Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 63


__ADS_3

"Tuan, sepertinya Rafa mengetahui hal ini!" Memperlihatkan layar yang menunjukkan keadaan rumah Rafa saat ini.


"Oh rupanya Rafa menjebakku." Mengepal erat tinjunya.


"Matikan semua pernangkat itu. Jangan sampai virusnya masuk sedikitpun." Memerintah dengan buru buru.


Segera semua perangkat itu dimatikannya. Lalu, Joy melangkah mengambil tongkat golf, dipukulnya kuat semua perangkat penyadapnya. Dia mengamuk sejadi jadinya karena kesal Rafa mengetahui semua pengawasannya.


"Kalian pergi sekarang juga, jemput Cinta ke rumah itu. Buatlah seakan terjadi penculikan." Perintahnya.


"Baik tuan, akan kami laksanakan." Segera suruhannya itu pergi untuk menculik Cinta.


Sedangkan saat ini Cinta sedang mengingat semua masa lalunya. Dia berbaring diatas kasur bersprei putih nan empuk dan sangat nyaman. Berbaring di kasur itu membuat Cinta merasa seperti berbaring dalam pelukan Rafa.


"Apa sebenarnya yang terekam dalam kamera itu?" Mengingat kamera yang tadi di bawa Hana. Cinta menemukan kamera itu di kamar ini, di dalam sebuah kotak khusus yang menyimpan semua benda yang berhubungan debgannya.


"Dari mana Rafa menemukan semua ini?" Melirik kearah kotak itu.


Cinta ingat kamera itu adalah kamera yang dipasang Ayahnya di mobil. Katanya untuk merekam kejadian yang mungkin tiba tiba terjadi.


"Ayah, kenapa mobilnya dikasih kamera?" Tanya Cinta heran.


"Kamera ini untuk menjaga mobil dan perjalanan kita, sayang. Jika terjadi sesuatu, kamera ini akan memberitahukan pada semua orang apa yang sebenarnya terjadi." Jelas Ayah sambil menarik tubuh Cinta untuk digendongnya.


"Jadi kalau ada maling atau orang jahat, kameranya akan merekam kejadian itu, sayang." Sambung Bunda.


Cinta mengangguk paham. Lalu dia mendapat ciuman dari ayah dan bunda dikedua pipi tembemnya.


Air mata Cinta menetes. Ingatan masa masa itu sangat indah. Cinta merasa bersyukur, karena masih diizinkan mengingat kembali apa yang pernah terlupakan olehnya.


"Ayah, bunda... Cinta akan berjuang untuk mengambil semua hak milik kita yang sudah mereka rampas."


"Nyonya... nyonya..." Panggil Imah dari luar kamar.


"Ada apa Bik?" Membuka pintu.


Imah segera menarik Cinta kembali masuk kekamar, lalu segera mengunci pintu kembali.


"Ada apa, Bik?" Tanya Cinta bingung.

__ADS_1


"Diluar ada dua orang pria mencurigakan, mereka bergerak perlahan. Penjaga dan juga pak Bay sudah dibuatnya pingsan. Sementara maid lainnya sudah tidur nyenyak. Sepertinya mereka akan segera masuk." Jelas Imah teburu buru menahan rasa takut.


"Tenang bik. Aku bisa mengatasi mereka." Hendak membuka pintu,


"Jangan Nyonya. Mereka sangat berbahaya." Cegah Imah.


Sebentar Cinta terdiam, dia melirik beberapa barang yang ada di kamar itu. Dia mulai mengambil beberapa barang yang dirasa bisa dimanfaatkan untuk menjadi senjata melawan para penjahat.


"Bik, bantu saya. Kita akan membuat bom waktu bohongan." Ucapnya begitu semangat.


Cinta mulai merakit bom waktu dengan menggunakan alat penyedot debu tipis miliknya. Dia memanfaatkan barang barang itu dengan cekatan tanpa keraguan, seakan sudah sering melakukan hal seperti itu.


"Nyonya belajar dari mana membuat seperti ini?" Tanya Imah.


"Hal seperti ini sering aku lakukan bersama ayah saat masih kecil." Tuturnya santai.


"Nyonya sudah mengingat masa kecil Nyonya?" Sambil membantu Cinta menyambungkan sebuah kabel pada penyedot debu itu.


