
Seperti biasa, pagi ini Cinta sudah sibuk di dapur memasak sarapan untuk dirinya sendiri. Sedangkn Rafa masih bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Huekk… huekk."
Suara Febi yang berlari menuju wastafel dapur. Dia mengalami muntah di pagi hari.
"Hmhueekkkk…" Kembali muntah.
Cinta membantu menepukkan punggung Febi pelan.
"Kamu masih mual?" Tanya Cinta saat Febi mulai membersihkan mulutnya.
"Iya. Sangat mual." Jawabnya beralih duduk di meja makan.
"Nyonya perlu sesuatu?" Tanya seorang Maid pada Febi.
"Buatkan susu." Katanya.
"Baik, Nyonya." Melangkah mencari susu bubuk.
"Aku mau Cinta yang membuatnya." Ujarnya, membuat Maid itu menghentikan langkahnya.
"Maaf Nyonya Febi. Saya saja yang membuatnya. Nyonya Cinta sedang sibuk memasak." Ucapnya.
"Aku bilang Cinta ya harus Cinta. Kenapa kamu yang jadi ngatur, sih." Bentaknya kesal.
Maid itu terdiam, sedangkan Cinta menggelengkan kepala pelan. Dia sudah menduga, Febi masih belum berubah. Sampai kapanpun Febi akan terus membenci dan menyiksanya.
"Tidak apa, Bik. Biar saya buatkan susu untuk Nyonya Febi. Bibik kerjakan pekerjaan seperti biasa." Jawab Cinta.
"Tapi Nyonya?"
"Tidak apa. Percaya lah." Tersenyum dan memberi isyarat agar Maid itu meninggalkannya berdua dengan Febi saja.
Maid itu segera meninggalkan Cinta dan Febi berdua di dapur.
"Kamu jangan berlagak jadi Nyonya besar di sini. Jangan lupa, aku Nyonya besar mulai sekarang." Ucap Febi.
"Aku tahu." Jawab Cinta sambil membuatkan susu untuk Febi.
"Jangan pernah berharap Rafa bisa menjadi milikmu. Karena, mulai sekarang aku akan membuat Rafa menjadi milikku."
Cinta hanya diam. Dia meletakkan segelas susu hangat di hadapan Febi. Dan pada saat itu, Rafa melangkah menuju dapur. Dia menyaksikan apa yang terjadi.
"Ehem…" Menghampiri Cinta dan Febi.
"Rafa, kamu sudah mau berangkat ke kantor?" Sambut Febi langsung meraih pergelangan tangan Rafa.
"Iya. Dan, aku mau bicara berdua sama kamu, bisa?" Tanya Rafa menatap tajam pada Cinta yang sedang mencuci piring.
"Tentu bisa. Bicaranya dimana?" Tanya Febi antusias dan bermanja.
"Di kamar aja." Tegas Rafa masih menatap Cinta.
"Ayok." Menarik lengan Rafa.
Rafa mengikuti langkah Febi, tapi matanya masih menatap pada Cinta yang masih tidak menoleh padanya.
__ADS_1
Begitu sudah tak ada suara, barulah Cinta menata sarapan diatas meja. Lalu, Cinta kembali ke kamarnya.
Sedangkan Rafa dan Febi, sedang bicara serius di kamar.
"Mulai besok, kamu boleh langsung bekerja di perusahaan." Ucap Rafa.
"Tapi, sangat tidak mungkin dengan kondisi seperti ini. Aku mengalami muntah setiap pagi, tubuhku juga lemas." Ucapnya sambil menyenderkan kepala ke bahu Rafa.
"Sudah berapa usia kandunganmu?"
"Enam minggu." Jawabnya pelan sambil menjauhkan diri dari Rafa.
"Jadi, itu yang membuat kamu kabur saat hari pernikahan?"
Febi mengangguk pelan. Dia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Rafa.
"Siapa ayahnya?"
"Maafkan aku..." Bergeser semakin menjauh.
"Kamu ingin anak ini terdaftar sebagai anak kandungku?"
Febi mengangguk, dan kali ini dia memberanikan diri menatap Rafa dengan mata berkaca-kaca miliknya.
"Tapi, aku tidak pernah menikahimu. Yang aku nikahi saat itu adalah Cinta. Selamanya hanya dia yang akan menjadi istriku. Kalaupun aku punya keturunan, maka hanya akan terlahir darinya." Tegas Rafa.
Mata berkaca-kaca Febi berubah menjadi merah penuh kebancian dan amarah.
"Kenapa harus dia? Kamu mencintai wanita kampungan itu? Oh my God. Rafa buka matamu lebar-lebar. Tidak ada yang spesial dari wanita itu." Rutuknya memaki.
Febi hanya bisa diam menahan luapan emosinya. Rasanya ingin segera mengusir Cinta keluar dari rumah ini.
'Akan aku buat Cinta meninggalkan rumah ini dengan sendirinya. Ingat Rafa, semakin kamu peduli pada Cinta, semakin aku bertekad membuatnya menderita.' Batin Febi.
