Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 73


__ADS_3

Di Singapur, Joy berusaha menyembunyikan diri. Dia sudah tahu ternyata Reyhan bekerja sama dengan Rafa. Joy juga sudah mendapat telepon dari suruhannya yang mengabarkan bahwa semua video pembunuhan yang dilakukannya sudah sampai ketangan Ayahnya.


"Aargghrhh..." Teriaknya kesal dan marah.


Joy terlihat sangat berantakan. Saat ini dia bersembunyi di salah satu kamar hotel berbintang dengan memalsukan identitasnya.


Berbeda dengan Joy. Di Jakarta, Febi tengah merasa ketakutan. Dia mendapat teror dari orang misterius. Dia dikirimi kotak foto dirinya yang dilumuri darah serta kumpulan anak anak tikus dan tulisan yang menyatakan dirinya pembunuh.


"Ma, kita harus lapor polisi. Aku takut." Teriaknya dari dalam kamar.


"Iya sayang. Tapi kamu harus tenang dulu. Mama janji akan melindungi kamu." Teriak Fita dari luar kamar.


Dia mencoba meneliti, siapa kira kira yang meneror anaknya. Lalu, pembunuhan apa yang dimaksudnya.


"Aku harus menelpon mas Satria." Mengambil ponselnya dan langsung menelpon.


"Mas, pulanglah dulu. Febi diteror lagi." Ucapnya terburu buru.


"Aku tidak bisa pulang dalam waktu dekat. Kamu tahu, aku menjadi buronan saat ini." Jelasnya.


"Buronan apa?" Tanya Fita tidak mengerti.

__ADS_1


"Kamu tahu, Tuan Lim sudah tahu kalau Joy yang membunuh putranya. Saat ini dia melaporkan semua orang yang mendapatkan saham dari Joy, sebagai tersangka penggelapan saham perusahaannya." Jelasnya terburu.


Fita hanya terdiam. Matanya melotot tajam. Dia tidak menyangka, hanya dalam hitungan bulan, semuanya hancur berantakan. Hancur berkeping keping. Tidak ada yang tersisa.


Sementara itu, Rafa yang tadinya sedang menikmati makan siang bersama istri tercinta, harus berhenti sejenak. Dia merasakan mual teramat sangat sehingga muntah berkali kali.


Cinta panik, dia hendak memanggil pak Bay, untuk membantu membawa Rafa ke rumah sakit.


"Jangan, tidak usah sayang." Menahan tangan Cinta agar tetap di sampingnya.


"Tapi Mas sudah terlalu banyak muntah. Siapa tahu ada makanan yang menyebabkan mas muntah muntah seperti ini." Ujarnya khawatir sambil mengurut pelan punggung Rafa.


Rafa menggeleng, lalu kembali muntah. Cinta sangat khawatir. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu Rafa berhenti muntah muntah.


Rafa selesai muntah. Dia begitu lemah hingga akhirnya rebah dalam pelukan Cinta.


"Bantu Mas berjalan ke kamar, ya!" Ucapnya lemah.


Cinta mengangguk. Lalu dia memapah pelan tubuh Rafa menuju kamar bawah tangga yang jaraknya dekat dengan dapur.


Begitu tiba di kamar, Rafa meminta untuk berbaring dipangkuan Cinta. Kepanya berbantal pada paha Cinta. Tangan Cinta mengelus lembut rambut dan dahi Rafa.

__ADS_1


"Mas kenapa?" Bertanya lagi.


"Ini penyebabnya." Mencium perut Cinta.


"Maksudnya?" Tidak mengerti.


"Bukankah sayang sedang mengandung saat ini?" Tanya Rafa.


"Iya." Jawabnya singkat.


Rafa menengadahkan pandangannya untuk menatap mata Cinta. Bibirnya tersenyum seakan mengatakan sesuatu. Dan akhirnya Cinta mulai mengerti.


"Mas mengalami yang seharusnya aku rasakan?" Tanya Cinta untuk lebih meyakinkan dirinya lagi.


"Iya sayang. Mas mengambil alih bagian yang tidak mengenakkan ini. Tapi mas suka." Uangkapnya dengan kembali mencium perut Cinta.


Senyum bahagia terlihat indah diwajah Cinta. Betapa dia semakin mencintai suaminya. Perlahan dia menurunkan wajahnya, hingga ujung hidungnya dapat menyatu dengan ujung hidung Rafa. Mereka saling menatap dan tersenyum bahagia.


"Apapun itu yang mas rasakan, asalkan sayang selalu ada di sini, Mas akan dengan senang hati menerimanya."


Hati Cinta terasa hangat. Kehangatan itu bahkan terasa luar biasa, hingga dirinya merasa saat ini sedang tidak menapak lagi di tanah.

__ADS_1


"Teruslah disampingku hingga kita menua bersama." Sambung Rafa dengan menarik pelan wajah Cinta agar bisa mencium bibirnya.


__ADS_2