"Sudah bik. Hampir semuanya, kecuali saat mobil kami tiba tiba kecelakaan. Yang aku ingat hanya saat bunda mencoba melindungiku dengan tubuhnya, hingga membuat bunda mendapat banyak luka pecahan kaca ditubuhnya. Sedangkan ayah, dia mencoba melindungi aku dan bunda..." Menceritakan kejadian itu pada Imah sambil menahan air matanya.


"Maafkan saya Nyonya." Mengelus pelan punggung Cinta untuk menenangkannya.


Bibbiibbbiii...


Suara alrm pintu yang ditekan oleh kedua pria itu. Imah khawatir. Dia memeluk erat tubuh Cinta untuk melindunginya.


"Bik, tenanglah. Lepaskan aku." Melepaskan diri dari pelukan Imah.


Cinta membawa rakitan bom waktu miliknya yang sudah jadi. Perlahan dia melangkah mendekati pintu.


"Coba lagi. Aku yakin, Cinta ada didalam." Ucap mereka mencoba menekan tombol yang benar.


"Salah lagi..." Kesal dengan memukul kuat tombol password pintu.


Cinta mendengar semua omongan mereka. Lalu dia memerintahkan bik Imah untuk merunduk bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.


Tanpa protes, Imah langsung masuk kebawah kolong tempat tidur. Sedangkan Cinta sudah memasangkan bom waktu buatannya di depan pintu.


Lalu Cinta membuka pintu itu dan segera bersembunyi di balik pintu itu.

__ADS_1


Kedua pria suruhan Joy, bingung karena pintu terbuka sendiri. Meski begitu, mereka langsung masuk dan mengobrak abrik isi kamar, hingga akhirnya, bom waktu yang dibuat Cinta mulai aktif dan setiap perubahan angka pada waktunya terdengar jelas menggema diseluruh ruang kamar.


"Bom bom bom..." Teriak salah satu pria itu menghambur naik keatas temlat tidur Cinta dan menyembunyikan wajahnya dibawah selimut.


"Gillaaa, bom ini aktif." Hendak mengambil bom itu. Tapi, sebelum sempat dia mengambilnya, dengan tiba tiba Cinta memukul bagian belakang leher pria itu dengan tongkat bisboll yang ditemukannya di balik pintu.


Braakkk...


Tubuh pria itu jatuh kelantai. Mungkin lehernya patah. Pada saat itulah bik Imah keluar dari bawah kolong tempat tidur dengan menarik sprei kuat kuat, hingga membuat tubuh pria itu jatuh dan kepalanya terhantuk ke tembok.


"Nyonya tidak apa apa?" Menghampiri Cinta.


"Bik..." Teriak Cinta kaget saat pria itu melangkah nendekat kearah mereka.


Dengan sigap Cinta menendang ************ pria itu hingga akhirnya dia tumbang.


"Nyonya, bom akan meledak." Ucap Imah khawatir dan ketakutan.


Angka pada bom waktu buatan Cinta sudah menjadi angka satu.


"Lantai bersih, lantai bersih." Suara dari bom waktu itu.


Cinta tersenyum, bik Imah terduduk lemah dilantai. Sedangkan kedua pria yang sekarat itu mengutuk diri mereka sendiri yang dengan gampangnya percaya pada bom waktu buatan Cinta.


"Bik, ambil tali." Perintah Cinta pada bik Imah.


Tepat saat bik Imah hendak mengambil tali, Rafa berlari masuk kekamar itu dan langsung memeluk tubuh Cinta sangat erat.


"Nyonya ini ta...li." Ucapannya terhenti saat melihat Rafa yang memeluk Cinta.


"Mas? Bukankah Mas masih di semarang?" Tanya Cinta heran.


Rafa tidak menjawab. Dia masih memeluk erat tubuh Cinta. Detak jantungnya terdengar tidak beraturan ditelinga Cinta yang bersandar didada bidangnya.


"Bik, bawa talinya ke sini." panggil Jack yang mengurus kedua pria sekarat itu.


"Ini Jack. Ikat yang erat." Ujarnya dengan pebuh emosi menatap kedua pria itu.


"Kalian akan menjadi umpan yang empuk." Ucap Jack sambil menyimpul erat tali ditubuh kedua pria malang itu.

__ADS_1


__ADS_2