Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 14


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Cinta mulai membuka matanya. Dia mulai melirik sekeliling kamar mencoba menemukan sosok yang tadi selalu memeluknya erat saat tertidur.


"Tuan… tuan dimana?" Mulai bangkit dari tempat tidur.


Tidak ada siapapun di kamar itu selain dirinya. Cinta mulai menurunkan kakinya ke lantai, dan saat kakinya menyentuh lantai, dia merintih kesakitan.


Rupanya kakinya yang luka karena pecahan kaca masih terasa sakit.


"Kamu mau kemana?" Tanya Rafa yang tiba-tiba datang entah dari mana.


"Saya mau ke kamar mandi Tuan." Ucapnya menahan sakit di telapak kakinya.


Tanpa pikir panjang, Rafa segera menggendong tubuh Cinta dan membawanya ke kamar mandi.


"Kalau sudah selesai, panggil saja." Meninggalkan Cinta di kamar mandi.


Rafa kembali ke ruang rahasia di balik sebuah poster besar bergambar bunga mawar. Sekilas poster itu terlihat seperti gambar dinding biasa. Tapi, kenyataannya poster itu adalah pintu menuju ruang rahasianya.


Di ruangan rahasia ini adalah tempat semua monitor yang tersambung dengan cctv yang ada. Disinilah Rafa melihat dan menyaksikan semua yang terjadi di rumahnya.


Saat ini Rafa fokus ke layar yang memperlihatkan Febi. Febi sedang duduk santai di pinggir kolam renang. Ada tiga orang Maid yang menemaninya dan melayani semua kebutuhannya.


"Nikmati semua kemewahan yang aku berikan, Febi. Nikmati sepuasnya. Karena, setelah itu kamu hanya akan merasakan kesensaraan saja." Gumam Rafa sambil tersenyum sinis.


"Aauwwhh…"


Suara teriakan Cinta terdengar jelas ditelinga Rafa. Segera dia keluar dari ruangan itu.


"Sudah aku bilang, kalau sudah selesai panggil saja aku." Ucapnya.


Rafa melangkah mendekati Cinta yang terduduk di depan pintu kamar mandi.


"Maaf Tuan. Saya tidak ingin merepotkan." Mencoba berdiri sendiri tanpa bantuan Rafa.


"Ya sudah, coba saja. Tapi, jangan pernah berteriak mengeluh atau merasa sakit." Tantang Rafa.


Cinta berhasil berdiri dengan berpegangan pada gaggang pintu kamar mandi. Perlahan dia melangkah dengan cara menjadikan kaki kanannya sebagai tumpuan membawa tubuhnya.


Rafa diam saja memperhatikan Cinta yang menahan rasa sakit saat sesekali terpaksa kaki kirinya menyentuh sedikit ke lantai.


Geram melihat itu, Rafa langsung menggendong tubuh Cinta dengan meletakkannya di bahunya, seperti menggendong karung beras.


"Tuan lepas, saya bisa melangkah sendiri." Protesnya.


Dihempaskan tubuh Cinta keatas tempat tidur dengan kasar oleh Rafa.


"Kamu mau tahu, kenapa kamu diceraikan?" Tanya Rafa.

__ADS_1


Cinta mengerutkan dahinya heran. Dia heran kenapa Rafa menanyakan hal seprti itu.


"Maksud Tuan apa?"


"Kamu terlalu naif dan menyebalkan." Sambung Rafa.


"Lalu kenapa Tuan tidak menceraikan saya?" Ucapnya lantang.


Mendengar pertanyaan itu, Rafa menatap tajam wajah Cinta yang juga menatapnya.


"Karena… ya, karena… saya butuh wanita untuk menjadi pelampiasan saja." Jawabnya ragu.


Wajah Cinta tidak berubah sama sekali. Pandangannya kosong, ekspresinya datar. Perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.


"Pelampiasan? Ya, saya hanya sebagai pelampiasan naf** semata." Ulangnya.


Rafa terdiam. Lalu pergi meninggalkan Cinta di kamar itu sendirian.


"Ingat Cinta, kamu hanya sebagai pelampiasan naf**, tidak lebih. Berhentilah mengkhayal. Hanya terus tersenyum, meski air mata menetes." Ucapnya pada dirinya sendiri.


Ucapan Rafa barusan, juga pernah diucapkan oleh mantan suaminya. Dan sekarang, ucapan menyakitkan itu kembali terdengar ditelinganya.


"Ya Allah, terimakasih, karena setidaknya kau izinkan hambamu ini menjadi wanita pemuas dalam ikatan pernikahan." Air matanya menetes tidak terbendung.


"Terimakasih ya Allah, engkau jadikan aku pemuas naf** dari suami yang tidak mencintaiku. Terimakasih karena Engkau hindarkan aku dari menjadi wanita hina yang bekerja di malam hari untuk pria hidung belang."