"Satu lagi. Kamu boleh memerintah semua Maid. Tapi, jangan pernah ulangi memerintah Cinta. Hanya aku satu-satunya yang boleh memerintahkan Cinta." Bisiknya di telinga Febi.
Setelah mengatakan itu, Rafa keluar dari kamar meninggalkan Febi yang emosi.
Begitu tiba di dapur, Rafa hanya mendapati sajian sarapan di meja makan. Sedangkan Cinta sudah tidak disana.
"Bik, mana Cinta?"
"Nyonya kembali ke kamar, Tuan. Apa perlu saya panggilkan?" Sarannya.
"Tidak usah. Biarkan dia istirahat." Ucap Rafa.
Kemudian Rafa langsung berangkat kerja tanpa berpamitan pada Cinta yang sedang merapikan tempat tidur dan juga pakaian Rafa yang masih berserakan dilantai.
Tok… tok…
"Nyonya, boleh saya masuk?" Seru Bik Imah, Maid tertua di rumah ini.
"Iya, masuk saja Bik." Sahut Cinta.
Imah masuk perlahan ke kamar. Matanya terbelalak kaget saat melihat Cinta berberes. Segera saja dia membantu Cinta.
"Tidak usah, bik. Saya bisa melakukannya sendiri."
__ADS_1
"Jangan Nyonya. Kalau Tuan Rafa tahu, saya yang akan kena amukan." Jelasnya.
"Jika tidak ada yang mengadu, tidak akan ketahuan Bik."
Imah terdiam sebentar, lalu menunjuk arah cctv yang dulu sudah pernah ditunjukkan pada Cinta.
"Uppss…" Ucap Cinta kaget saat melihat cctv itu.
Ingatannya memutar kembali kegiatan indahnya bersama Rafa yang hampir setiap malam. Wajah Cinta memerah dibalik cadarnya. Lalu, dia menutup wajahnya lagi menggunakan kedua telapak tangannya.
"Nyonya, ada apa? Nyonya kenapa?" Tanya Imah khawatir.
Cinta hanya menggeleng, lalu kembali melirik cctv itu.
"Apa benda itu hidup 24 jam?" Tanya Cinta menunjuk cctv.
Awalnya bik Imah bingung, namun kemudian dia tersenyum malu. Seakan dapat menangkap kekhawatiran yang sedang dipikirkan Nyonyanya itu.
"Mmh, setahu saya iya Nyonya. Cctv di rumah ini tidak pernah mati, kecuali rusak." Ucap Imah mencoba menahan tawa.
"Ya Allah, bagaimana ini?" Memukul wajahnya pelan.
"Nyonya kenapa memukul wajah?" Tanya Imah bingung.
Cinta menggeleng. Lalu dia berlari masuk ke kamar mandi. Saat Cinta sudah di kamar mandi, Imah tertawa hampir terbahak.
"Ya ampun, Nyonya pasti sedang memikirkan…" Menyatukan kedua jari telunjuknya.
"Nyonya lucu. Pantas saja tuan sangat obsesi melindungi Nyonya." Ujarnya.
Sementara itu, di kamar mandi Cinta melepas cadarnya. Dia mengusap wajahnya berkali-kali.
"Kenapa terasa gerah ya?" Mengusap lagi wajahnya.
"Apa semuanya terputar? Bagaimana kalau ada orang yang mengawasi cctv nya? Ya Allah, apa mereka melihat semuanya? Aaaaaa… kenapa aku lupa cctv itu." Rutuknya sambil sedikit memukul wajahnya yang masih basah.
Imah mendengar semua rutukan majikannya itu hanya bisa tersenyum-senyum malu.
"Andai saja Tuan Rafa lupa mematikan cctv nya setiap malam. Saya akan menikmati keromantisan tuan Rafa saat menyentuh kesayangannya." Ucap Imah mengkhayal sambil terus tersenyum.
"Bibik kenapa?" Tanya Cinta yang baru keluar dari kamar mandi.
"Eh Nyonya. Saya tidak apa-apa." Jawabnya gugup.
"Bibik kok senyum-senyum sendiri?" Selidik Cinta.
"Ee, semuanya sudah selesai. Saya permisi turun dulu, Nyonya." Pamitnya melangkah hendak meninggalkan kamar Cinta.
"Apa Tuan Rafa sudah berangkat kerja? Atau masih di kamar Febi?" Tanya Cinta penasaran.
Imah mengehentikan langkahnya dan langsung menoleh pada Cinta.
"Saya tidak tahu Nyonya. Sebab sejak tadi saya masih belum melihat Tuan Rafa. Karena ada urusan lain yang sedang saya kerjakan." Jawabnya.
Cinta hanya mengangguk kecewa. Rasanya aneh saat Rafa tidak pamit untuk pergi bekerja.
"Ah iya, aku lupa. Saat ini, kan sudah ada Nyonya sebenarnya. Sudah pasti Tuan Rafa tidak akan lagi pamit padaku. Lagi pula, siapa aku yang hanya sebagai pengganti yang kebetulan beruntung diizinkan tinggal di istana mewah ini." Ucapnya pelan dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1