan Cinta. Hanya Febi satu-satunya yang tidak membungkuk.
"Kamu Febi?" Tanya Elvita saat berhadapan dengan Febi.
"Iya, Ma." Jawabnya tanpa beban.
Elvita tersenyum geli dan memalingkan pandangannya.
"Beraninya kamu memanggilku Mama. Kamu pikir siapa kamu? Menantu saya? Cuiihh…" Meludah ke samping Febi.
Tatapannya begitu tajam menatap penuh kebencian pada Febi.
"Beruntung kamu wanita berpendidikan. Beruntung karena orangtuamu sahabat suamiku." Melangkah menuju sofa.
Elvita duduk di sana. Sedangkan semua Maid kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing.
"Duduklah, Febi." Sarannya kemudian.
Segera Febi duduk di sofa yang langsung berhadapan dengannya.
"Kamu tidak takut padaku?" Tanya Elvita.
"Tidak, Ma. Aku tidak takut sama sekali. Karena Rafa menerimaku dan memberikan tempat istimewa dirumah ini." Jawabnya tegas, angkuh dan sedikit bangga.
Ditengah pembicaraan mereka, Cinta datang membawakan dua gelas orange jus.
"Apa Rafa menjadikan kamu Maid di rumah ini?" Tertawa lepas.
Elvita merasa geli mengingat kekocakan Rafa yang menjadikan wanita yang dinikahinya sebagai pelayan di rumahnya.
"Jika saya Rafa, saya akan jadikan kamu bukan hanya sekedar Maid." Mereguk jusnya.
Lalu, meraih hijab Cinta, hingga Cinta terduduk berlutut di lantai.
"Sekaligus pemuas nafsu." Bisiknya ditelinga Cinta.
Elvita kembali tertawa terbahak-bahak. Begitu juga dengan Febi, dia pun ikut menertawakan Cinta.
Dan Cinta, matanya berkaca-kaca. Perlahan dia kembali berdiri dan melangkah menuju dapur.
Di perusahaan, Rafa baru saja selesai meeting. Saat ini dia sedang menyantap makan siangnya ditemani Jesika.
"Jesika, aku punya beberapa perusahaan bagus dan sangat coook untuk kamu. Memberikan beberapa kartu nama CEO perusahaan.
"Untuk apa, Tuan?" Tanya Jesika tidak mengerti.
"Bekerjalah dengan salah satu dari CEO perusahan-perusahaan itu. Aku harus mempekerjakan Sekretaris baru." Ucapnya santai sambil mengunyah makan siangnya.
"Tuan memecat saya?"
"Sebenarnya bukan memecat. Hanya aku transfer ke perusahaan yang lebih bagus lagi." Jawabnya tanpa ada rasa bersalah.
"Tuan, keterlaluan. Setiap hari saya melakukan tugas saya bahkan lebih dari seharusnya. Dan sekarang setelah bertemu perempuan kampungan itu Tuan membuang saya begitu saja." Maki Jesika sambil berteriak.
Beruntunglah mereka makan di ruang VIP. Jadi tidak ada yang mendengar makian Jesika.
"Cinta Indira." Teriak Rafa tidak kalah lantangnya.
"Namanya Cinta Indira. Panggil dia Nyonya." Tegas Rafa sambil menarik kuat dagu Jesika.
"Jangan pernah kamu sebut dengan ucapan tidak pantas seperti itu. Dia istriku." Sambung Rafa, lalu menghempaskan dagu Jesika kasar.
__ADS_1
Jesika semakin murka. Dia melempar tasnya ke wajah Rafa. Lalu menjatuhkan semua piring ditas meja.
"Bajingan… dasar bajingan." Teriaknya mengamuk.
Rafa hanya menatap penuh amarah. Pipinya berdarah terkena rantai tali tas Jesika. Sepatu dan celananya kotor terkena makanan yang sudah tumpah berserakan dilantai bersamaan dengan pecahan piring serta gelas.
"Aku tidak pernah memintamu melakukan itu, Jesika. Apa kamu lupa, kamu sendiri yang bermohon untuk melakukannya. Ingat itu." Ucap Rafa lebih santai.
Lalu dia melangkah meninggalkan ruangan itu. Jesika kembali berteriak dan mengamuk. Hingga membuat Waiter terdiam di depan pintu ruangan. Dia belum berani masuk, karena khawatir akan terkena amukan pelanggannya itu.
"Aku bersumpah, aku akan menghancurkan kamu Rafa." Teriaknya.
Tidak jauh berbeda dengan Jesika, di mobilnya Rafa juga sedang menahan emosi amukan yang meluap. Matanya fokus menatap layar tablet miliknya yang tersambung dengan cctv dirumah.
"Mmhh haaahh… Cinta kamu tu kenapa keras kepala." Makinya.
Lalu Rafa melajukan mobilnya menuju rumah. Sebelum itu Rafa menelpon Riko, kepala Admin perusahaan.
📱"Riko, sepertinya saya tidak akan kembali ke kantor. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan saya, tolong kamu kirim lewat email saja." Jelasnya.
📱"Baik Tuan." Sahut Riko.