"Ya Allah, hamba tidak setegar itu untuk bisa tetap tersenyum dan menahan agar air mata tidak menetes. Ampuni hamba yang begitu lemah dan hanya bisa melampiaskan rasa sakit ini dengan menangis." Ucapnya berdoa sambil menangis.


Sementara itu, Rafa saat ini berada didalam mobilnya. Dia mendapat email dari Jesika untuk menemuinya saat ini juga. Jesika mengancamnya jika sampai tidak datang.


Rafa melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh Jesika. Tapi, sepanjang perjalanan Rafa merasa tidak tenang. Dia teringat dengan senyuman menyimpan luka di wajah Cinta.


"Bik Imah, temui Nyonya Cinta di kamar rahasia saya. Tanyakan dia butuh apa? Karena dia tidak dalam kondisi bisa berjalan sendiri." Ucap Rafa melalui layar ponselnya yang sudah tersambung dengan telepon rumah.


"Baik Tuan." Sahut Imah.


"Jangan biarkan dia melakukan semuanya sendiri. Bantu dia dan temani dia sampai saya pulang."


"Baik Tuan."


"Satu lagi, jangan sampai dia tahu kalau saya yang meminta kamu menemaninya."


"Iya Tuan."


Rafa mengakhiri pembicaraan itu. Lalu, dia kembali fokus menyetir mobilnya menuju tempat dimana Jesika sedang menunggunya.


Dan saat ini, bik Imah sudah berada di depan pintu kamar rahasia yang sangat tidak boleh di sentuh oleh Rafa sebelumnya. Dia ragu untuk mengetuk pintu.

__ADS_1


"Nyonya? Apa Nyonya butuh sesuatu?" Tanya Imah dari luar kamar.


"Bik Imah?" Teriak Cinta.


"Iya Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Masuklah, bik." Sahutnya.


Meski ragu, Imah akhirnya masuk ke kamar itu. Dilihatnya Cinta duduk menangis diatas tempat tidur.


"Nyonya kenapa menangis." Mendekati Cinta.


"Bolehkah saya memeluk bik Imah?" Tanyanya mengiba dengan wajah penuh air mata.


Bik Imah langsung memeluk erat tubuh Cinta. Dia pun ikut meneteskan air mata mendengar suara rintihan tangisan majikannya itu.


"Bik, apa saya tidak pantas bahagia?"


"Nyonya bicara apa? Semua manusia punya hak untuk bahagia." Ucapnya menenangkan.


"Sejak Ibu dan Bapak meninggalkan saya, senyuman seakan ikut pergi bersama mereka." Tuturnya sambil menangis.


"Nyonya jangan bicara seperti itu." Menghapus air mata dipipi Cinta.


"Saya kira, saat ada seorang pria menikahi saya. Saya akan kembali mendapatkan kasih sayang. Tapi ternyata… saya hanya dijadikan sebagai pelampiasan." Ucapnya sambil terisak.


Imah hanya diam. Dia terus memeluk dan mengelus punggung Cinta mencoba menenangkannya.


Sementara itu, di tempat lain. Rafa baru saja tiba di sebuah gedung tua yang sudah tidak berpenghuni.


Jesika berdiri sambil tersenyum menyambut kedatangan Rafa.


"Apa lagi yang kamu inginkan, Jesika?" Tanya Rafa.


Jesika melangkah mendekati Rafa. Dia mulai mengelus wajah Rafa dan akhirnya memeluk Rafa erat. Sedangkan Rafa tidak berkutik, dia hanya diam saja.


"Dari pada Tuan melampiaskan naf** pada wanita kampung itu. Lebih baik melampiaskan semuanya pada saya." Godanya mulai membuka kancing kemeja Rafa.


"Semenarik apapun kamu. Aku tidak tertarik." Ucap Rafa.


Jesika tersenyum sinis. Kancing kemeja Rafa sudah terbuka semua. Perut dengan otot kotak-kotaknya sudah terlihat jelas dan disentuh oleh Jesika.


"Baik, izinkan saya menyentuh seluruh tubuh Tuan. Kalau Tuan berhasil menahan sentuhan saya, maka saya tidak akan menyentuh Nyonya Cinta sedikitpun." Jelasnya sambil melepas ikat pinggang Rafa.


"Tapi, kalau tuan tergoda, maka Tuan boleh menikmati tubuh saya kapanpun Tuan mau… tentu dengan syarat. Berikan Cinta pada saya." Sambungnya.


Rafa hanya diam. Wajahnya datar, dia tidak bergerak sama sekali. Bahkan saat Jesika menyentuh area sensitifnya Rafa tidak tergoda.

__ADS_1


"Tidak akan pernah aku biarkan siapapun menyentuh Cinta." Ucapnya menegaskan.


__ADS_2