
Sudah lima hari Febi tidak terlihat dirumah. Cinta baru menyadari hari ini, karena dia tidak sengaja mendengar Mila dan dua teman Maid lainnya mengguncing tentang Cinta.
"Beruntunglah Nyonya Febi pergi dari rumah ini. Jika tidak, bisa bisa terkena sial juga."
"Aku dengar perusahaan Tuan yang di Malaysia mengalami banyak kerugian. Lalu, perusahaan Tuan Prayoga juga tiba tiba mengalami kemerosotan saham." Bincang mereka usai melihat acara TV yang menyiarkan tentang berita itu.
"Nyonya Febi benar, siapa saja yang melihat wajah Nyonya Cinta akan mengalami sial." Sambung mereka.
Puas mendengar ocehan itu, Cinta melepas cadarnya. Lalu dia menghampiri para Maid itu.
"Apa yang kalian lakukan?" Ucap Cinta datar namun terdengar tegas.
Mereka yang kaget sontak menoleh pada Cinta. Mereka terperangah melihat keindahan wajah dihadapan mereka. Dan lucunya, dua Maid lainnya itu tidak mengenali, yang berdiri dihadapan mereka adalah Nyonya besar di rumah ini.
"Siapa kamu?" Tanya mereka gugup.
Hanya Mila yang menundukkan kepalanya. Dia takut dan kaget juga melihat Cinta berdiri dengan tegapnya tanpa cadar dihadapan mereka.
"SIAPA SAYA?" Tertawa sebentar, lalu Cinta melangkah mendekati mereka.
"AKU RATU DI ISTANA INI." Bisiknya menegaskan.
__ADS_1
"Selamat siang Nyonya. Maafkan kami yang telah lancang…" Ucap Mila sambil menunduk.
Cinta mendekati Mila, lalu diayunkannya tangannya hampir saja mengenai wajah Mila. Tapi, diurungkannya saat melihat reaksi ketakutan Mila.
"Berhentilah memanggil Febi Nyonya, jika kamu masih ingin bekerja disini." Ucapnya sambil menatap tajam mata Mila yang mulai berkaca kaca.
"Ampuni kami Nyonya. Kami tidak bermaksud…"
"Lebih baik sekarang kalian ke dapur. Banyak hal yang harus dibereskan." Melangkah pergi dengan langkah bak ratu sejagat.
"Baik Nyonya." Segera menuju dapur dengan terus menundukkan pandangan mereka saat lewat didekat Cinta.
Setelah mereka hilang dari pandangan. Cinta terduduk lemas di Sofa. Bibirnya agak gemetar namun dia tersenyum.
"Benarkah? Apa tadi aku sudah cukup menyeramkan?" Tanya Cinta penasaran.
Imah mengangkat kedua jempolnya, diarahkan pada Cinta.
"Nyonya keren. Tuan pasti akan senang."
Cinta menghela napas lega. Lalu dia tersenyum senang.
__ADS_1
"Imah, tolong buatkan segelas kopi latte untukku." Ucapnya dengan gaya sombongnya itu.
"Siap Nyonya." Sahut Imah.
Lalu mereka tertawa bersama. Cinta juga menirukan banyak gaya ala Nyonya Nyonya besar yang sedang memarahi atau memerintahkan para maidnya.
Sementara itu, diruang kerjanya. Rafa tidak bisa fokus lagi mengerjakan pekerjaannya. Dia tersenyum senang dan gemas melihat apa yang sedang Cinta lakukan saat ini dirumahnya.
"Hana, selesaikan semuanya." Perintahnya.
"Tuan ada urusan apa lagi kali ini?" Tanya Hana sedikit kesal. Karena akhir akhir ini Rafa selalu melimpahkan pekerjaannya pada Hana.
Terlebih saat ini ada banyak masalah yang datang pada perusahaan.
"Ada sesuatu hal yang mulai saat ini, tidak akan pernah aku lewatkan meski sesibuk apapun pekerjaanku. Dia istriku." Ujar Rafa sambil memasang jasnya.
Diraihnya tabletnya lalu segera melangkah menuju mobil. Matanya terus melihat layar tablet, dimana Cinta masih memperagakan gaya sombong, angkuh dan tegasnya.
"Inilah Cintaku. Cinta yang dulu selalu tersenyum dan lucu saat bersamaku." Gumam Rafa.
"Tuan, aku membawa info terbaru." Ucap Jack yang tidak sengaja melihat Rafa keluar dari Lift.
__ADS_1
"Berikan pada Hana saja. Saya sibuk." Ucapnya tanpa menoleh.
"Kenapa informasi seperti ini harus diberikan pada Hana. Memangnya Hana bisa apa dengan informasi ini. Dasar Tuan aneh." Gerutuk Jack kebingungan.