Rafa segera mengakhiri pembicaraannya, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Saat Rafa sedang berpacu dijalanan, di rumahnya sedang tegang. Elvita membicarakan tentang bayi yang ada dalam kandungan Febi.
"Siapa ayah dari bayi itu?" Menunjuk perut Febi.
"Mama tidak perlu tahu. Satu yang pasti, dia hanya pria biasa." Jawabnya tanpa ada rasa bersalah.
Elvita mentapnya tajam. Ada perasaan menggelitik yang ingin membuatnya tertawa. Semua itu karena ulah Febi yang tidak kenal takut dan tidak tahu malu.
"Yakinkan Rafa untuk menikahimu dan menjadikan bayi itu pewarisnya. Karena, aku tidak akan pernah sudi, memiliki cucu dari rahim perempuan kampungan itu." Ucap Elvita.
"Baik. Apapun itu, katakan saja."
Keduanya saling bertatapan. Mencoba menelisik jauh kedalam pikiran masing-masing.
Sementara itu, Cinta yang mendengar ucapan Elvita merasakan sesak pada dadanya.
'Ya Allah, sehina itukah aku dimata Mama?' Batinnya.
"Hei, perempuan kampung." Panggil Elvita setengah berteriak.
Cinta tidak mendengar panggilan itu. Dia masih terpaku diam hanyut dalam lamunannya.
"Cinta…" Teriak Febi.
Cinta kaget, hingga gelas yang tadi dipegangnya jatuh ke lantai. Pecahan gelas itu menancap diujung jari kakinya.
"Ya Allah, astaghfirullah…" Ucapnya kaget.
"Melamun apa sih? Tuh lihat gelasnya pecah." Maki Febi dari tempatnya.
"Maaf, saya akan membereskannya." Berjongkok mengambil pecahan gelas kaca itu.
"Biar saya saja Nyonya." Mengambil pecahan gelas di tangan Cinta.
"Bik Imah, biar saya saja Bik."
"Tidak Nyonya. Kalau Tuan sampai tahu, kami semua akan dimarahi Tuan Rafa." Jelas Imah sambil memungut beling-beling itu.
Elvita tersenyum sinis melihat kearah dapur. Sementara Febi sudah melangkah menghampiri Cinta.
__ADS_1
"Bik Imah, biarkan Cinta membersihkan semuanya." Perintah Febi.
"Tidak Nyonya."
"Kamu tu ya, suka sekali membantah saya. Cepat pergi dari sini." Menarik rambut Imah dengan paksa.
"Sakit Nyonya." Teriaknya.
"Febi hentikan. Aku akan membersihkan ini. Tolong lepaskan bik Imah." Mencoba melepaskan tangan Febi dari rambut bik Imah.
Elvita geram melihat keributan itu. Dia pun memutuskan untuk turun tangan.
"Stop…" Bentaknya.
Semua menghentikan pertikaian itu. Mereka tegak lurus menundukkan kepala. Dan pada saat itulah Imah melihat ujung jemari kaki Cinta mengeluarkan darah. Tapi dia tidak bisa berkutik saat ini.
"Febi, kamu lebih baik kembali ke kamarmu. Jaga kandunganmu dengan baik." Pintanya.
"Baik, Ma."
Febi melangkah menuju kamarnya. Dia menatap penuh kemenangan kearah Cinta.
"Dan kamu, perempuan kampung…" Menarik dagu Cinta kasar.
"Sakit, Ma." Mencoba melepaskan diri.
"Sakit? Ma? Beraninya kamu memanggilku Mama." Melepas kasar dagu Cinta.
Lalu, Elvita mengangkat tangannya hendak menampar Cinta.
Plakk…
pukulan itu tepat mengenai pipi kiri Imah. Dan Cinta terdorong kebelakang, hingga kakinya menginjak sisa pecahan gelas kaca itu.
"Berani sekali kamu melindunginya." Teriak Mama kesal.
Dan saat Mama hendak memukul lagi, Rafa datang.
"Mama, apa yang Mama lakukan di rumahku?" Teriak Rafa setengah berlari.
Semua mata tertuju padanya, begitu juga dengan Febi yang menghentikan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamar.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Melangkah mendekati Rafa.
Pada saat itulah Rafa melihat Cinta terduduk dilantai dengan kaki yang mengeluarkan darah.
"Apa yang Mama lakukan?" Menatap tajam mata Elvita.
"Hanya sedikit memberi pelajaran."
Mendengar jawaban Mamanya, Rafa terdiam. Lalu melangkah mendekati Cinta.
Ditatapnya mata sendu Cinta. Dia tahu saat ini Cinta menangis dan air mata sudah menetes dibalik kain cadarnya.
"Kenapa kamu keras kepala, Cinta?" Gertak Rafa tertahan.
"Maafkan saya Tuan." Ucapnya gugup.
Sebentar Rafa menoleh pada Mamanya. Lalu melirik Febi yang tersenyum padanya.
"Lebih baik Mama pulang sekarang. Pulang, Ma." Sarannya menegaskan.
Elvita mengangkat kedua bahunya, lalu meninggalkan rumah itu dengan senyum getir dan perasaan kecewa.
__ADS_1