
Sesampainya di rumah, begitu Rafa turun dari mobilnya. Febi dan Joy langsung menatap heran padanya yang harusnya masih di kantor, tapi malah berada di hadapan mereka.
"Bro, Long time no see..." Menghampiri Joy dengan mengulurkan tangannya.
"Yeah..." Menyambut tangan Rafa ragu.
Febi hanya terdiam tidak mengerti. Dia menjadi bertanya tanya, mengapa Rafa bisa mengenal Joy.
"Apa Bro, tumben main kerumah gue." Ucap Rafa ramah.
"Bukankah nama loe Radit?" Tanya Joy bingung.
Pria yang kini berdiri dihadapannya, dikenalnya dengan nama Radit. Seorang penakluk wanita pada zamannya. Selalu membuat Joy kecolongan.
"Right, Rafa Aditya. Gue gabung nama gue jadi Radit. Supaya lebih mudah diingat sama teman teman." Tuturnya.
Joy mengangguk paham. Lalu dia tersenyum sinis menatap Rafa yang juga tersenyum sini padanya.
"Ada keperluan apa, bro?" Melirik Febi yang salah tingkah.
"Hah, gue tadinya mau bertemu sepupunya Febi." Jawabnya santai.
"Sepupu Febi?"
"Iya. Cinta Indira."
"Kenapa mencarinya ke sini? Bukankah harusnya loe cari dia kerumah orangtua Febi." Melirik Febi sekali lagi.
"Gue dapat informasi, katanya Cinta tinggal bersama Febi."
Febi menunduk khawatir. Dia takut akan amukan mengerikan Rafa. Tapi, dia juga bingung kenapa Rafa berbohong saat ini.
__ADS_1
"Febi istri loe?" Tanya Joy menyelidik.
Sebentar Rafa terdiam, mulutnya menjadi susah untuk mengatakan iya atau tidak.
"Iya, istri gue." Ucapnya pada akhirnya.
Jawaban itu membuat Febi kegirangan. Sementara Joy merasa Rafa membohonginya dan menyembunyikan sesuatu darinya.
"Jadi, dimana Cinta, Febi?" Menatap tajam wajah bahagia Febi.
"Aku sudah katakan, Cinta ikut suaminya. Dan aku tidak tau dimana tepatnya dia tinggal." Ucapnya berbohong.
'Tidak mungkin Jesika membohongiku. Aku yakin Febi dan Rafa menyembunyikan sesuatu tentang Cinta.' Batinnya.
"Sorry Bro. Gue masuk dulu, ada hal penting yang harus di ambil." Menepuk bahu Joy, lalu melangkah memasuki rumah.
"Febi, jawab jujur pertanyaanku. Dimana Cinta?" Mencengkeram dagu Febi sangat erat.
"Ingat ini. Kalau sampai aku tahu ternyata kamu menyembunyikan Cinta dariku. Aku tidak akan segan segan menghabisimu dan juga Rafa sekaligus." Melepaskan dagu Febi dengan kasar.
Lalu Joy melangkah meninggalkan perkarangan rumah Rafa. Sementara Febi kesal dan marah karena perlakuan Joy padanya yang tidak sopan. Lalu, kemarahan itu juga tertuju pada Cinta, karena Cinta selalu menjadi penyebab masalah dalam hidupnya.
Di kamarnya Cinta sudah selesai bersiap. Baru saja dia hendak membuka pintu, Rafa sudah lebih dulu membukanya. Hingga keduanya bertabrakan.
"Mas?" Kaget dan hampir jatuh, beruntung Rafa menahan tubuhnya erat.
"Sudah siap?"
"Sudah. Tapi, bukankah Hana yang..."
"Hana sibuk. Jadi ke belanjanya bersama aku saja." Menarik lembut tangan Cinta untuk keluar dari kamar.
__ADS_1
"Apa kamu mengidam?" Tebak Rafa datar.
Mendengar itu Cinta. Dia berhenti melangkah.
"Kenapa malah tertawa? Apa ada yang lucu?" Ketusnya tersulut emosi karena tawa Cinta.
Cinta menghentikan tawanya, dia pun langsung menundukkan kepalanya.
"Aku tanya, apa nya yang lucu?" Menarik dagu Cinta agar menatap padanya.
"Aku tidak mengidam, Mas. Hanya saja, aku ingin melakukan sesuatu agar tidak bosan seharian di rumah." Jawabnya ragu.
"Bagus, deh. Kamu belum boleh hamil. Masih banyak hal yang harus kamu kerjakan. Ingat itu!" Menegaskan.
Cinta mengangguk paham. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju super market.
Setibanya di super market. Cinta mulai memilih bahan yang diperlukannya untuk membuat kue. Sedangkan Rafa hanya mengekor dibelakangnya.
"Mas suka puding?" Bertanya pada Rafa sebelum memasukkan satu bungkus bubuk puding kedalam trolinya.
"Beli saja semua yang kamu perlukan. Jangan banyak tanya." Ucapnya sewot.
Mendapat respon seperti itu, membuat Cinta memasukkan setiap bahan kue yang ditemukannya. Entah mengapa semakin Rafa sewot dan kesal padanya, Cintapun semakin bersemangat untuk berbuat semaunya.
"Kamu mau membeli sebanyak ini?" Tanya Rafa kaget melihat troli penuh dengan semua bahan bahan untuk membuat kue.
Cinta mengangguk cepat. Rafa menatap tajam padanya, lalu memukul pelan dahi Cinta dengan telunjuknya.
"Awh, kenapa? Apa uang Mas tidak cukup untuk membayar semua ini?" Ujar Cinta sedikit kesal.
"Jika kamu mau super market ini bisa aku bayar sekalian." Mengambil alih troli dari tangan Cinta. Dia mendorongnya menuju kasir.
__ADS_1
Cinta mengekor dibelakangnya sambil bersemu kesal dan menggerutu. Tangannya mengepal dan merasa geram ingin memukul punggung Rafa yang sombong itu.