
"Sayang, kok belum berangkat?" Tanya Cinta heran melihat Rafa yang kembali berbaring di tempat tidurnya.
"Rasanya kepala Mas pusing, sayang." Rengeknya manja.
Cinta terdiam mendengar Rafa menyebut dirinya dengan kata Mas. Hati Cinta merasa sangat senang. Lalu Cinta mendekat untuk memeriksa suhu tubuh Rafa yang ternyata sangat dingin.
Cintapun menyelimuti tubuh Rafa dengan selimut berlapis, lalu mengelap keringat dingin yang membanjir di kening Rafa.
"Sayang, peluk dong." Ucapnya menggigil.
Langsung Cinta memeluk tubuh Rafa yang berlapis tiga selimut tebal itu. Rafa menyembunyikan kepalanya dalam ceruk leher Cinta. Tingkah manja Rafa sangat menggemaskan membuat Cinta merasa bahagia.
"Mas butuh obat pereda sakit kepala?"
"Tidak. Mas cuma butuh sayang disini memeluk Mas sampai Mas sembuh." Ucapnya manja dan itu terdengar lebih menggemaskan lagi.
Satu jam
Dua jam
Tiga jam
Tepat pukul satu siang Cinta terbangun. Dilihatnya Rafa masih tertidur dalam pelukannya. Keringatnya membanjir di kening. Cinta pun memeriksa suhu tubuh Rafa yang mulai normal. Lalu, dia membuka setiap lapisan selimut dari tubuh Rafa secara perlahan agar tidak mengganggu tidurnya.
Kemudian, Cinta mengganti baju Rafa yang sudah basah oleh keringat. Tidak lupa Cinta mengelap tubuh Rafa dengan handuk basah, baru kemudian memakaikan pakaian bersih. Setelah selesai, barulah Cinta membersihkan diri untuk segera melaksanakan sholat zuhur.
Rumah terasa sunyi. Entah kemana pergi para Maid. Tidak satupun dari mereka terdengar mengetuk pintu kamar untuk membangunkan Tuan dan Nyonya mereka itu. Bahkan, mereka tidak memasak apapun hari ini. Yang mereka lakukan hanya berdiam menunggu Tuan dan Nyonya mereka terbangun.
Terutama Imah. Dia sangat khawatir, karena seharian tidak mendengar suara dari Cinta. Dia sangat takut kalau terjadi sesuatu pada Cinta di dalam kamar itu. Terlebih Febi mengatakan, kalau dia mendengar suara jeritan Cinta meraung kesakitan.
Ya, Imah pun tau, Tuannya itu tidak segan segan dalam menghukum siapapun yang membuatnya kesal dan tidak mau mengikuti semua aturannya.
"Kasihan Nyonya. Ya Allah, selamatkan Nyonya dari amukan Tuan. Lembutkan hati Tuan, agar dia bisa melihat betapa tulusnya Nyonya." Ucapnya mendoakan.
"Bik, kenapa melamun." Menepuk bahu Imah.
Imah kaget langsung berdiri dan menoleh pada sumber suara.
"Nyonya?" Panggilnya sambil menatap setiap inci tubuh Cinta.
Namun, yang ditatap malah merasa aneh dengan senyum pun mengembang di wajahnya.
"Nyonya baik-baik saja? Apa Tuan menyiksa Nyonya?" Tanya Imah Khawatir.
"Bibik bicara apa? Saya baik baik saja loh. Tuan yang sedang tidak baik." Tuturnya menjelaskan.
"Tuan kenapa?"
__ADS_1
"Demam. Ini saya mau tanya, bibik ada obat herbal yang bisa membuat tubuh hangat tidak?" Tanya Cinta yang sangat tidak mengerti obat obatan herbal.
"Ada Nyonya. Sebentar saya buatkan. Nyonya tunggu saja di kamar." Sarannya.
"Tidak, saya ikut kedapur. Mau lihat cara bibik membuatnya."
"Baiklah kalau begitu."
Merekapun melangkah menuju dapur dengan semangat. Lalu Imah meracik obat herbal untuk menghangatkan tubuh.
"Selalunya kalau Tuan menggigil dan demam, saya membuatkan minuman ini. Tuan akan sangat senang dan besoknya akan langsung sembuh." Tuturnya menjelaskan.
"Bibik sudah berapa lama bekerja dengan Tuan?"
"Hampir dua belas tahun. Sejak Tuan masih SMA."
"Apa saat SMA Tuan sudah tinggal sendiri di rumah ini?"
"Iya. Tuan tinggal sendiri. Dia tidak suka hidupnya diatur atur oleh siapapun termasuk kedua orangtuanya." Jelas Imah.
"Dulu Tuan sangat pemarah, emosian. Dan suka menghukum sipapun yang tidak mau mengikuti keinginannya. Yah, dulu Tuan Rafa sangat menakutkan." Sambungnya.
"Menakutkan seperti apa, bik?" Semakin ingin tahu seperti apa Rafa dulunya.
"Tapi Nyonya jangan bilang sama Tuan Rafa tentang apa yang saya katakan."
