
Usai mengakhiri perbincangan dengan Joy. Rafa segera menyusul Cinta yang sedang menyiapkan Kue yang baru selesai dibuatnya.
"Sayang, kue nya sudah jadi." Duduk dikursi pinggir kolam renang, dimana Cinta menyajikan kuenya.
"Aku tidak tahu, apakah ini enak atau tidak, Mas." Ucapnya sedikit sedih.
"Duduklah." Menepuk pahanya, memberi kode agar Cinta duduk dalam pangkuannya.
Meski ragu Cinta mengikuti arahan suaminya. Dia tidak mau suaminya itu marah dan mengomel.
"Suapkan kuenya." Melingkarkan tangannya dipinggang Cinta saat Cinta sudah duduk dipangkuannya.
Cinta menyuapkan sepotong kecil bolu pandan buatannya. Rafa membuka mulutnya lebar lebar, lalu mulai mengunyah. Cinta menunggu dengan khawatir respon apa yang akan Rafa katakan.
"Enak, manis." Ucap Rafa.
Senyum bahagiapun memenuhi wajah Cinta. Akhirnya dia bisa merasakan indahnya saat suaminya memuji hasil masakannya.
"Sebahagia itu? Memangnya ini pertama kali kamu memasak?" Tanya Prince heran karena Cinta benar benar bahagia seperti seorang anak yang baru bisa memasak untuk pertama kalinya.
"Bukan. Aku sering memasak kok."
"Lalu?" Membuka mulutnya lagi, pertanda ingin disuapi.
"Tidak pernah ada yang memuji masakanku, apapun itu yang aku masak." Menyuapka kue lagi pada Rafa.
"Benarkah? Aku yang pertama memuji makanan yang kamu masak?" Ucapnya sambil menggemu makanan.
__ADS_1
"Iya. Mas yang pertama memuji masakanku." Ungkapnya malu malu.
"Apakah mantan suamimu tidak pernah memujimu?" Bertanya ragu ragu.
Hanya anggukan pelan dari Cinta sebagai jawaban. Wajahnya yang tadi berbunga bunga berubah menjadi sedih.
"Kamu tidak suka mengingatnya?" Mengeratkan pelukannya.
"Apa mas penasaran tentang pernikahanku yang dulu?" Menghadapkan tubuhnya pada Rafa.
"Iya." Jawab Rafa datar.
"Tentang bagian mananya?" Menyuapkan lagi kue pada Rafa.
"Ya, tentang perlakuannya padamu. Lalu, kenapa dia menceraikan wanita secantik dirimu?" Tanya Rafa.
Sebentar Cinta diam. Lalu, dia mengalihkan pandangannya untuk menatap genangan air dalam kolam.
"Singkat cerita dia menikahiku. Saat malam pertama..." Ucapan Cinta terhenti. Rafa mengecup bibirnya tiba tiba.
"Skip saja tentang itu. Aku tidak ingin mendengarnya." Mengakhiri kecupannya.
"Dengar dulu." Protes Cinta menepuk pelan pergelangan tangan Rafa.
"Baiklah." Ucapnya sewot.
"Jadi saat malam pertama itu, aku hendak melepas cadarku. Tapi dia langsung memalingkan wajahnya. Dia melarangku melepas cadar. Katanya dia tidak mau terkena sial karena melihat wajahku." Sambungnya.
__ADS_1
"Jadi dia tidak pernah melihat wajahmu?" Tanya Rafa hampir tersedak.
Cinta menggeleng yakin.
"Lalu, foto kalian berciuman itu?" Semakin penasaran.
"Itu editan. Febi yang mengeditnya. Febi bilang pada lelaki itu, wajahku dalam foto itu bukan yang sebenarnya."
"Kenapa seperti itu?"
"Febi mengatakan pada semua pria yang tertarik padaku, wajahku jelek ada bekas luka bakar dan itu menjijikkan. Setiap yang melihat wajahku akan terkena sial." Tuturnya santai.
"Benarkah begitu? Lalu, apakah aku akan terkena sial juga?" Tanya Rafa membuat ekspresi kaget.
Langsung saja tangan Cinta mencubit kedua belah pipi Rafa.
"Ini lihat wajahku, maka Rafa Aditya akan terkena sial seumur hidup." Gerutu Cinta kesal bercampur geram.
"Ampun, sakit tau." Mencoba melepas tangan Cinta dari pipinya.
Cinta bangkit dari duduknya, dia hendak melangkah pergi, tapi cepat ditahan oleh Rafa.
"Kamu belum menceritakan, bagaimana dia memperlakukanmu dan kenapa dia menceraikanmu." Menarik kembali tubuh Cinta agar duduk dipangkuannya.
"Dia memperlakukanku seperti wanita panggilan." Ucapnya tanpa jeda.
"Dia menceraikan aku, karena takut terkena sial. Dan dia sudah tidak menginginkan tubuhku." Sambungnya dengan bicara sangat cepat.
__ADS_1
Rafa hanya mengangguk saja. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Hanya pelukan dan ciuman dikening Cinta yang bisa dilakukannya.
'Satu persatu mulai aku pahami. Kini, aku penasaran seperti apa hubunganmu dengan Joy dimasa lalu, Cinta.' Batinnya.