
Malam ini Jack dan Rafa tidak pulang. Mereka masih harus menemukan keberadaan Riko dan mencari kemana Riko mentransfer uang perusahaan dengan total hampir satu miliyar rupiah.
"Tuan, coba lihat ini." Meminta Rafa melihat penemuannya dilayar komputernya.
"Ini akun milik Jesika. Aku masih ingat dia pernah menggunakan akun ini untuk mengancamku. Cepat lacak keberadaanya."
Jack langsung meretas akun yang mereka tebak merupakan akun milik Jesika. Setelah beberapa saat Jack menelusuri akun itu, dan betapa mengejutkan ternyata akun itu dikelola oleh Riko. Senyum geram terlihat diwajah Jack. 'Rupanya orang orang ini saling berkaitan.' Batinnya.
Sementara itu, Rafa sedang bicara dengan salah satu klien yang merasa dirugikan karena uangnya hilang begitu saja dibawa kabur oleh Riko. Dia meminta Rafa segera mengganti semua kerugiannya.
"Saya akan mengusahakan untuk mengembalikan uangnya dalam waktu tiga hari." Rafa menjanjikan hal itu pada Kliennya.
Usai pembicaraan itu, Rafa menghela napas panjang. Dia benar benar lengah selama ini. Merasa semuanya sudah aman dari kekacauan. Rupanya kediaman Febi, Jesika dan Joy selama dua tahun ini hanya untuk membuatnya lengah, sehingga mereka bisa dengan mudah menghancurkan perusahaannya.
__ADS_1
"Tuan, aku berhasil menemukan keberadaan Riko dan Jesika. Saat ini mereka berada di Bali. Apa yang harus kita lakukan?"
"Kita berangkat ke Bali sekarang." Berdiri dan mulai melangkah untuk segera berangkat ke Bali. Jack pun hanya mengikuti instruksi Rafa. Meski sebenarnya dia sangat merindukan Jaya karena seharian ini tidak melihat wajah mungilnya.
Dan saat ini Hana bersama Cinta sudah berada di rumah lama Cinta. Mereka disambut baik oleh pemilik rumah itu. Cinta pun mulai menceritakan maksud kedatangannya ke rumah itu. Pemilik rumah itu malah menangis mendengar permintaan Cinta untuk membeli rumah mereka.
"Buk, jika ibu keberatan menjual rumah ini, tidak apa apa." Menyentuh punggung tangan wanita setengah baya itu.
Sebentar Cinta menatap Hana yang juga menatap padanya. Hana mengangguk pelan seakan memberi isyarat agar Cinta mulai negosiasinya dengan wanita itu.
"Buk, saya akan memberikan uang yang cukup untuk biaya pengobatan putra ibu. Dan ibu boleh menempati rumah ini selamanya." Menyodorkan gambar rumahnya lengkap dengan alamatnya.
Mata wanita itu terperangah melihat rumah yang lebih tepatnya bisa disebut istana itu. Kemudian, Hana menyodorkan surat kontrak perjanjian diantara mereka.
__ADS_1
"Apa ini?" Tanya wanita itu dengan perlahan mengambil selembar kertas berisi kontrak perjanjian.
"Itu surat kontrak perjanjian. Ibu bisa membacaya terlebih dahulu. Jika ibu setuju dengan isi kontrak itu, makan kita bisa langsung menandatangani kontraknya." Jelas Hana.
Segera saja wanita itu membaca isi kontrak yang menyatakan, bahwa Cinta akan memberikan sejumlah uang tunai untuk biaya pengobatan putranya. Lalu, ibu dan keluarganya harus langsung pindah ke rumah Rafa dengan hanya membawa pakaian mereka saja. Sedangkan perabotannya, mereka bisa mengambil semua yang ada di rumah Rafa. Karena Rafa dan Cinta juga hanya akan membawa pakaian mereka dan file file penting perusahaan tentunya. Selebihnya menjadi hak milik wanita itu.
Membaca kontrak perjanjian itu membuatnya terharu. Dia pun langsung menghubungi suaminya yang saat ini berada dirumah sakit. Wanita itu memperlihatkan kontrak perjanjian itu melalui photo pada suaminya. Setelah sesaat mereka berunding, akhirnya negosiasi tersebut berhasil.
"Tapi ingat satu hal buk. Jika rahasia ini sampai bocor, saya akan mengambil kembali rumah saya dan juga rumah ini sekaligus." Cinta menegaskan.
"Saya janji mbak Cinta. Saya dan suami akan secara diam diam pindah dari rumah ini. Kami akan menjaga rahasia ini selamanya." Hendak berlutut berterimakasih pada Cinta. Tapi sebelum itu terjadi, Cinta sudah lebih dulu memegangi kedua belah bahu wanita itu agar tidak berlutut padanya.
"Misi selesai." Ucap Hana pelan melalui ponselnya. Lalu dia mengirimkan hasil kerjanya malam ini pada Jack.
__ADS_1