Imah pun mulai menceritakan banyak hal tentang Rafa. Termasuk tentang kekasih kekasih Rafa yang juga pernah dibawanya ke rumah ini. Tidak lupa Imah juga memberitahu tentang satu ruangan yang sangat rahasia selain dari kamar bawah tangga.
Sebenarnya ruangan ini sangat rahasia dan tidak ada yang boleh memberitahukan pada penghuni baru dirumah ini. Tapi, karena Imah percaya, Cinta seorang yang baik dan jujur, makanya Imah pun menceritakan tentang ruangan merah tersebut.
"Saya juga tidak begitu tahu. Tapi, Tuan selalu membawa kekasihnya ke ruangan itu saat berkunjung ke rumah ini."
Cinta terdiam. Dia tidak sepolos itu untuk tidak mengerti arti ruangan merah tersebut.
"Hanya kekasihnya yang diizinkan masuk ke ruangan itu. Dan disana juga dilengkapi cctv. Tapi, cctv khusus yang bahkan dipasangkan alarmnya."
"Begitukah?"
"Iya, begitulah Nyonya. Tapi, sejak Tuan menikahi Nyonya. Tuan tidak pernah sekalipun lagi masuk ke ruangan itu. Dan ruangan itu sudah di segel oleh Tuan. Seperti, sudah akan dimusnahkan." Jelasnya.
"Bibik tahu ruangan itu dimana?"
"Tahu Nyonya. Karena saya penasaran, jadi iseng ikuti Tuan diam diam dari belakang." Bisiknya.
"Maukah bibik menunjukkan jalannya pada saya?"
Sebentar Imah terdiam. Dia ragu untuk mengiyakan atau menolak. Semuanya serba salah menurutnya.
__ADS_1
"Tapi Nyonya harus menjaga rahasia ini selamanya."
"Iya bik. Saya akan merahasiakan hal ini selamanya." Ucapnya meyakinkan.
Akhirnya, Imah dan Cinta mengendap endap melangkah perlahan mencoba tidak terlihat di cctv. Tanpa mereka sadari, Rafa dapat melihat kekonyolan istri dan Maid nya itu.
Mata Rafa terus menatap layar, memperhatikan arah langkah keduanya yang mengarah ke ruangan merah rahasia. Mata Rafa terbelalak merah. Dia tidak menyangka Imah akan membawa Cinta ke ruangan itu.
Dengan langkah lemah, Rafa akhirnya mengikuti Imah dan Cinta dari belakang tanpa ketahuan.
Begitu tiba di depan pintu ruangan merah itu, Imah terdiam sejenak. Lalu dia menatap wajah khawatir Cinta.
"Bik, kita kembali ke dapur saja. Saya takut kalau sampai ketahuan, Tuan akan marah dan kita akan mendapat hukuman."
"Benarkah Nyonya ingin kembali?"
"Iya bik. Saya tidak ingin membuat kepercayaan tuan sirna. Semua perlakuan Tuan sudah sangat baik dan cukup untuk saya. Saya tidak ingin membuat Tuan marah dan merasa tidak dihormati." Jelasnya.
Imah mengangguk paham. Kemudian mereka melangkah kembali ke dapur. Meninggalkan Rafa yang masih berdiri bersembunyi di depan ruangan merah itu.
"Good choice Cinta. Kamu selamat kali ini." Ucap Rafa membuat suasana menjadi sangat mencengkam.
Lalu, diapun melangkah bergegas kembali ke kamarnya. Tepat saat Rafa tiba di kamar, Cinta pun tiba membawa segelas obat racikan dari bik Imah.
"Sayang sudah baikan?" Tanya Cinta mendekat.
Dia meletakkan gelas itu diatas nakas, lalu menyentuh kening Rafa untuk memastikan suhu tubuhnya.
"Minum obat herbalnya, sayang. Agar lebih hangat." Mengulurkan pada Rafa.
Rafa hanya diam menerima gelas itu, lalu meminumnya hingga habis. Tapi, matanya menatap tajam setiap pergerakan Cinta.
Cinta mulai menyadari hal itu merasa khawatir dan mulai takut. Dia mulai merasa Rafa memperhatikannya seakan dia telah membuat kesalahan yang tidak termaafkan.
'Apa Tuan tahu, aku hampir masuk ke ruangan merah itu.' Batinnya.
"Kemarilah..." Mengulurkan tangannya.
Matanya masih menatap tajam pada Cinta dengan tatapan dingin.
Dengan ragu Cinta mendekat dan menyambut uluran tangan Rafa. Begitu tangan keduanya bersatu, segera Rafa menarik tubuh Cinta masuk dalam dekapannya.
"Jangan melangkah terlalu jauh. Tetap diam disini, dimana aku perintahkan kamu untuk diam." Tegasnya sambil mengecup puncak kepala Cinta.
"Maafkan saya, Mas." Melingkarkan tangannya erat dipunggung Rafa.
Rafa pun melakukan hal yang sama. Dia memeluk Cinta sangat erat namun penuh kasih. Pelukan yang menggambarkan pernyataan bahwa Rafa tidak ingin kehilangan Cinta dan tidak ingin Cinta tersakiti.
__ADS_1