
Rafa tidak bisa tidur. Dia penasaran dengan orang yang membuat Cinta menangis tadi siang.
'Bicara dengan siapakah tadi siang, sayang?' Batinnya sambil menatap wajah lelap Cinta dalam pelukannya.
Perlahan Rafa memindahkan kepala Cinta ke bantal. Bersusah payah dia menarik lengannya yang menjadi bantal Cinta.
"Mas mau kemana?" Rengeknya sambil mempererat pelukannya.
"Mas mau kekamar mandi dulu." Mengecup kening Cinta.
Dengan malas Cinta beralih posisi tidurnya. Dia membelakangi Rafa dan melanjutkan lagi tidurnya.
Lalu, Rafa pun melangkah menuju kamar bawah tangga. Ya, dia ingin memeriksa cctv agar dapat mengetahui siapa yang bicara dengan Cinta sampai membuat Cinta menangis.
Rekaman mulai berputar. Namun, sebelum melihat rekaman saat Cinta bicara melalui telepon, Rafa menemukan rekaman yang lebih menarik. Dimana malam itu Febi terburu buru berlari meninggalkan rumah. Rafa juga melihat Febi pergi diantar oleh pak Bay, satu satunya supir pribadi kepercayaan Rafa yang sudah menjadi supirnya sejak Rafa masih SMA.
Melupakan rekaman yang awalnya ingin dilihat. Rafa segera menemui pak Bay, yang ternyata masih berada di post tempat dua satpam yang menjaga rumahnya.
"Pak Bay." Panggil Rafa yang menggamitnya dari teras rumah.
"Iya Den." Segera menghampiri Rafa.
"Ada yang bisa saya bantu Den?" Menundukkan kepalanya di depan Rafa.
"Kemana bapak mengantarkan Febi?"
"Kerumah mamanya, Den."
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang mencurigakan? Berapa lama dia di rumah mamanya?"
"Semalaman Den. Lalu, pagi harinya dia meminta diantar ke rumah seorang kenalan, katanya." Jelas pak Bay jujur menceritakan semuanya.
"Begitukah? Bapak masih ingat alamatnya?"
"Masih Den."
"Antarkan saya kesana sekarang." Melangkah masuk ke mobil.
Paka Bay pun mengikuti saja perintah majikannya.
"Lalu, saat ini dimana Febi?"
"Masih di rumah Mamanya, Den. Katanya dia akan tetap disana sebelum Den Rafa sendiri yang menjemputnya."
Rafa tertawa terbahak bahak mendengar penuturan pak Bay tentang Febi.
"Sampai kiamat pun aku tidak akan menjemputnya. Siapa dia? Aku mengizinkannya tinggal hanya demi Papa." Ucapnya kesal.
"Den, boleh saya bertanya?" Ucap pak Bay ragu ragu.
Rafa mengerutkan keningnya. Dia heran kenapa pak Bay tiba tiba meminta izin dulu untuk bertanya. Padahal biasanya langsung bicara saja, tidak peduli mau Rafa suka atau tidak. Mau didengarkan atau pun tidak.
"Pertanyaan yang sulit kah? Biasanya tidak pernah meminta izin untuk bertanya." Ujar Rafa.
Sebentar pak Bay tersenyum. Lalu dia mengambil sesuatu dari dalam tempat penyimpanan barang di bagian depan mobil.
__ADS_1
"Apa benda ini milik Nyonya?" Menyodorkan kotak persegi panjang kecil berwarna gold kearah Rafa yang duduk di kursi belakang.
Segera Rafa mengambil kotak itu. Dia membukanya dan didalam kotak itu tersimpan rapi kalung perak berliontin R&C.
"Kenapa ini bisa sama bapak?" Tanya Rafa heran.
Karena seharusnya kotak ini tersimpan rapi dalam ruang kamar Rahasia yang sudah sangat lama tidak di kunjunginya.
"Maafkan saya Tuan. Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti Mila yang hendak masuk ke sana. Tapi, dia gagal karena mendengar suara batuk saya. Saat dia melangkah pergi kotak ini jatuh dari dalam saku bajunya." Jelas pak Bay.
Wajah Rafa memerah padam. Dia memikirkan sesuatu. Seperti, apakah Mila menyusup masuk dan mengambil kotak kalung ini. Ataukah, ada orang lain yang memberikan kotak ini pada Mila.
"Kenapa dia bisa memiliki kotak ini? Yang bisa masuk ke ruangan itu hanya saya, Jack dan bik Imah. Apakah ada diantara mereka yang mengkhianati saya?" Ucapnya geram sambil menggertakkan giginya.
"Saya tidak tahu, Den. Tapi, saya rasa pelakunya nyonya Febi."
"Kenapa bapak mencurigainya?"
Sebentar Pak Bay mengatur laju mobil agar lebih stabil. Lalu dia mengatur nada bicaranya agar tidak terburu buru.
"Lima hari yang lalu, Febi pernah bertanya pada saya tentang kamar itu. Saya heran awalnya, darimana dia bisa tahu tentang kamar rahasia itu. Ternyata dia menguping pembicaraan Nyonya Cinta dan bik Imah. Sebenarnya, bik Imah pernah hampir membawa Nyonya ke ruangan itu." Jelasnya.
Rafa mendengarkan dengan baik tanpa memotong ucapan pak Bay.
"Saya rasa Febi dan Mila berhasil masuk mengambil kotak kalung itu. Dan karena saya pernah mengatakan pada mereka, jika ada satu barang sekecil debu saja hilang dari ruangan itu, Den Rafa tidak akan segan untuk menghukum bahkan membunuh orang itu. Mungkin karena itu, mereka berniat mengembalikan kalungnya." Sambung pak Bay.
Rafa hanya mengangguk. Ternyata Febi melakukan banyak hal di rumahnya.
__ADS_1
"Jangan pernah menerima apapun itu yang Febi perintahkan. Termasuk jangan pernah pak Bay menjemputnya. Biarkan dia tinggal di rumah Mamanya. Sebab, jika dia kembali, aku tidak bisa menjamin keselamatannya." Mengertakkan gerahamnya.